Home » » FILSAFAT SOSIAL SEBAGAI DASAR TEORI SOSIAL

FILSAFAT SOSIAL SEBAGAI DASAR TEORI SOSIAL

Written By Arif Sobarudin on Jumat, 25 Mei 2012 | Jumat, Mei 25, 2012


PENDAHULUAN

Alam pikiran mengenai masyarakat sesungguhnya sama tuanya dengan alam pikiran ilmiah itu sendiri. Masyarakat selalu dikenal dalam pengalaman dan masyarakat selalu menghadapkan manusia pada persoalan-persoalan yang diikhtiarkan oleh manusia itu untuk menjawabnya. Karena dia selalu menghadapkan manusia pada persoalan-persoalan dan masalah-masalah praktis inilah sebabnya masyarakat menjadi buah pikiran.


Dalam alam pemikiran mengenai masyarakat tercerminlah masyarakat itu sendiri sebagai yang dialami, yang dalam perkembangannya melahirkan dua hal yaitu perkembangan dari kenyataan sosial yaitu masyarakat itu sendiri dan perkembangan pemikiran ilmiah. Dan karena pengetahuan yang paling tua adalah filsafat, maka di dalam filsafat itu pastilah dibicarakan tentang masyarakat. Dan karena filsafat lahir di alam pikiran Yunani maka yang pertama-tama perlu dibicarakan adalah alam pikiran Yunani.

Pokok bahasan yang akan diuraikan  pada bab dua ini adalah lahirnya  filsuf-filsuf yang terkenal di era Yunani yaitu Socrates, Plato dan Aristoteles. Ke tiga tokoh  yang menjadi ‘sufi’ di zamannya ini,  akan dibahas secara rinci mulai dari riwayat hidupnya, metode berfikirnya hingga filsafat sosial yang dilahirkannya yang akan menjadi dasar bagi lahirnya teori-teori sosial selanjutnya khususnya teori-teori sosiologi.

Setelah mempelajari uraian pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan mampu :
1.      Menjelaskan tentang riwayat hidup, metode berfikir dan filsafat sosial Socrates.
2.      Menjelaskan tentang riwayat hidup, metode berfikir dan filsafat sosial Plato.
3.      Menjelaskan tentang riwayat hidup, metode berfikir dan filsafat sosial  Aristoteles.
4.      Membandingkan metode berfikir dan filsafat sosial Socrates dengan Plato.
5.      Membandingkan metode berfikir dan filsafat sosial Aristoteles dengan Plato/Socrates.


A.  SOCRATES

1.  Riwayat Hidup
Sufi terbesar ini lahir kira-kira 470 SM, dan meninggal pada tahun 399 SM. Dia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang seniman patung, dan banyak memberikan inspirasi pada cara berpikir Socrates. Dia juga merupakan seorang prajurit pada angkatan perang Athena.

Pada suatu ketika, ia mendapat panggilan suci (devine commision) untuk menunjukkan kearah mana kebenaran harus dikembangkan dan bagaimana menghilangkan kebodohan sesama warga Negara Athena. Sebagai prajurit dalam perang Peloponesus dia pergi dari satu barak ke barak yang lain, dan kepada setiap orang yang dijumpainya dia selalu menanyakan pendaptanya mengenai masalah-masalah sosial dan politik. Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya tidak mengetahui apa-apa, seperti orang lainpun tidak mengetahui apa-apa pula. Oleh karena itu dia berpendapat bahwa yang diperlukan adalah sesuatu penyelidikan yang dapat dipercaya. Dengan penyelidikan itu dicarilah hakekat kehidupan sosial politik yang kemudian melahirkan pemikiran filsafatnya.

Ketika pada suatu hari Oracle Delphy menyatakan bahwa Socrates adalah seorang yang paling bijaksana di Athena, maka dia menjawab: “Hanya satu hal saja yang saya ketahui, ialah bahwa saya tidak tahu apa-apa”. Dari pernyataan inilah Socrates memberi dasar metode berpikir filsafatnya.


2.   Metode Berfikir
Socrates adalah orang pertama yang menggunakan cara berpikir untuk meragukan sesuatu dan mengutamakan pentingnya definisi mengenai sesuatu. Ia berpendapat bahwa langkah pertama untuk mendapatkan pengetahuan adalah dengan lebih dahulu menjelaskan idea-idea dan konsepsi-konsepsi. Definisi yang tepat mengenai istilah-istilah dan konsepsi-konsepsi adalah paling sulit di dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. Akan tetapi definisi ini justru harus difahami lebih dahulu untuk dapat menemukan kebenaran. Secara singkat Socrates berpendapat bahwa definisi adalah merupakan langkah pertama di dalam ilmu pengetahuan. Dari sudut ini Socrates dapat disebut sebagai orang yang pertama menunjukkan perlunya logika sebagai dasar bagi ilmu pengetahuan dan filsafat.


3.   Filsafat Sosial

Kita mengenal pemikiran Socrates hanya melalui tulisan-tulisan Plato   muridnya, dalam bentuk drama timbal cakap. Akan tetapi sesuatu yang tidak perlu diragukan sebagai ajaran Socrates adalah pernyataan bahwa ‘kecerdasan adalah merupakan dasar dari semua keutamaan’, di dalam adat kebiasaan, di dalam lembaga-lembaga sosial dan di dalam hubungan sosial manusia maupun di dalam kehidupan pribadi. Menurut Socrates tabiat yang baik adalah sinonim dari kecerdasan, pengetahuan menjadikan seseorang bijaksana.

Seseorang yang adil misalnya, harus mengetahui hukum dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi, Socrates menyatakan pula bahwa disamping hukum-hukum  manusia terdapat juga hukum Tuhan; dan keadaan adalah kebijakan yang mengalir dari pengetahuan tentang hukum Tuhan. Socrates mengajarkan bahwa kebajikan dalah sesuatu yang dapat dicapai dengan kecerdasan manusia. Apabila kita hendak membangun masyarakat dengan berhasil, maka kita harus membangun dengan landasan ilmu pengetahuan.

Kritik yang pertama terhadap pemikiran Socrates adalah bahwa ia terlalu intelektualistik. Kenyataannya, orang-orang cerdik pandai, sekalipun mereka banyak mengetahui kebenaran akan tetapi mereka banyak pula melakukan kesalahan. Tentang hal ini Socrates menjawab, bahwa mereka memang tidak akan dapat mengetahui benar bagimana mereka dapat mencapainya. Akan tetapi bilamana suatu pengetahuan dilaksanakan, orang tidak akan melakukan kesalahan yang lebih jauh.


B.  PLATO

1.   Riwayat Hidup

Plato dilahirkan kira-kira 427 SM. Dan meninggal pada tahun 347 SM. Ia berasal dari keluarga bangsawan Athena yang sangat memuliakan kaumnya.

Sesudah Socrates meninggal, Plato merantau ke berbagai negeri seperti Mesir, Asia, Sisilia dan Italia bagian selatan, dimana dia kemudian berkenalan dengan pemikiran Phythagoras. Pada tahun 387 SM, ia kembali ke Athena dan mendirikan suatu sekolah yang terkenal dengan nama ‘Academia’ yang karena banyak menarik pemuda-pemuda terpelajar Yunani, dapat disebut sebagai Universitas pertama di Eropa
Terdapat tiga buah bukunya yang paling terkenal yaitu :
1.      The Republic.
The Republic merupakan usaha pertamanya yang besar untuk menggambarkan suatu masyarakat ideal di mana keadilan dapat diwujudkan.
2.      The Laws yang merupakan buku yang membuat garis besar konstitusi sosial politik.
3.      The Statesman (Negarawan) yang membuat suatu diskusi tentang konstitusi politik.



2.   Metode Berfikir

Dia mengembangkan metoda dialektika Socrates, dengan memulainya dan menguji konsep-konsep pikiran. Kita dapat mengenal ‘manusia’ misalnya, melalui cara mengenal pengertian umum tentang manusia, inilah yang disebut dengan ‘Platonic idealism’, yang sebagai suatu metoda berpikir biasa disebut ‘Conseptualism’, suatu doktrin yang mengajarkan bahwa kebenaran harus diperoleh dengan menguji atau membuktikan konsep-konsep. Metoda berpikir Plato ini (dan juga Socrates), bertolak belakang dengan metoda yang dipergunakan oleh ilmu-ilmu pengetahuan modern. Plato berpendapat bahwa kebenaran universal tidak dapat dicapai melalui pengertian-pengertian tentang gejala-gejala yang nampak.

Plato adalah pencipta ajaran ‘serbacita’ (ideenleer), karena itu filsafatnya disebut ‘idealisme’. Diapun beranggapan bahwa pengetahuan yang diperoleh melalui pengamatan atas gejala-gejala yang nampak, adalah bersifat relatif. Kebajikan tidak mungkin ada tanpa memiliki pengetahuan dan pengetahuan tidak dapat hanya terbatas pada pengamatan saja. Sebab pengetahuan itu dilahirkan oleh ‘alam bukan benda’, melainkan alam sebacita. Contohnya cita atau konsep tentang kuda yang memiliki semua sifat kuda dalam bentuk yang murni, tidak dapat diamati di dunia ini. Kuda kita lihat berbeda satu sama lain dalam bentuk, warna, dan sifatnya.  Kuda dalam bentuk yang murni dan sempurna ada di idealisme pikiran manusia, sedangkan dalam kenyataannya kuda dikenali dalam keadaan yang kurang sempurna di dunia ini.  

Jadi serbacita itu adalah pengertian-pengertian yang sudah ada pada saat manusia lahir. Mencari pengetahuan berarti menimbulkan kembali ingatan-ingatan dan tata tertib dari kerinduan jiwa kita akan dunia sebacita, dimana jiwa kita dahulu berada.

3.   Filsafat Sosial

The Republic sebenarnya bernilai sebagai tulisan tentang etika sosial, mengenai masyarakat ideal, The Republic itu sebagai tulisan pertama dan terbesar yang bersifat sosiologis. Plato menganggap bahwa masyarakat ideal adalah merupakan perluasan dari konsep tentang individu manusia.

Menurut Plato manusia pada dasarnya memiliki tiga sifat tingkatan kegiatan yaitu
    1. The Appetites or the senses (nafsu atau perasaan-perasaan)
    2. The Spirit or the will (semangat atau kehendak-kehendak)
    3. Inteligence, reason, and judgment (kecedasan atau akal)

Berdasarkan tiga elemen aktivitas individu tersebut plato kemudian menyusun suatu masyarakat ideal di dalam tiga lapisan atau kelas yaitu :
    1. Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk memperoleh pemuasan nafsu dan perasaannya.
    2. Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk memperoleh penghormatan dan perbedaan sebagai manifestasi dari pada spirit or will
    3. Mereka yang mempersembahkan hidupnya untuk pemeliharaan akal atau kecerdasan untuk mengajar kebenaran.

Berdasarkan tiga lapisan sosial Plato kemudian merumuskan tiga kegiatan lapisan sosial. Ketiga aktivita lapisan sosial itu adalah :
    1. Mereka yang mengabdikan hidupnya bagi pemenuhan nafsu dan perasaan, bertugas untuk menghidupi atau memelihara masyarakat. Mereka ini adalah kelas pekerja (manual work), yang meliputi pekerja-pekerja di sektor pertanian dan industri yang harus mendukung dan menghidupi dua kelas yang lain. Kepada kelas inilah didalam masyarakat ideal Plato, diberi hak-hak yang penuh dan istimewa sebagai seorang warga negara yang diperolehkan memiliki kekayaan pribadi, oleh karena berfungsi menyediakan atau memprodusir barang-barang kebutuhan hidup seluruh anggota masyarakat.
    2. Mereka yang hidupnya diabdikan untuk memperoleh penghormatan dan perbedaan sebagai manifestasi dari spirit or the will bertugas untuk melindungi masyarakat dari serangan yang datang dari luar maupun dari dalam masyarakat itu sendiri. Mereka ini adalah kelas militer (a citizen soldier class). Mereka inilah warga negara dalam pengertian yang sesungguhnya. Mereka adalah gambaran dari masyarakat komunis yang sempurna dan tidak memiliki kehidupan yang bebas dan ganjaran mereka satu-satunya adalah penghormatan yang diberikan masyarakat dan kemenangan-kemenangan perang.
    3. Mereka yang mempersembahkan hidupnya untuk memelihara akal atau kecerdasan bertugas untuk memerintah dan memimpin masyarakat disebut sebagai kelas penguasa (magistrates or guardian class). Kelas ini terutama diangkat dari kelas militer melalui seleksi dalam kemampuan dan kecerdasan otaknya. Mereka tidak hanya menjadi filosof dan negarawan, tetapi lebih dari itu juga seorang guru.

Meskipun Plato membagi masyarakat ke dalam 3 kelas sosial, tetapi tidak berarti bahwa pembagian tersebut merupakan lapisan yang tertutup setiap orang mempunyai kesempatan yang sama di dalam masyarakat.Plato menghendaki masyarakat yang ideal itu yakni aristokratis di bawah kaum intelek di mana kekuasaan dan pengawasan akan dipegang oleh kelas yang berpendidikan dan berkecerdasan tinggi.

Yang terpenting bagi studi sosiologi dalam buku Plato The Republic adalah konsepsinya tentang keadilan (justice). Hanya di dalam masyarakat tertentu, Kata Plato, keadilan dapat direalisir. Orang yang adil hanya dapat ada di dalam masyarakat adil. Dengan demikian konsepsi Plato tentang keadilan adalah merupakan konsepsi sosial.

Dalam bukunya ’The Laws’ Plato hanya memuat garis besar konstitusi politik. Di dalam buku ini tahap perkembangan sosial. Plato mengemukakan perkembangan masyarakat melalui lima tahap yaitu :
    1. Tahap kehidupan masyarakat yang terisolir di dalam masyarakat pemburu dan yang hidup di padang-padang rumput.
    2. Masyarakat yang Patriarchal di mana keluarga-keluarga tersusun ke dalam ikatan-ikatan klan dan suku-suku, tetapi masyarakat ini masih hidup di padang-padang sebagai masyarakat pemburu dan penggembala.
    3. Masyarakat petani yang sudah mulai mendiami desa-desa pertanian
    4. Masyarakat yang hidup di kota-kota perdagangan
    5. Masyarakat yang hidup di kota yang mapan seperti Sparta atau Athena

Plato adalah pencipta pertama dari pada ide tentang komunisme, dia hanya membatasi komunismenya pada dua lapisan atas dalam masyarakat. Menurut pendapatnya terdapat banyak persamaan antara ide komunisme Plato dengan komunisme Rusia, yaitu :
    1. Keduanya membenci perdagangan dan ekonomi uang
    2. Keduanya menaruh perhatian pada persoalan hak milik sebagai satu-satunya sumber semua kejahatan dan kebusukan
    3. Keduanya menghendaki hapusnya kemakmuran dan hak milik perseorangan
    4. Keduanya menghendaki pengawasan kolektif bagi anak-anak
    5. Keduanya menghendaki pengawasan semua ilmu pengetahuan dan ideologi bagi kepentingan negara
    6. Keduanya memiliki ajaran dogmatis yang menghendaki agama negara terhadap mana semua aktivitas harus di-subordinasikan kepadanya.

Plato adalah pencipta pertama tentang kesamaan sosial yang mutlak antara wanita dan laki-laki, dan perlunya pengawasan terhadap perkawinan. Disamping itu Plato adalah orang pertama yang menghargai ilmu pengetahuan dalam masyarakat. Ia menunjukkan bahwa tidak saja perlu adanya leadership yang cakap tetapi ia menunjukkan pula keuntungan sosial dari pada pemerintah oleh orang-orang bijaksana (para cendekiawan). Fasisme modern barang kali merupakan suatu bentuk modern berdasarkan konsep plato. Hanya saja berbeda dari komunisme Rusia Plato sebaliknya mengatakan bahwa setiap masyarakat harus selalu terdapat susunan-susunan kelas yang bersifat natural.

Plato menekankan adanya perbedaan-perbedaan antara individu-individu dan kelas-kelas sosial ciptaannya terlampau kaku. Perbedaan antara kelas-kelas tersebut lebih bersifat gradual dari pada bersifat kualitatif.


C.  ARISTOTELES

1.   Riwayat Hidup

Filsuf ini dilahirkan pada tahun 384 SM, di Stagira, dan meninggal pada tahun 332 SM, pada usia 62 tahun. Ibu Aristoteles adalah seorang ahli kesehatan dari Raja Amyntas II, dan ayahnya juga seorang ahli kesehatan, penjinak binatang, dan pecinta alam yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran Aristoteles yang bersifat naturalistik.

Setelah kematian ayahnya, Aristoteles pergi ke Athena pada usia 18 tahun untuk belajar di academy dibawah asuhan Plato. Plato mengakui bahwa Aristoteles adalah muridnya yang paling brilliant, karena ia mampu mengembangkan pikirannya sendiri. Pada kematian Plato, Aristoteles memiliki hak terbesar untuk memimpin Academia, sekalipun demikian pimpinan jatuh ketangan kemenakan Plato. Aristoteles merasa perlu untuk meninggalkan Athena, ia akhirnya mengungsi ke istana Hermias. Di sini ia berdiam selama tiga tahun, kemudian ia menikahi anak angkat Hermias yang cantik, bernama Pythias.

Tahun 342 SM Aristoteles dipanggil ke istana raja Philip II dari Mecodonia untuk menjadi guru dari puteranya Alexander yang masih berusia 13 tahun. Sesuia dengan ide-ide pendidikannya sendiri, Aristoteles tidak mendidik Alexander sebagai murid privat, melainkan mendidiknya dalam satu sekolah bagi anak bangsawan Mecedonia. Setelah Alexander diangkat menjadi raja, Alexander memberikan bantuan kepada Aristoteles untuk membeli buku-buku guna mendirikan suatu perpustakaan dan sebuah museum serta mengumpulkan informasi-informasi ilmiah. Itulah sebabnya Aristoteles dapat mengumpulkan 158 konstitusi dari berbagai negara kota di jamannya. Hal itu pula yang menyebabkan dia mampu melakukan studi induktif yang luas berbagai masyarakat Yunani dan non Yunani.

Pada usianya yang ke 50 tahun Aristoteles kembali lagi ke Athena dengan membawa serta perpustakaan dan museumnya. Kemudian ia mendirikan Lyceum Apollo, suatu sekolah Aristoteles yang terkenal sebagai Parepatetic School, karena ia mengajarkan muridnya dengan berjalan-jalan di taman. Banyak diantara tulisan aristoteles merupakan catatan muridnya, cara yang demikian merupakan dasar yang baik bagi pembentukan pemikiran, karena muridnya merupakan kumpulan ingatan yang hidup. Kemudian Aristoteles menyingkir ke Calcis sampai ia meninggal. Pikiran Aristoteles bersifat ensiklopedis, adalah merupakan pembangunan banyak ilmu pengetahuan dan disiplin filsafat.

2.  Metode Berfikir

Aristoteles berbicara tentang filsafat dan dunia realita. Pemikiran Aristoteles adalah objektif dan dan realitas, teorinya dibangun berlandaskan fakta-fakta, ia menemukan sember kebenaran pada pengalaman. Aristoteles merupakan orang pertama yang menggunakan metoda historis dalam mempelajari kenyataan sosial. Dia adalah pembangun logika, yaitu suatu ilmu tentang cara berpikir yang benar, ilmu pengetahuan menurutnya adalah bangunan pengetahuan yang masuk akal. Jelaslah bahwa Aristoteles tidak pernah memimpikan untuk memisahkan penyelidikannya tentang ‘apa yang ada’ dan ‘apa yang seharusnya ada’.

3.   Filsafat Sosial

a.   Ajaran Tentang Asal mula Masyarakat
Ada dua bentuk asosiasi manusia yang bersifat dasar dan essensial, yaitu asosiasi antara laki-laki dan wanita untuk mendapatkan keturunan, dan asosiasi antara penguasa dan yang dikuasai. Kedua asosiasi ini bersifat naturalistic (tidak disengaja). Negara berasal dari perkumpulan kampung/dusun, sedangkan dusun berasal dari kumpulan keluarga yang terbentuk secara alamiah. Ciri-ciri negara : merdeka penuh (full independent), memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficiency) dan memiliki pemerintahan sendiri (self government). Negara adalah suatu ‘natural group’, dan manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Masyarakat manusia memiliki dasar kultur dan dasarnya yang alamiah.

b.   Ajaran Tentang Organisasi Sosial
Aristoteles membagi ilmu tentang keluarga kedalam empat bagian :
1.      Tentang hubungan antara tuan dengan budaknya.
2.      Tentang hubungan antara suami dengan istri.
3.      Tentang hubungan antara orangtua dengan anaknya.
4.      Tentang ilmu atau seni keuangan.

c.   Ajaran Tentang Organisasi Politik
Aristoteles mengemukakan pembagian fungsi pemerintahan kedalam fungsi legislatif, eksekutif, dan judikatif, dengan maksud agar terdapat pengawasan satu sama lain. Ada enam bentuk fundamental daripada negara, yaitu : pemerintahan oleh seseorang disebut ‘Monarki’ apabila baik dan ‘Tyrani’ apabila buruk. Pemerintahan oleh sejumlah orang disebut ‘Aristokrasi’ apabila baik dan ‘Oligarkhi’ apabila buruk, pemerintahan oleh banyak orang disebut ‘Demokrasi’ dalam bentuk baik maupun korup.

d.   Ajaran Tentang Sosial Development
Aristoteles mengemukakan bahwa monarki adalah merupakan bentuk pemerintahan yang paling tua dan primitif, yang bersumber langsung dari kekuasaan laki-laki dalam keluarga patriarchal. Aristokrasi adalah bentuk pemerintahan yang dipimpin oleh kaum bangsawan yang memerintah untuk orang banyak. Dalam pikiran Aristoteles sebab-sebab daripada revolusi adalah bersifat psikologis dan karenanya dapat dicegah.

e.   Ajaran Tentang Etika Sosial
Aristoteles menyatakan bahwa negara adalah suatu asosiasi yang tidak semata-mata bertujuan untuk menyelenggarakan perlindungan bersama atau mengusahakan kemakmuran komersial. Ada tiga kesejahteraan atau kehidupan individu yang bahagia menurut Aristoteles, yaitu :
5.      External goods, or wealth (kekayaan).
6.      Good of the body, or health (kesejahteraan).
7.      Goods of the soul, or intelligence and character (kecerdasan atau karakter).

Sistem sosial yang baik menurut Aristoteles adalah suatu sistem dimana setiap orang dapat berbuat sebaik-baiknya dan hidup bahagia. Dengan demikian idealisme Aristoteles tentang masyarakat adalah merupakan idealisme seimbang antara kemakmuran material, kesehatan fisik, kecerdasan yang tersebar, dan karakter yang merata.

f.   Ajaran Tentang Social Progress
Aristoteles memiliki pengajaran tentang perbaikan sosial, yaitu ajaran tentang bagaimana membangun atau memelihara suatu masyarakat yang ideal yaitu melalui pendidikan.Ada tiga jalan yang dapat membuat manusia menjadi baik dan bijaksana,  yaitu : Alam, habit dan akal atau pikiran.

 Pendidikan mengandung dua hal, yaitu : ‘habituasi’ atau apa yang disebut dengan latihan membiasakan diri, dan pendidikan kekuatan-kekuatan rasional, yakni akal atau pikiran. Yang harus diperhatikan di dalam setiap pendidikan adalah meningkatkan karakter atau moral warga negara, karena karakter yang lebih tinggi akan menghasilkan tertib sosial yang tinggi pula.


RINGKASAN

Socrates, Plato dan Aristoteles adalah pemikir-pemikir sosial yang muncul di zamannya  yaitu di abad Yunani. Sebagai ‘sufi’ bagi masyarakat Yunani ketika terjadi krisis besar dimasyarakatnya itu,  dimana kebenaran dan keadilan sulit didapat, yang ada hanya ketidakpastian. Khususnya krisis terbesar ketika negara kecil Sparta mengalahkan Athena  yang begitu kuat sehingga membuat shock masyarakatnya. Persoalan yang dialami masyarakat Yunani yang serba dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian akhirnya melahirkan filsafat sosial dari Socrates bahwa’ kecerdasan sumber keutamaan’. Dengan kecerdasan atau ilmu pengetahuan maka kebajikan akan tercapai sehingga membangun masyarakat pun akan berhasil baik. Metode berfikir dan filsafat sosial Socrates selanjutnya dikembangkan oleh muridnya yaitu Plato yang terkenal dengan ajaran ‘idealismenya’. Dengan menguraikan sketsa masyarakat idealnya yang merupakan pengembangan sifat-sifat manusia dalam buku ‘The Republic’nya. Plato adalah pencipta pertama ide tentang komunisme. Aristoteles sebagai murid Plato ternyata mampu mengembangkan arah pikirannya sendiri berbeda dengan gurunya. Dengan membangun teori di atas landasan fakta-fakta meskipun masih spekulatif, serta metode berfikir induktif berbeda dengan teori Plato/Socrates yang dibangun berdasarkan dunia idea saja serta bersifat deduktif. Filsafat sosial Aristoteles yang terkenal adalah bahwa manusia menurut kodratnya adalah mahluk sosial (man is naturally a political animal) atau “Zoon politicon”. Oleh karena itu, Aristoteles di pandang sebagai pelopor dalam ilmu-ilmu pengetahuan sosial. Meskipun demikian, baik Aristoteles maupun Plato dan Socrates sebagai filsuf besar yang namanya menembus zaman sekalipun, tetap juga tidak luput dari berbagai kesalahan sebagaimana lazimnya kehidupan dunia ilmu pengetahuan.



DAFTAR  PUSTAKA


Bouman, P.J., 1956. Ilmu Masyarakat Umum. Terjemahan Sujono. Cetakan ke delapan. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakrta.

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman. 1986.Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosilogi. Erlangga. Jakarta.

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Radjawali. Jakarta
.-----------------------, 1985.  Pengantar Konsep dan Teori Sosiologis. Unila Press. Lampung
Share this article :

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner