Home » » SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI KARL MARX

SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI KARL MARX

Written By Arif Sobarudin on Jumat, 25 Mei 2012 | Jumat, Mei 25, 2012


PENDAHULUAN 
sumbangan pemikiran dari Karl Marx terhadap ilmu sosiologi. Adapun materi-materi yang akan dibahas adalah sejarah singkat riwayat hidup Karl Marx serta menjelaskan pemikiran Karl Marx tentang materialisme historis, model-model masyarakat, alinasi, kesadaran kelas dan perubahan sosial.

Setelah mengetahui materi pokok bahasan pada bab lima, mahasiswa diharapkan mampu :
  1. menjelaskan konsep materialisme historisnya Karl Marx.
  2. menjelaskan model-model masyarakat Karl Marx.
  3. menjelaskan konsep alienasi dan membedakan macam-macam alienasi Karl Marx.
  4. menjelaskan perjuangan kelas dan analisa dialektika perubahan sosial Karl Marx.
  5. mengkaji fenomena masyarakat saat ini dengan menggunakan teori Karl Marx


A.  Riwayat Hidup Marx

Jika secara spontan orang ditanya tentang Karl Marx, biasanya jawaban yang muncul akan berkisar pada Marx sebagai seorang kakek tua berjenggot dengan wajah angker yang ide-idenya perlu dicurigai dan dihindari. Ia akan dipahami sebagai seorang lelaki dari Jerman yang adalah filsuf, ahli ekonomi, dan teoritikus sosial yang mempelopori gagasan mengenai materialisme dialektis dan materialisme historis. Selanjutnya ia akan dipandang sebagai seorang penganjur perjuangan kelas dan revolusi komunis; seorang atheis pejuang gagasan “diktator proletariat” dan “masyarakat tanpa kelas”; atau seorang anti-kapitalis yang membenci kaum borjuis sambil menunjukkan ketakterpisahan antara politik dan ekonomi.

Mengingat adanya kesulitan teknis menemukan sumber-sumber biografis Marx pada masa awal hidupnya, di sini catatan mengenai hal itu akan disampaikan secara sekilas saja. Marx lahir di  Trier (kini di Jerman), pada tanggal 5 Mei 1818. Ayahnya Henrich Marx dan ibunya Henrietta berasal dari keluarga rabbi Yahudi. Ayahnya Henrich Marx, adalah seorang pengacara di negara Prusia, ssebelum negara itu pada tahun 1867 menjadi bagian dari konfederasi Jerman.

Usia delapan belas tahun, sesudah memperlajari hukum selam setahun di Universitas Bonn, Marx pindah ke Universitas Berlin. Selama masa studinya di Berlin, Marx amat dipengaruhi oleh filsafat idealisme George Hegel (1770-1831). Di sini ia juga behubungan dan amat dipengaruhi dengan kaum “Hegelian Muda”.  Mereka ini bermaksud. menerapkan gagasan Hegel guna melawan agama sebagai lembaga yang tak ramah (organized religion) dan pemerintah Prusia yang dirasakan sebagai otoritarian. Pada tahun 1841, di usianya yang ke-23, Marx meraih gelar doktor dalam bidang filsafat. Perjalanan hidupnya setelah itu adalah perjalanan yang penuh kesulitan dan tantangan.

Setelah menyelesaikan disertasi doktornya di Universitas Berlin, Marx menerima tawaran untuk menulis dalam surat kabar borjuis liberal, bernama Rheinishe Zeitung di Cologne. Kemudian ia menjadi pimpinan surat kabar ini walaupun pada akhirnya harus ditutup oleh pemerintah karena dianggap terlalu kritis.

Setelah itu ia pun pindah ke Paris. Di Paris inilah Marx menikah dengan Jenny pada tanggal 19 Juni 1843. Di sini pula ia bertemu dengan Friedrich Engels. Pada tahun 1845 ia dan keluarganya berpindah ke Brussels. Kemudian tahun 1846 Marx bersama teman kerjanya Friedrich Engels (sekaligus teman dekat sampai Marx meninggal) mengikuti Communist League suatu organisasi revolusioner yang bermarkas di London.

Dua tahun kemudian  (1848) dia diusir karena pemerintah Belgia takut bahwa Marx akan mendorong revolusi di situ. Marx pun kembali ke Paris, lalu ke Rhineland, namun di sana ia juga berbenturan dengan penguasa setempat. Akhirnya pada tahun 1849 Marx pindah ke London. Ia tinggal dan berkarya di kota itu sampai meninggalnya, pada tanggal 14 Maret 1883.

B.  Alam Berpikir Marx

Sebagai seorang ahli sosial sekaligus filosof yang juga menguasai ilmu ekonomi, Marx dalam melihat masalah kemasyarakatan memiliki pusat perhatian pada tingkat struktur sosial dan bukan pada tingkat kenyataan sosial budaya. Marx dalam hal ini lebih memusatkan perhatiannya pada cara orang menyesuaikan diri dengan lingkungan fisiknya. Dia juga melihat hubungan-hubungan sosial yang muncul dari penyesuaian ini dan tunduknya aspek-aspek kenyataan sosial dan budaya pada asas ekonomi.

Bagi Marx, kunci untuk memahami kenyataan sosial tidak ditemukan dalam ide-ide abstrak, tetapi dalam pabrik-pabrik atau dalam tambang batu bara. Di mana para pekerja menjalankan tugas yang di luar batas kemanusiaan dan berbahaya, untuk menghindarkan diri dari mati kelaparan dan berbagai penderitaan kaum buruh, inilah kenyataan sosial. Kenyataan sosial bukan impian naif dan idealistik yang dibuat oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan pertumbuhan industri untuk meningkatkan kerjasama dan meningkatkan kesejahteraan dalam bidang materil semua orang.

Karl Marx dalam pemikiran filosofisnya banyak dipengaruhi oleh George Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) dan Ludwig Feurbach (1804-1872), keduanya filsuf Jerman. Kalau Hegel dalam pemikirannya lebih bersifat idealistik, Feurbach lebih bersifat materialistik, humanistik dan inderawi. Namun, pada akhirnya pengaruh kedua tokoh ini hanya akan menjadi titik tolak bagi Marx untuk sampai ke pemikiran-pemikirannya sendiri.

Sedikit banyak dalam ingatan orang Marx lebih dikenal sebagai pengikut Hegelian. Marx sendiri menggunakan inti model analisa dialektik Hegel. (lihat gambar).
 


Text Box: Sintesis
 
                                                1.








 




Text Box: TesisText Box: Antitesis                      3.                                                      2.



Penjelasan pengertian dasarnya dalam analisa dialektika berintikan :
Pandangan mengenai pertentangan antara tesis dan antitesis serta titik temu keduanya yang akhirnya akan membentuk sintesa baru; kemudian ini menjadi tesis baru, dan dalam pertentangan dengan tesis baru itu, muncul suatu antitesis baru, dan akhirnya kedua tesis yang saling bertentangan ini tergabung dalam satu sintesa baru yang lebih tinggi tingkatannya.

Meskipun model ini agak abstrak, mungkin dapat digambarkan dalam satu hal yang terdapat dalam tradisi masyarakat kita sendiri dengan adanya pertentangan antara ide-ide yang digunakan untuk membenarkan pelbagai bentuk pelapisan sosial dan ide-ide mengenai persamaan. Namun, sulit untuk membayangkan suatu dilema dasar seperti itu yang dapat dipertemukan sepenuhnya.

Menurut kebanyakan ahli selain alam pikirnya, Marx dalam berkarya dan menelurkan karya-karyanya berpijak pada tiga “sila dasar”:
1.      Teori Materialisme Historis
Materialisme Historis Marx menjelaskan  sejarah dengan memposisikan material manusia sebagai dasar sejarah dan memandang produksi mental, intelektual seseorang dan kehidupan  budaya sebagai efeknya.
2.      Teori Perjuangan Kelas
Menurut hasil analisa dan pengamatan Antoni Gidden terhadap teori Perjuangan Kelas Marx bahwa di dunia ini di belahan manapun masyarakat terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu Golongan Borjuis (pemilik modal) dan Golongan Proletar (kaum buruh, tani).
3.      Teori Nilai Lebih
Konsep ini menjelaskan keuntungan kaum kapitalis dan eksloitasi buruh. Marx mendefinisikan nilai lebih sebagai perbedaan antara nilai upah yang diterima buruh dan nilai dari apa yang mereka hasilkan. Artinya, perbedaan antara upah yang harus dibayar kaum kapitalis kepada buruh dan produk hasil kerja kaum buruh yang bisa dijual kaum kapitalis untuk kepentingan kaum kapitalis.


C.  Karya-Karya Karl Marx

Berikut adalah beberapa karya Marx semasa hidupnya:
1.      Economic and Philosophical Manusript.
Tulisan ini terinspisrasi karena Marx banyak mengenal tulisan-tulisan ahli ekonomi politik seperti Adam Smith dan David Ricardo. Marx dalam hal ini mengambil isu individualisme pendekatan ini dengan mengatakan bahwa deengan individualisme manusia dikesampingkan.
2.      The German Ideology
Karya ini merupakan hasil pemikirannya dengan Engles. Karya ini mengenai suatu interpretasi komprehensif tentang perubahan dan perkembangan sejarah sebagai alternatif terhadap interpretasi Hegel mengenai sejarah.
3.      The Class Strruggles in France dan The Eighteenth Brumaire of Louis Bonaparte.
Kedua esai ini menerapkan metode materialis historisnya Marx dengan berusaha untuk mengungkapkan kondisi-kondisi sosial dan material yang mendasar yang terdapat di bawah permukaan perjuangan-perjuangan ideologis yang dinyatakan hanya dengan kondisi-kondisi sosial dan materil.
4.      The Communist Manifesto
Sebuah tulisan yang ditugaskan kepada Marx oleh organisasi Communist League setelah perdebatan antara Marx dan Weikting dalam organisasi itu mengenai waktu yang tepat untuk revolusi proletariat. Dan ini merupakan pernyataan yang akan menjadi program teoretis untuk organisasi itu.
5.      Das Kapital
Dalam Das Kapital Marx mengembangkan dan mensistematisasi sebagian besar ide-ide yang sudah diuraikan sebelumnya secaara singkat dari karya-karya sebelumnya


D.  Materialisme Historis Marx

Dari karya ‘The Comunist Manifesto’, dan ‘Das Kapital’, Marx sangat terkenal dengan dialektika materialis dan dialektika historisnya. Baginya, kekuatan yang mendorong manusia dalam sejarah adalah cara manusia berhubungan antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, yang dalam perjuangannya yang abadi untuk merengut kehidupan dari alam. Tindakan historis yang pertama adalah membina kehidupan material itu sendiri. Keinginan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, tempat tinggal serta sandang adalah tujuan manusia yang utama pada awalnya. Namun demikian, perjuangan manusia tidaklah terhenti pada saat kebutuhannya yang paling utama terpenuhi atau tercapai, manusia memang sesungguhnya binatang yang tetap tidak akan terpuaskan. Ketika kebutuhan-kebutuhan pokok telah terpenuhi, pemenuhan kebutuhan itu justru menyebabkan timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru, yang mengawali terbentuknya kelas-kelas yang saling bertentangan. Menurut Marx, semua periode sejarah ditandai oleh perjuangan kelas yang berbeda satu sama lain sesuai dengan periode sejarahnya. Meskipun gejala historis merupakan hasil dari saling mempengaruhi antar berbagai komponen, sesungguhnya hanya faktor ‘ekonomi’ yang merupakan independent variabelnya. Perkembangan politik ,hukum, filsafat, kesusasteraan dan kesenian semuanya bertopang pada faktor ekonomi.

E.  Teori Alienasi

Selain teori Perjuangan Kelas dan beberapa hal di atas ada sebuah teori Marx yang menjelaskan dampak dari produktifitas manusia terhadap keterasingan manusia itu sendiri. Teori ini lebih dikenal dengan Teori Alienasi.

Alienasi atau keterasingan merupakan masalah yang menjadi menarik untuk dikaji ketika orang mulai sadar bahwa lama kelamaan barang-barang yang diproduksi manusia makin menjadi otonom, bahkan seakan-akan menguasai manusia. Menurut Marx alienasi ada dan dijumpai orang di mana-mana dalam segala bidang dan dalam semua lembaga di mana manusia memasukinya. Tetapi alienasi yang paling penting adalah alienasi yang dijumpai di tempat orang bekerja, karena manusia menurut Marx adalah ‘homo faber’ artinya manusia sebagai pekerja/pencipta. Alienasi dalam bidang kerja ada empat aspek yaitu :
a.   Manusia diasingkan dari produk hasil pekerjaannya.
b.    Terasing dari kegiatan produksi.
c.    Terasing dari sifat sosialnya sendiri.
d.    Terasing dari rekan-rekannya atau masyarakatnya.

Demikianlah, sesungguhnya Marx telah mengemukakan bagaimana manusia teralienasi adalah merupakan manusia yang sebenarnya hidup di dalam dunianya yang tidak terhayati oleh dirinya sendiri.

F.   Kesadaran Kelas dan Perjuangan Kelas

Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa “sejarah dari segala bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian antara golongan’. Menurut pandangannya, sejak masyarakat manusia mulai dari bentuknya yang primitif secara relatif tidak berbeda satu sama lain, namun tetap mempunyai perbedaan-perbedaan fundamental antara golongan yang bertikai di dalam mengejar kepentingannya masing-masing. Bagi Marx, dasar dari sistem stratifikasi adalah tergantung dari hubungan kelompok-kelompok manusia terhadap sarana produksi. Yang disebut kelas dalam hal ini adalah suatu kelompok orang-orang yang mempunyai fungsi dan tujuan yang sama dalam organisasi produksi.

Kelas-kelas yang memiliki kesadaran diri, memerlukan sejumlah kondisi tertentu untuk menjamin kelangsungannya, yaitu mereka memerlukan adanya suatu jaringan komukasi di antara mereka, pemusatan massa rakyat serta kesadaran akan adanya musuh bersama dan adanya bentuk organsisasi yang rapi. Organisasi ini dapat berupa  serikat-serikat buruh atau serikat-serikat kerja lainnya untuk mendesak upah yang lebih tinggi, perbaikan kodisi kerja, dan sebagainya. Akhirnya organisasi kelas buruh ini  akan menjadi cukup kuat bagi mereka untuk menghancurkan seluruh struktur sosial kapitalis dan menggantikan dengan struktur sosial yang menghargai kebutuhan dan kepentingan umat manusia seluruhnya yang diwakili oleh kelas proletar.

G.  Analisa Dialektika Perubahan Sosial

Cara analisa dialektik merupakan inti model bagaimana konflik kelas mengakibatkan perubahan sosial. Umumnya analisa dialektik meliputi suatu pandangan tentang mansyarakat yang terdiri dari kekuatan-kekuatan yang berlawanan yang sewaktu-sewaktu menjadi seimbang. Dalam pandangan Marx, kontradiksi yang paling penting adalah antara kekuatan-kekuatan produksi materil dan hubungan-hubungan produksi, dan antara kepntingan-kepentingan kelas yang berbeda. Karena kontradiksi inilah, setiap tahap sejarah dalam perkembangan masyarakat dapat dilihat sebagai tahap yang mempersiapkan jalan untuk kehancuran akhirnya sendiri, dengan masing-masing tahap baru yang menolak tahap sebelumnya di mana secara paradoks memasuki awalnya. Namun gerak sejarah yang bersifat dialektik itu tidak terlepas dari kemauan atau usaha manusia. Manusialah yang menciptakan sejarahnya sendiri, meskipun kegiatan kreatifnya ditentukan dan terikat oleh lingkungan materil dan sosial yang ada. Khusus dalam ‘The Communist Manifesto’, Marx mendesak kaum buruh untuk mempergunakan moment yang tepat dalam sejarah yang ditimbulkan oleh munculnya krisis ekonomi, untuk mengubah masyarakat melalui kegiatan revolusioner mereka sendiri.


RINGKASAN

Adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Karl Marx dalam perkembangan sosiologi telah memberikan warna baru. Bahkan dalam perkembangannya kelak, sosiologi modern telah menampilkan lagi ajaran-ajarannya yang dikenal dengan Neo Marxian yang mewarnai suatu aliran dalam sosiologi yaitu pendekatan konflik. Juga dapat dicatat secara sosiologis adalah jasa Marx untuk menampilkan pendapatnya bahwa kesadaran manusia dan kesadaran golongan (kelas menurut Marx) senatiasa ditentukan pula oleh keadaan masyarakat di mana kesadaran itu hidup dan berkembang.

Kebesaran Marx tidak terlepas pula dari  kesilapan. Dia terlampau menekankan faktor ekonomi sebagai satu-satunya faktor yang paling penting menggerakkan sejarah. Dalam kenyataannya, berbagai faktor lain seperti faktor geografis dan dorongan-dorongan biologis yang inherent dalam diri manusia, lebih dahulu mengemuka dan bekerja dibandingkan dengan faktor ekonomis. Demikian juga faktor-faktor intelegensi, pengalaman, ide-ide religi, tata hukum bahkan seni memberikan aktifitas yang ditujukan kepada apa yang disebut dengan tujuan-tujuan ideal. Sebagaimana banyak kita temukan di dalam kehidupan masyarakat primitif, di mana seluruh aktifitas di lapangan sedemikian itu, merupakan faktor yang lebih dahulu di jalankan sebelum melaksanakan aktifitas ekonomi. xz





DAFTAR PUSTAKA

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Suatu Analisis Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber. UI Press. Jakarta.

Laeyendecker, L., 1994. Tata, Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

Lavine, T.Z.,  2002.Dari Socrates Ke Sartre: Petualangan Filsafat, Jendela. Yogyakarta
M. Siahaan, Hotman, 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Erlangga. Jakarta.

P. Johnson, Doyle, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Dindonesiakan : Robert M.Z. Lawang. Gramedia. Jakarta

Wardaya,  Baskara T., 2003. Marx Muda: Marx Muda Berwajah Manusiawi. Buku Baik.Yogyakarta.  

Ramli, Andi Muawiyah. 2000. Peta Pemikiran Karl Marx. LKLS. Yogyakarta.
Suseno, Frans Magnis. 2000. Pemikiran Karl Marx. Gramedia. Jakarta
Share this article :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

LOWONGAN KERJA

Kunjungan

Update

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner