Home » » MAKALAH GEOSTRATEGI DI INDONESIA

MAKALAH GEOSTRATEGI DI INDONESIA

Written By Arif Sobarudin on Senin, 21 Mei 2012 | Senin, Mei 21, 2012


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah
Pada awalnya geostrategi diartikan sebagai geopolitik untuk kepentingan militer atau perang. Di Indonesia geostrategi diartikan sebagai metode untuk mewujudkan cita-cita proklamasi, sebagaimana tercantum dalam Mukadimah UUD 1945, melalui proses pembangunan nasional. Karena tujuan itulah maka ia menjadi doktrin pembangunan dan diberi nama Ketahanan Nasional. Mengingat geostrategi Indonesia memberikan arahan tentang bagaimana membuat strategi pembangunan guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman, dan sebagainya, maka ia menjadi amat berbeda wajahnya dengan yang digagaskan oleh Haushofer, Ratzel, Kjellen dan sebagainya.


1.2  Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian dari geostrategi?
2.      Apakah pengertian dari geostrategi Indonesia?
3.      Bagaimana hubungan geostrategi dengan Ketahanan Nasional?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
a.       Memenuhi tugas kelompok mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan;
b.      Memberikan informasi seputar geostrategi Indonesia;
c.       Menambah wawasan tentang Ketahanan Nasional.

1.4  Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan ini antara lain:
BAB I. Pendahuluan, memuat tentang latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, dan sistematika penulisan.
BAB II. Kajian Pustaka, memuat tentang deskripsi dari teori-teori.
BAB III. Pembahasan dan Studi Kasus, membahas materi dengan berbagai sudut pandang.
BAB IV. Kesimpulan, memuat kesimpulan dari hasil pembahasan materi.




























BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Geostrategi
Geostrategi adalah perumusan strategi nasional dengan memperhitungkan kondisi dan konstelasi geografi sebagai faktor utamanya. Di samping itu dalam merumuskan strategi perlu memperhatikan kondisi social, budaya, penduduk, sumber daya alam, lingkungan regional maupun internasional. 
Geostrategi juga merupakan cabang dari  geopolitik yang berurusan dengan strategi. Geostrategi adalah perumusan strategi nasional dengan memperhitungkan kondisi dan konstelasi geografi sebagai faktor utamanya. Di samping itu dalam merumuskan strategi perlu memperhatikan kondisi sosial, budaya, penduduk, sumber daya alam, lingkungan regional maupun internasional.
            Geostrategi diartikan sebagai pelaksanaan geopolitik dalam negara (Poernomo, 1972), yang pada awalnya diartikan sebagai geopolitik untuk kepentingan militer. Hal ini tentunya berkaitan dengan arti strategi itu sendiri, yaitu ilmu atau seni tentang jenderal (the art of generalship). Strategi itu sendiri semula banyak dikembangkan oleh kaum militer, yakni bagaimana memenangkan perang. Namun kini istilah strategi lebih popular pula di kalangan ekonom, industialis, bahkan para ahli pendidikan. Jadi pemikiran strategi kini diartikan bagaimana kita akan memenangkan pasar untuk keperluan produk kita dan sekaligus untuk meyakinkan kita bahwa bahan baku lebih terjamin lebih lama (sampai lebih dari 20 tahun) dari awal perhitungan kita, serta bagaimana kita menggunakannya seefektif mungkin (Pearson, 1990: 2).
Geostrategi diartikan sebagai metode atau aturan-aturan untuk mewujudkan cita-cita dan tujuan melalui proses pembangunan yang memberikan arahan tentang bagaimana membuat strategi pembangunan dan keputusan yang terukur dan terimajinasi guna mewujudkan masa depan yang lebih baik, lebih aman dan bermartabat. Sir Balford Mackinder (1861-1947), guru besar geostrategi indonesia Universitas London teori yang dikembangkannya tentang “geostrategi continental”, merupakan teori yang saat ini digunakan oleh negara-negara maju maupun negara-negara berkembang (Suradinata, 2005:10).
Berdasarkan keterangan di atas, maka lebih lanjut geostrategi didefinisikan sebagai kebijakan untuk menentukan sarana-sarana, untuk mencapai tujuan politik dengan memanfaatkan konstelasi geografi. Sebagai akibatnya geostrategi menjadi upaya menguasai sumber daya untuk tujuan kelangsungan hidup bangsa

2.2  Pengertian Geostrategi Indonesia
a.               Geostrategi Indonesia merupakan strategi dalam memanfaatkan konstelasi geografi negara Indonesia untuk  menentukan kebijakan, tujuan, dan sarana-sarana untuk mencapai tujuan nasional bangsa Indonesia.
Konsepsi geostrategi Indonesia pertama kali dilontarkan oleh Bung Karno pada tanggal 16 Juni 1948 di Kotaraja (kini Banda Aceh) setelah menerima defile Angkatan Perang (militer) dalam rangka kunjungan kerja ke daerah Sumatra yang belum/tidak diduduki Belanda (Basry, 1995: 50-51). Namun sayangnya gagasan beliau kurang/tidak dikembangkan oleh para pejabat bawahan karena seperti kita ketahui wilayah NKRI diduduki oleh Belanda pada akhir Desember 1948. Setelah pengakuan kemerdekaan pada tahun 1950 garis besar pembangunan politik kita adalah “nation and character building”, yang sebenarnya merupakan pembangunan jiwa bangsa.
Dapat pula dikatakan bahwa geostrategi indonesia adalah memanfaatkan segenap kondisi geografi indonesia untuk tujuan politik dan hal itu secara rinci dikembangkan dalam pembangunan nasional (Suradinata, 2005:33; Armawi, 2005:1)                
b.              Sifat-sifat geostrategi Indonesia:
1)             Bersifat daya tangkal. Dalam kedudukannya sebagai konsepsi penangkalan, geostrategi Indonesia ditujukan untuk menangkal segala bentuk ancaman, gangguan, hambatan, dan tantangan terhadap  identitas, integritas, eksistensi bangsa dan negara Indonesia.
2)             Bersifat developmental/pengembangan, yaitu pengembangan potensi kekuatan bangsa dalam ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, dan hankam sehingga tercapai kesejahteraan rakyat.
c.               Anatomi ketegangan. Perbedaan pengembangan pandangan sangat dipengaruhi doktrin politik yang berlaku bagi masing-masing bangsa.                
Berikut adalah macam-macam perbedaan pandangan:          
a)              Pandangan perang menurut Barat; pada umumnya bangsa barat menganut paham perang sebagai kelanjutan tindakan politik dengan cara lain.
b)             Pandangan perang menurut Komunis; peperangan tidak hanya bercorak militer, melainkan juga diplomasi, psikologi, ekonomi, sosial budaya, dan militer.                                                                                                                                                                   
c)               Pandangan perang menurut Bangsa Indonesia; perang merupakan jalan terakhir karena terpaksa untuk membela diri.

 2.3. Hakikat Ketahanan Nasional
Pengertian Ketahanaan Nasional adalah suatu kondisi dinamis suatu bangsa yang berisi keuletan dan ketangguhan, yang mengandung kemampuan mengembangkan kekuatan nasional dan menghadapi dan mengatasi segala ancaman, gangguan, hambatan, tantangan, baik yang datang dari luar maupun dari dalam negeri, yang langsung maupun yang tidak langsung membahayakan integritas dan identitas kelangsungan hidup bangsa dan negara serta perjuangan dalam mengejar tujuan nasional Indonesia (Suradinata: 2005: 47).
Berdasarkan uraian tersebut, maka geostrategi pada hakikatnya ialah memanfaatkan segenap kondisi geografi atau letak Indonesia untuk tujuan politik, dan hal itu secara rinci lebih dikembangkan dalam pembangunan nasional. Jadi jelas bahwa dalam menyusun strategi suatu kesatuan negara diperlukan dan dikembangkan untuk mewujudkan dan mempertahankan integritas bangsa dan wilayah tumpah negara Indonesia, mengingat kemajemukan bangsa indonesia serta sifat khas wilayah tumpah darah negara negara indonesia, maka geostrategi Indonesia dirumuskan dalam bentuk Ketahanaan Nasional. (Kaelan, Zubaidi Achmad, 2010, hal 145-146).

1.         Hakikat Ketahanan Nasional
a)      Ketahanan nasional bidang ideologi; kondisi yang berlandaskan akan kebenaran ideologi Pancasila serta menangkal nilai-nilai yang tidak sesuai  dengan kepribadian bangsa.
b)      Ketahanan nasional bidang politik; kondisi yang berdasarkan demokrasi Pancasila dan UUD 1945 yang menghasilkan stabilitas politik serta penerapan politik luar negeri yang bebas aktif.                                                                                                                                                                                        
c)       Ketahanan nasional bidang Ekonomi; kondisi yang mengandung kemampuan memelihara stabilitas dan kemandirian ekonomi.                             
d)      Ketahanan nasional bidang sosial budaya; kondisi yang mengandung kemampuan membentuk dan mengembangkan kehidupan sosial-budaya sehingga dapat menangkal penetrasi budaya asing yang tidak sesuai.                                                                                                                                                        
e)       Ketahanan nasional bidang pertahanan; kondisi yang membuat daya tangkal bangsa yang dilandasi kesadaran bela negara seluruh rakyat yang mengandung unsur stabilitas keamanan yang dinamis serta kemampuan mempertahankan kedaulatan negara dan menangkal segala bentuk ancaman.                                                                                                                                                 
2.  Sifat Ketahanan Nasional 
a)              Manunggal; merupakan ciri utama bangsa Indonesia yaitu manunggalnya unsur lahirlah dan batiniah serta manunggalnya unsur materiil dan spiritual.                                                                                                              
b)              Mawas ke dalam; merupakan sifat yang selalu memperhatikan unsur-unsur perjuangan dan kemerdekaan Indonesia.                                                                                                                                                                                      
c)               Berwibawa; merupakan hasil pancaran kejiwaan dari sikap bangsa yang mandiri dan percaya atas kebenaran perjuangan sehingga disegani dan dihormati dalam pergaulan antar bangsa.                                                                                                                                                                                                                                                                  
d)             Dinamis                                                                                                                                                                        
e)               Tidak adu kekuatan;  merupakan sikap yang cinta damai dan mawas diri.                                                                                                                                                                                                           
f)                Percaya diri sendiri; merupakan sifat yang bertumpu pada kekuatan sendiri serta bersendikan padakepribadian bangsa.                                                                                                                                                                
g)              Tidak bergantung pihak lain;       merupakan sifat mandiri yang tidak hanya mencakup bidang politik, tetapi jugabidang ekonomi, sos-bud, dan pertahanan negara.
                                                                                                                             
3.  Asas-Asas Ketahanan Nasional:                                                                                                                   
a)               Asas-asas kesejahteraan dan keamanan                                                                                                            
b)              Asas komprehensif integral atau menyeluruh terpadu                                                                                                      
c)               Asas mawas kedalam dan mawas keluar                                                                                                  
d)             Asas kekeluargaan     
4. Tiga Aspek (Trigatra) Kehidupan Alamiah:
a.       Gatra letak dan kedudukan geografis
b.      Gatra keadaan dan kekayaan alam
c.       Gatra keadaan dan kemampuan penduduk                                                                                                                              
5. Lima aspek (Pancagatra) dalam kehidupan sosial:
a)      Gatra ideologi
b)      Gatra politik
c)      Gatra ekonomi
d)     Gatra sosial budaya
e)      Gatra ketahanan dan keamanan
Pembinaan ketahanan nasional Indonesia adalah proses transpormasi sumber daya secara efisien dan ekonomis, untuk menghasilkan spektrum kemampuan dan kekuatan yang berupa daya kekebalan, daya berkembang, dan daya tangkal atau daya kena dalam sistem nasional.
 Langkah-langkah pembinaan ketahanan nasional Indonesia:                                                                                  
I. Pembinaan ketahanan nasional gatra ideologi:                                                                                 
a)                   Pengalaman pancasila secara subjektif dan objektif     
b)                 Pancasila sebagai ideologi terbuka
c)                  Sesanti Bhineka Tunggal Ika dan konsep wawasan nusantara Pancasila sebagai pandangan hidup negara dan dasar RI                                                                  
d)                Pembangunan sebagai pengamalan pancasila                                                                                                  
e)                  Pendidikan pancasila dan pendidikan kewarganegaraan
II. Pembinaan ketahanan nasional gatra politik:                                                                                                 
a)      Mengembangkan kehidupan kenegaraan dan politik dalam negeri berdasarkan pancasila dan UUD 1945                                                                                                                           
b)      Mengembangkan kehidupan politik luar negeri sebagai sarana pencapaian kepentingan nasional dalam pergaulan antar bangsa 
III. Pembinaan ketahanan nasional gatra ekonomi
a)      Mengembangkan sistem ekonomi di Indonesia
b)      Implementasi ekonomi kerakyatan
c)      Memantapkan struktur ekonomi secara seimbang dan langsung menguntungkan
d)     Melaksanakan pembangunan sebagai usaha bersama
e)      Memeratakan pembangunan dan memanfaatkan hasil-hasilnya                                       
f)       Mengembangkan dan menumbuhkan kemampuan bersaing secara sehat
IV. Pembinaan ketahanan nasional gatra social budaya:
a)      Mengembangkan sistem sosial budaya
b)      Mengkondisikan dan membina manusia, masyarakat Indonesia yang berjiwa Pancasila
c)      Mengembangkan kehidupan beragama
d)     Mengembangkan sistem pendidikan nasional
V. Pembinaan ketahanan nasional gatra pertahanan dan keamanan
a)              Mengembangkan sistem pertahanan dan keamanan
b)             Mengembangkan nilai, sikap, dan perilaku
c)      Melakukan pembangunan kekuatan dan kemampuan pertahanan dan keamanan
d)     Melindungi potensi nasional dan hasil-hasil pembangunan
e)      Mengembangkan perlengkapan dan peralatan
f)               Mengembangkan TNI sebagai tentara rakyat
g)             Mengembangkan POLRI sebagai kekuatan kamtibnas
Sebagaimana dikemukakan oleh Rosenau bahwa pergeseran dari tahap industrial ke tahap pasca industrial telah mengubah kondisi global manusia. Periode politik internasional dimana negara kebangsaan mendominasi skenario global telah digantikan dengan politik pasca  international yaitu periode di mana negara kebangsaan harus membagi panggung pentasnya dengan berbagai organisasi internasioal dan transnasional dalam berbagai bidang, terutama dalam bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya dan lingkungan hidup ( Hall, 1990: 71).






BAB III
PEMBAHASAN DAN STUDI KASUS
Selat Malaka
Selat Malaka memiliki garis laut sepanjang 900 kilometer dengan jarak antara pantai Sumatra dan Singapura kurang lebih hanya 3 km saja, merupakan jarak terpendek perairan yang menjadi transit banyak kapal bermuatan minyak. Topografi kedalaman Selat Malaka hanya 25 meter saja, ini yang menjadikan Selat Malaka jalur internasional yang paling sulit dilalui mengingat terdapat kurang lebih 60.000 kapal tanker lewat selat ini setiap tahunnya. Dari uraian di atas, Selat Malaka menjadi jalur tersibuk di seluruh dunia.
Fakta sejarah Selat Malaka dapat ditelusuri melalui konteks sejarah jaman Sriwijaya dan Majapahit pada masa kerajaan-kerajaan pan-Asia Tenggara. Wilayah Selat Malaka kemudian menjadi teritori kesultanan Malaka pada era pra-kolonialisme yang berpusat di Pulau Sumatra. Sedangkan pada era kolonialisme, pelabuhan ini kemudian menjadi milik kontrol Belanda di Indonesia dan Inggris di Singapura.
Arti penting Selat Malaka
Selat Malaka memiliki arti penting bagi semua negara terutama dalam konteks perdagangan internasional sebagai jalur tersibuk di dunia dan ancaman yang datang dari: (1) perompak, (2) ambiguitas yurisdiksi hukum internasional Laut (UNCLOS 1982), (3) jarak Laut Teritorial (ZEE) yang saling tumpang tindih antara negara satu dengan negara lainnya, serta (4) yuriskdiksi peran krusial masing-masing negara dalam menjaga keamanan di Selat Malaka.


Perubahan geopolitik Selat Malaka di era kekinian
Permasalahan yang timbul karena adanya perkembangan yang penting di bidang perkapalan dan perubahan-perubahan dalam strategi militer secara global dari negara-negara besar. Selat Malaka merupakan satu tempat di mana selalu dilalui oleh kapal-kapal dimana sejak 1967. Kapal-kapal tangki raksasa banyak bermunculan membawa minyak dari Timur Tengah ke Jepang dan Timur Jauh. Namun kondisi geografis Selat Malaka yang sempit, dangkal, berbelok-belok, dan ramai itu semakin lama semakin terbatas untuk dapat melayani kapal-kapal tangki raksasa yang semakin lama semakin besar dan banyak.
Selain itu, juga terdapat tantangan sekaligus hambatan yang mengancam jalur lalu lintas di Selat Malaka. Topografi Selat Malaka yang kurang memadai menjadikannya beresiko terhadap kecelakaan kapal pengangkut minyak dan komoditas lainnya seperti kapal karam dan resiko digunakan sebagai sasaran terorisme yang mengerikan. Misalnya kapal tanker yang ditabrakkan ke kapal tanker lainnya dengan jalur demikian padat dapat memicu kecelakaan dan ledakan luar biasa yang berkonsekuensi terhadap perusakan lingkungan, minyak tumpah ke laut, dan terhambatnya arus lalu lintas barang dan jasa antarnegara. Hal ini yang menjadi perhatian geopolitik utama di Asia Tenggara sehingga menarik seluruh aktor baik regional, dan internasional untuk terlibat langsung dalam pengawasan jalur tersebut. Munculnya perompak-perompak yang diklaim berasal dari gerakan separatisme Indonesia, yakni GAM, dinilai sangat mengganggu kelancaran jalur perdagangan di Selat Malaka.
Berdasarkan uraian di atas, dapat ditarik dua faktor utama geopolitik Selat Malaka yaitu (1) semakin padatnya lalu lintas di Selat Malaka yang dinilai mengundang instabilitas regional terkait siapa yang secara yuridis bertanggung jawab menjamin keamanan Selat Malaka, dan (2) hadirnya militer laut asing seperti Amerika Serikat dan Rusia untuk turut menjamin keamanan mengundang banyak kontroversi termasuk dari aktor-aktor regional seperti Malaysia dan Indonesia yang mengklaim sebagai pihak yang semestinya memiliki legitimasi penuh di Selat Malaka. Oleh karena itu, butuh strategi khusus yang mengintegrasikan kekuatan-kekuatan eksternal yang berkepentingan untuk bersinergis membentuk basis pertahanan laut di wilayah tersebut.
Persoalan yang muncul dari strategi di atas ialah wacana siapakah yang dilibatkan dalam pertahanan tersebut. Hal inilah yang menuai kontroversi politis dan militer sehingga empat negara tersebut bersitegang mempertahankan egoisme masing-masing. Adapun strategi utama yang disepakati oleh keempat negara (Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand) tertuang dalam kesepakatan pertahanan dan patroli terkoordinasi di perairan Selat Malaka. Misalnya The Five Power Defence Arrangement (FPDA) yang beranggotakan Malaysia, New Zealand, Singapore dan Inggris tanpa keikutsertaan Indonesia
Secara positif, strategi “patroli koordinasi” ini dipandang telah efektif menekan tingkat kejahatan laut di Selat Malaka. Adapun setiap negara memiliki strategi yang bervariasi. Malaysia, misalnya, berusaha untuk menjaga kesimbangan antara kekuatan eksternal seperti Amerika Seriakt dan China di Selat Malaka, menjaga keamanan di Selat Malaka dengan membentuk Malacca Strait Sea Patrol dengan Indonesia dan Singapura (meskipun pada akhirnya menimbulkan ketegangan bilateral, utamanya dengan Indonesia), mengadakan kerjasama dengan Indonesia dan Singapura melalui TTEG (The Tripartite Technical Expert Group) untuk membahas lalu lintas pelayaran di Selat Malaka, dalam jangka panjang Membangun jembatan yang melintasi Selat Malaka yang salah satu ujungnya berada di Malaka, Malaysia dan di Pulau Rupat, Riau, Indonesia yang juga melintasi Singapura.
Geostrategi Malaysia di Selat Malaka: arti penting Selat Malaka bagi Malaysia
Adapun sasaran strategi Malaysia di atas dilandaskan pada pertimbangan sebagai berikut: pertama, Selat Malaka tidak hanya Sea Lines of Trade (SLOT) dan Sea Lines of Communication (SLOC), tetapi juga dipandang sebagai jalur strategis proyeksi Armada Laut negara-negara maritim besar dalam rangka forward presence dan global engagement ke seluruh dunia. Sehingga keamanan Selat Malaka menjadi tanggung jawab negara-negara pesisirnya karena bila keamanan di Selat Malaka terancam maka itu juga menjadi ancaman bagi seluruh negara dan menimbulkan dampak negatif dalam bidang instabilitas perekonomian dunia terutama di negara-negara yang berada di pesisir Selat Malaka.
Kedua, mengingat Selat Malaka sangat strategis dimana memisahkan 3 negara yakni Malaysia, Indonesia dan Singapura sehingga pihak Malaysia sangat menginginkan terealisasinya pembangunan jembatan yang melintasi Selat Malaka karena dengan adanya jembatan Selat Malaka tentunya hal ini akan memudahkan hubungan multilateral di antara ketiga negara tersebut dengan demikian mobilisasi wisatawan akan semakin mudah dan akan menguntungkan dalam segi ekonomi bagi ketiga negara tersebut.
Geostrategi Thailand di Selat Malaka: arti penting Selat Malaka bagi Thailand
Thailand melihat keuntungan perekonomian jangka panjang Selat Malaka sebagai pelabuhan transit yang menghubungkan jalur perdagangan negara-negara besar seperti China, Jepang, Korea, India, Timur Tengah, dan Afrika. Thailand berefleksi kepada kemajuan Singapura sebagai pelabuhan transit internasional yang paling besar di kawasan Asia Tenggara, berkembang menjadi negara kecil dengan perekonomian paling maju di seluruh Asia Tenggara.
Strategi Thailand di Selat Malaka
Berkaca dari fakta geopolitik dan arti strategis di atas, Thailand merancang skenario untuk melakukan kerjasama dengan Indonesia, Malaysia, dan Singapura dalam menjaga keamanan jalur laut di Selat Malaka. Bersamaan dengan itu, Thailand membangun sebuah kanal di wilayah Kra dengan tujuan efisiensi jalur transportasi laut apabila di masa mendatang jalur Selat Malaka menjadi terlalu padat dan tidak aman lagi untuk dilintasi oleh kapal tanker yang semakin besar. Sasaran inilah yang ingin dimanfaatkan oleh Thailand sehingga dapat menguntungkan perekonomiannya. Bahkan Thailand telah merintis alternatif dengan menawarkan pelayanan lebih baik dan pajak yang lebih murah dibandingkan Singapura.

Selain aktor regional berkepentingan di Selat Malaka juga terdapat kepentingan China, Amerika Serikat dan Jepang tentang arti geopolitik Selat Malaka.
China. Pertumbuhan ekonomi China yang pesat menjadikan ia membutuhkan bahan baku industri yakni minyak mentah semakin banyak. Sebagian besar kapal pengangkut minyak ke China harus melewati Selat Malaka. Selat Malaka merupakan kunci dari keamanan energi China. Sehingga China sangat berkepentingan untuk menjaga Selat Malaka tetap aman dan agar Selat Malaka selalu terbuka untuk kapal-kapal yang mengangkut minyak untuk China.
Amerika Serikat. Pesatnya perkembangan China menjadikan Amerika mencoba memberikan pengaruhnya untuk mengontrol navigasi Selat Malaka. Dengan adanya kontrol terhadap Selat Malaka, maka suplai minyak ke China akan sedikit terhambat dan industrinya tidak dapat berjalan karena tidak ada bahan bakunya yakni minyak. Selain itu Amerika juga mengadakan latihan bersama di kawasan Selat Malaka hal ini bertujuan untuk memudahkan Amerika memetakan bagaimana kekuatan negara-negara di pesisir Malaka.
Jepang. Sama halnya seperti China, Jepang sangat membutuhkan Selat Malaka sebagai jalur laut pengiriman produk-produk Jepang ke wilayah Eropa, Timur Tengah dan Afrika. Jepang merupakan salah satu negara di luar Asia Tenggara yang secara aktif berusaha membantu menyelesaikan permasalahan pembajakan di laut.
Strategi aktor eksternal di Selat Malaka. Inisiatif China. Dalam hal militer dan pengamanan Selat Malaka, sikap Malaysia terhadap China tetap tidak menginginkan kapal-kapal Cina yang berjaga-jaga di kawasan ini sebagai pengamanan impor minyak Cina. Namun, dalam hal ekonomi dan pembangunan Jembatan Selat Malaka, Malaysia bekerjasama dengan Cina (PT. Malacca Strait Cooperation) dengan penyiapan dana kurang lebih 12,75 dollar Amerika.
Inisiatif Amerika Serikat. Admiral Thomas Fargo, head of U.S forces in the Asia-Pacific menyarankan adanya pasukan AS yang berpatroli di kawasan Selat Malaka melalui Regional Maritime Security Inisiative untuk meminimalisir tindakan teorisme dan pembajakan disana. Langkah ini tentu berkaitan dengan strategi Amerika dalam memiliki partner dagang yang strategis (Jakarta Post, 9 Juni 2004). Menurut Admira Fargo, kekuatan angkatan laut AS yang memadai dan teknologi yang canggih dapat menghasilkan interdiksi yang efek.
Inisiatif Jepang. Bantuan untuk pengamanan di selat Malaka terutama datang dari Jepang yang sampai sekarang secara konsisten membiayai Dewan Selat Malaka (The Malacca Straits Council), yang kemudian Dewan tersebut membentuk The Straits of Singapore and Malacca Revolving Fund, bagi ketiga negara selat (Indonesia, Malaysia dan Singapura) yang akan dikelola secara bergilir.

Kesimpulan
Negara-negara besar telah menyatakan keinginannya untuk terlibat mengamankan Selat Malaka, seperti AS, Cina, dan Jepang. Namun negara-negara pantai di Selat Malaka, yakni Indonesia, Singapura, dan Malaysia telah menyatakan dengan tegas bahwa negara- negara pantai yang bertanggung jawab atas pengamanan Selat Malaka. Negara lainnya diharapkan hanya memberikan bantuan, terutama di bidang peralatan dan informasi.



BAB IV
KESIMPULAN
Ketahanan Nasional Indonesia adalah kondisi dinamis bangsa Indonesia yang meliputi segenap aspek kehidupan nasional yang terintegrasi. Ketahanan Nasional harus diwujudkan. Sehingga mulai sejak dini harus selalu dibina dan disinergikan dengan kehidupan bermasyarakatan dan bernegara. Oleh karena itu, geostrategi dibutuhkan untuk mewujudkan kondisi tersebut yang berupa konsepsi yang memperhatikan kondisi bangsa dan konstelasi geografi Indonesia (Konsepsi ketahanan nasional Indonesia). Ketahanan nasional diperlukan suatu bangsa agar timbul suatu kedamaian dan kestabilan dalam kehidupan bernegara.
















                                             

PERTANYAAN

1.      Seberapa pentingkah geostrategi bagi kelangsungan kehidupan berbangsa dan bernegara Indonesia ?
2.      Bagaimana peran pancasila dalam geostrategi Indonesia ?
3.      Mengapa ospek ideologi sangat berpengaruh pada ketahanan nasional ?

























Daftar Pustaka

Soemiarno, Slamet, dkk. 2008. MPKT Buku Ajar III: Bangsa, Negara, dan Lingkungan Hidup di Indonesia. Depok: Penerbit FEUI
Kaelan, Zubaidi Achmad. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan: Geostrategi Indonesia. Yogyakarta: Penerbit PARADIGMA

Referensi dari internet:


Share this article :

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

Statistik Info

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner