Home » » SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI EMILE DURKHEIM

SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI EMILE DURKHEIM

Written By Arif Sobarudin on Jumat, 25 Mei 2012 | Jumat, Mei 25, 2012


PENDAHULUAN

Pokok bahasan yang akan diuraikan pada bab keenam ini adalah sumbangan pemikiran dari Emile Durkheim. Durkheim dapat dipandang sebagai salah seorang yang meletakkan dasar-dasar sosiologi modern. Durkheim adalah seorang ahli sosiologi yang sangat luas bidang perhatiannya. Ia menulis tentang metode-metode sosiologi, tentang pengetahuan dan sosiologi agama, tentang pembagian kerja dan bunuh diri, tentang pendidikan dan moral, dan tentang sosialisme. Hubungan dengan masalah-masalah sosial selau tampak dalam karyanya.

Durkheim sebagi tokoh klasik utama yang pendekatan teoritisnya menekankan tingkat analisa struktur sosial serta memperhatikan proses sosial yang meningkatkan integrasi dan solidaritas dalam masyarakat. Sosidaritas sosial dan integrasi mungkin dilihat sebagai suatu contoh dari fakta sosial yang berada diluar individu dan tidak dapat dijelaskan menurut karakteristik individu. Untuk memahami tingkat dan tipe solidaritas sosial yang terdapat dalam masyarakat, perlu menganalisa stuktur sosialnya.

Tekanan Durkheim pada tingkat analisa struktur sosial adalah pada analisa mengenai
hasil-hasil tindakan sosial yang obyektif terlepas dari motif-motif subyektif, serta minatnya pada penelitian mengenai dasar-dasar keteraturan sosial, merupakan elemen-elemen utama dalam teori fungsional masa kini.

Setelah mempelajari pokok bahasan di bab enam ini, mahasiswa diharapkan mampu :
  1. menjelaskan fakta sosial, karakteristik dan metode pengamatan fakta sosial  Durkheim.
  2. menjelaskan pengertian solidaritas sosial dan membedakan jenis-jenis solidaritas sosial menurut Durkheim.
  3. menjelaskan pengertian  kesadaran kolektif Durkheim
  4. menjelaskan teori bunuh diri dan jenis-jenis bunuh diri menurut Durkheim.
  5. menjelaskan pengertian anomi Durkheim
  6. menjelaskan pengertian integrasi masyarakat menurut Durkheim
  7. mengkaji fenomena masyarakat saat ini dengan menggunakan teori Durkheim

A.   Riwayat Hidup

Sosiolog besar ini dilahirkan di Epinal di propinsi Lorraine di Perancis  Timur pada 15 April 1858 dan meninggal tahun 1917. Durkheim bolehlah disebut sebagai sosiolog Perancis pertama yang sepanjang hidupnya menempuh jenjang ilmu sosiologi yang paling akademis. Dialah yang memperbaiki metode berfikir sosiologi yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran logika filosofis tetapi sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang yang benar katanya apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta yang dapat diobservasi. Tonggak sejarah yang penting dicapai ketika Durkheim mendirikan L’Anee Sociologique, jurnal ilmiah pertama untuk sosiologi. Jurnal itu meningkatkan pengertian serta penghargaan terhadap disiplin sosiologi yang mengalami perkembangan pesat.


B.  Fakta Sosial Durkheim


1.  Pengertian Fakta Sosial

Fakta sosial didefinisikan oleh Durkheim sebagai cara-cara bertindak, berfikir, dan merasa yang ada diluar individu dan yang memiliki daya paksa atas dirinya. Dalam arti lain, yang dimaksudkan adalah pengalaman umum manusia. Pengertian fakta sosial meliputi suatu spectrum gejala-gejala sosial. Yang terdapat bukan saja cara-cara bertindak dan berfikir melainkan juga cara-cara berada, yaitu fakta-fakta sosial morfologis, seperti bentuk permukiman, pola jalan-jalan, pembagian tanah, dan sebagainya.

Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam :
1.   Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak, ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial yang berbentuk material ini adalah bagian dari dunia nyata. Contohnya arsitektur dan norma hukum.
2.   Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata. Fakta sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya adalah egoisme, altruisme, dan opini.

2.  Karakteristik Fakta Sosial

Bagaimana gejala sosial itu benar-benar dapat dibedakan dari gejala yang benar-benar individual (psikologis) Durkheim mengemukakan dengan tegas tiga karakteristik fakta sosial, yaitu :
1.   Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. Individu sejak awalnya mengkonfrontasikan fakta sosial itu sebagai suatu kenyataan eksternal. Hampir setiap orang sudah mengalami hidup dalam satu situasi sosial yang baru, mungkin sebagai anggota baru dari suatu organisasi, dan pernah merasakan adanya norma serta kebiasaan yang sedang diamati yang tidak ditangkap/ dimengertinya secara penuh. Dalam situasi serupa itu, kebiasaan dan norma ini jelas dilihat sebagai sesuatu yang eksternal.
2.   Fakta itu memaksa individu. Individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan, didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh pelbagai tipe fakta sosial dalam lingkungan sosialnya. Seperti Durkheim katakan : Tipe perilaku atau berfikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya mereka memaksa individu terlepas dari kemauan individu itu sendiri. Ini tidak berarti bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara yang negatif atau membatasi atau memaksa seseorang untuk berprilaku yang bertentangan dengan kemauannya kalau sosialisasi itu berhasil, sehingga perintahnya akan kelihatan sebagai hal yang biasa, sama sekali tidak bertentangan dengan kemauan individu.
3.   Fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu masyarakat.    
      Dengan kata lain, fakta sosial itu merupakan milik bersama bukan sifat individu perorangan. Sifat umumnya ini bukan sekedar hasil dari penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta sosial benar-benar bersifat kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat kolektifnya ini.


3.  Metode Pengamatan Fakta Sosial

Durkheim dalam bukunya yang berjudul “The Rules Of Sosiological Method” memberikan dasar-dasar metodologi dalam sosiologi. Salah satu prinsip dasar yang ditekankan Durkheim adalah bahwa fakta sosial harus dijelaskan dalam hubungannya dengan fakta sosial lainnya. Ini adalah asas pokok yang mutlak. Kemungkinan lain yang besar untuk menjelaskan fakta sosial adalah menghubungkannya dengan gejala individu (seperti kemauan, kesadaran, kepentingan pribadi individu, dan seterusnya) seperti yang dikemukakan oleh ahli ekonomi klasik dan oleh Spencer.

Prinsip dasar yang kedua (dan salah satu yang fundamental dalam fungsionalisme modern) adalah bahwa asal-usul suatu gejala sosial dan fungsi-fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah. Seperti ditulis Durkheim “Lalu apabila penjelasan mengenai suatu gejala sosial diberikan kita harus memisahkan sebab yang mengakibatkannya (efficient cause) yang menghasilkan gejala itu, dan fungsi yang dijalankannya. Sesudah menentukan bahwa penjelasan tentang fakta sosial harus dicari di dalam fakta sosial lainnya, Durkheim memberikan strategi tentang perbandingan terkendali sebagai metoda yang paling cocok untuk mengembangkan penjelasan kausal dalam sosiologi.

Metoda perbandingan Durkheim lebih ketat dan terbatas. Pada intinya, metoda perbandingan terkendali itu meliputi klasifikasi silang dari fakta sosial tertentu untuk menentukan sejauh mana mereka berhubungan. Kalau korelasi antara dua himpunan fakta sosial dapat ditunjukkan sebagai valid dalam pelbagai macam keadaan, hal ini memberi satu petunjuk penting bahwa tipe fakta itu mungkin berhubungan secara kausal. Artinya, variasi dalam nilai dari satu tipe variable mungkin merupakan sebab dari variasi dalam nilai variable yang kedua.

C.  Solidaritas Sosial Durkheim

Solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau kelompok yang didasarkan pada perasaan moral  dan kepercayaan yang dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

Sumber utama bagi analisa Durkheim mengenai tipe-tipe yang berbeda dalam solidaritas dan sumber struktur sosialnya diperoleh dari bukunya “The Devision Of Labour In Society”. Tipe/jenis solidaritas yang dijelaskan Durkheim tersebut yaitu:
a.     Solidaritas mekanik.
        Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu kesadaran kolektif bersama, yang  
        menunjuk pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang rata-rata ada
        pada  warga masyarakat yang sama itu. Indikator yang paling jelas untuk
        solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum yang
        bersifat menekan itu  (repressive). Ciri khas yang penting dari solidaritas mekanik
        adalah bahwa silidaritas   itu didasarkan pada suatu tingkat homogenitas yang
        tinggi dalam kepercayaan, sentimen, dan sebagainya. Homogenitas serupa itu
        hanya mungkin kalau pembagian kerja bersifat sangat minim.

b.    Solidaritas organik.
       Solidaritas organik didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang tinggi.
       Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya spesialisasi
       dalam  pembagian pekerjaan, yang memungkinkan dan juga menggairahkan
       bertambahnya perbedaan dikalangan individu. Durkheim mempertahankan bahwa
       kuatnya solidaritas organik itu ditandai oleh pentingnya hukum yang bersifat
       memulihkan dari pada yang bersifat represif. Dalam sistem organik, kemarahan
       kolektif yang timbul karena perilaku menyimpang menjadi kecil kemungkinannya,
       karena kesadaran koleftif itu tidak begitu kuat.

Selain itu, Durkheim juga membandingkan sifat pokok dari masyarakat yang didasarkan pada solidaritas mekanik dengan sifat masyarakat yang didasarkan pada solidaritas organik.

Perbandingan tersebut yaitu :

Solidaritas Mekanik
Solidaritas Organik
-          Pembagian kerja rendah
-          Kesadaran kolektif rendah
-          Hukum represif dominan
-          Individualitas rendah
-          Konsensus terhadap pola-pola normatif itu penting
-          Peranan komunitas dalam menghukum orang yang menyimpang
-          Saling ketergantungan itu rendah
-          Bersifat primitif atau pedesaan
-          Pembagian kerja tinggi
-          Kesadaran kolektif lemah
-          Hukum restitutif dominan
-          Individualitas tinggi
-          Konsensus terhadap nilai abstrak dan umum itu penting
-          Badan kontrol sosial yang menghukum orang yang menyimpang
-          Saling ketergantungan yang tinggi
-          Bersifat industrial-perkotaan


D.  Kesadaran Kolektif

Kesadaran kolektif dapat memberikan dasar moral yang tidak bersifat kontraktual yang mendasari hubungan kontraktual. Dalam benak Durkheim, kesadaran kolektif yang mendasar ini diabaikan oleh ahli teori seperti Spencer, yang melihat dasar fundamental dari keteraturan sosial ini dalam hubungan-hubungan yang bersifat kontraktual. Kesadaran kolektif juga ada dalam bentuk yang lebih terbatas dalam pelbagai kelompok khusus dalam masyarakat.

Durkheim juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif bersama yang mungkin ada dalam pelbagai kelompok pekerjaan dan profesi. Keserupaan dalam kegiatan dan kepentingan pekerjaan memperlihatkan suatu homogenitas internal yang memungkinkan berkembangnya kebiasaan, kepercayaan, perasaan, dan prinsip moral dan kode etik bersama. Akibatnya, anggota kelompok ini dibimbing dan dipaksa untuk berprilaku sama seperti anggota satu suku bangsa primitif dengan pembagian kerja yang rendah yang dibimbing dan dipaksa oleh kesadaran kolektif yang kuat. Durkheim merasa bahwa solidaritas mekanik dalam pelbagai kelompok pekerjaan dan profesi harus menjadi semakin penting begitu pembagian pekerjaan meluas, sebagi satu alat perantara yang penting antara individu dan masyarakat secara keseluruhannya.

E.  Teori Bunuh Diri (Suicide)

Selain konsepsinya tentang solidaritas mekanis organis, Durkheim sangat terkenal dengan studinya tentang kecenderungan orang untuk melakukan bunuh diri. Dalam bukunya yang kedua, Suicide dikemukakan dengan jelas hubungan antara pengaruh integrasi social terhadap kecenderungan untuk melakukan bunuh diri. Durkheim dengan tegas menolak anggapan lama bahwa penyebab bunuh diri yang disebabkan oleh penyakit kejiwaan sebagaimana teori-teori psikologi mengatakannya. Dia juga menolak anggapan Gabriel Tarde bahwa bunuh diri akibat imitasi. Durkheim juga menolak teori yang menghubungkan bunuh diri dengan alkoholisme. Durkheim menolak  teori bunuh diri karena kemiskinan, kenyataan orang-orang lapisan atas tingkat bunuh dirinya lebih tinggi dibandingkan orang-orang dari lapisan atas. Dari hasil penelitiannya Negara-negara miskin seperti Italia dan Spanyol justru memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah dibandingkan dengan Negara-negara Eropa yang lebih makmur seperti Perancis dan Jerman.

Menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri sebenarnya kenyataan-kenyataan sosial tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sara penelitian dengan menghubungkannya dengan derajat integrasi sosial dari suatu kehidupan masyarakat. Untuk membuktikan teorinya, Durkheim memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam masyarakat, yaitu kesatuan agama, keluarga dan kesatuan politik.

Dalam kesatuan agama, Durkheim membuat kesimpulan bahwa penganut-penganut agama Protestan mempunyai kecenderungan lebih besar untuk melakukan bunuh diri dibandingkan dengan penganut agama Katholik.Hal ini dikarenakan perbedaan derajat integrasi sosial di antara penganut agama Katolik dengan Protestan. Penganut agama Protestan memperoleh kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaran-ajaran kitab suci.  Pada agama Katolik tafsir agama lebih ditentukan oleh para pater. Oleh karena itu kepercayaan bersama dari penganut Protestan menjadi berkurang,  hingga sekarang ini terdapat banyak gereja (sekte-sekte). Integrasi yang rendah dari penganut agama protestan itulah yang menyebabkan angka laju bunuh diri dari penganut ajaran ini lebih besar dibandingkan dengan penganut ajaran Katolik.

Dalam kesatuan keluarga, Durkheim menunjukkan bahwa angka laju bunuh diri lebih banyak terdapat pada orang-orang yang tidak kawin daripada mereka yang sudah kawin. Kesatuan keluarga yang lebih besar umumnya terintegrasi mengikat anggota-anggotanya untuk saling membantu.

Dalam kesatuan politik, Durkeim menyebutkan bahwa dalam keadaan damai, golongan militer ummunya lebih besar kecenderungan bunuh dirinya dibandingkan golongan masyarakat sipil. Sedangkan dalam suasana perang, golongan militer justru lebih sedikit melakukan bunuh diri bila dibandingkan golongan sipil karena mereka lebih terintegrasi dengan baik (disiplin keras). Dalam situasi perang justru kecenderungan bunuh diri lebih rendah dibandingkan situasi damai. Dalam masa revolusi/pergolakan politik, anggota-anggota masyarakat justru lebih terintgrasi dalam menghadapi musuh-musuhnya.


Durkheim mendefinisikan bunuh diri sebagai setiap kematian yang merupakan akibat langsung atau tidak langsung dari suatu perbuatan positif atau negatif oleh korban itu sendiri, yang mengetahui bahwa perbuatan itu akan berakibat seperti itu. Definisi itu terlampau luas, sebab didalamnya juga termasuk kematian para prajurit yang mengajukan dirinya untuk melaksanakan tugas yang sukar, ataupun kematian seorang ayah yang ingin menyelamatkan anaknya dari arus kencang yang bergolak. Hal ini akan berakibat negatif dalam penalaran seperti yang akan ternyata kemudian.

Durkheim membagi bunuh diri dalam beberapa jenis yaitu :
-          Bunuh diri egoistis (egoistic suicide) Yaitu yang merupakan akibat dari kurangnya integrasi dalam kelompok. Misalnya, lebih banyak orang Protestan yang bunuh diri dari pada orang Katolik. Sebab orang Katolik lebih terikat pada komunitas keagamaan sedangkan dalam Protestan terdapat anjuran yang kuat untuk bertanggung jawab secara individual. Kenyataan ini dinyatakan secara tepat sekali di dalam rumusan bahwa seorang Protestan dipaksa untuk bebas.
-          Bunuh diri anomi (anomie suicide). Anomi adalah suatu situasi dimana terjadi suatu keadaan tanpa aturan, dimana kesadaran kolektif tidak berfungsi. Jenis bunuh diri ini terjadi dalam waktu krisis dan bukannya krisis ekonomi saja. Bunuh diri ini juga terjadi bilamana sekonyong-konyong terjadi kemajuan yang tidak terduga.
-          Altruistic Suicide, adalah bunuh diri karena merasa dirinya menjadi beban masyarakat. Bunuh diri ini sifatnya tidak menuntut hak, sebaliknya memandang bunuh diri itu sebagai suatu kewajiban yang dibebankan oleh masyarakat. Contoh : Harakiri orang jepang.
-          Bunuh diri Fatalistik. Merupakan lawan dari bunuh diri anomi, dan yang timbul dari pengaturan kelakuan secara berlebih-lebihan, misalnya dalam rezim yang sangat keras dan otoriter.

]
F.   Anomi Durkheim

Anomi adalah suatu situasi di mana terjadi suatu keadaan tanpa aturan, di mana ‘colective conciousness (kesadaran kelompok)’ tidak berfungsi. Suatu situasi di mana aturan-aturan dalam masyarakat tidak berlaku/berfungsi lagi sehingga orang merasa kehilangan arah dalam kehidupan sosialnya. Contohnya krisis yang sering terjadi di dalam perdagangan dan industri, terhadap spesialisasi yang jauh di dalam ilmu pengetahuan yang merugikan kesatuan dalam ilmu pengetahuan sendiri, terhadap sengketa antara modal dan kerja.  Durkheim menamakan situasi ini situasi pembagian kerja anomis.

Sebaliknya, menurut pendapat Comte bahwa disintegrasi itu timbul pada saat pembagian kerja melewati suatu batas kritis. Disintegrasi ini hanya dapat dibendung oleh negara yang harus mengadakan tindakan yang mengatur. Durkheim berpendapat bahwa pandangan ini tidak benar. Aturan-aturan hanya timbul apabila terdapat interaksi yang cukup banyak dan cukup lama, kalau interaksi seperti itu tidak ada, maka terjadi anomi, yaitu sama sekali tidak ada aturan, atau aturan-aturan yang ada tidak sesuai dengan taraf perkembangan pembagian kerja. Karena itu, anomi tidak boleh diberantas dengan mengurangi pembagian kerja, tetapi dengan menghilangkan sebab-sebab anomi itu.


G.   Integrasi Masyarakat menurut Durkheim

Didalam karya besarnya yang pertama Durkheim membahas masalah pembagian kerja. Durkheim merumuskan masalahnya : Apakah peningkatan pembagian kerja harus dipandang sebagai kewajiban moral yang tidak boleh dihindari oleh manusia? Ia mencoba merumuskan jawabannya atas dasar suatu analisa obyektif terhadap fakta-fakta. Menurut penglihatannya, fungsi pembagian kerja itu ialah peningkatan solidaritas. Antara kawan-kawan dan didalam keluarga ketidaksamaan menciptakan suatu ikatan : justru karena individu mempunyai kualitas yang berbeda maka terdapatlah ketertiban, keselarasan, dan solidaritas. Karena individu melakukan berbagai kegiatan, maka mereka menjadi tergantung satu sama lain dan karenanya terikat satu sama lain. Karena ketertiban, keselarasan, dan solidaritas merupakan keperluan umum atau syarat-syarat hidup yang merupakan keharusan bagi organisme sosial, maka hipotesa bahwa pembagian kerja adalah syarat hidup bagi masyarakat modern dapat dibenarkan.


RINGKASAN

Durkheim adalah akademisi yang sangat mapan dan berpengaruh. Dia berhasil dalam melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akademi yang sah. Sebelum Durkheim, sosiologi merupakan bidang yang belum jelas perbedaannya dengan filsafat menurut ide-ide teoritisnya, juga tidak jelas perbedaannya dengan sejarah atau psikologi menurut isi dan metoda-metodanya. Pendiriannya mengenai kenyataan gejala sosial yang berbeda dengan gejala individu, analisanya mengenai tipe struktur sosial yang berbeda dan mengenai dasar soilidaritas sosial serta integrasinya yang berbeda-beda. Perhatiannya untuk menelusuri fungsi sosial dari gejala sosial yang terlepas dari maksud dan motivasi yang sadar dari individu, pemecahan sosilogisnya mengenai gejala penyimpangan, bunuh diri dan individualisme, serta studi statistiknya yang cermat mengenai angka bunuh diri sebagai contoh bagaimana menganalisa gejala sosial secara empiris, dalam semua bidang ini Durkeim memberikan sumbangan penting terhadap perkembangan perspektif sosilogi modern. Pengaruhnya mungkin sangat menyolok dalam aliran fungsionalisme sosiologi modern.



DAFTAR PUSTAKA



Abdullah, Taufik dan A.C. Van Der Leeden (Penyunting). 1986.  Durkheim dan Pengantar Sosiologi Moralitas. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan Adnan
Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

Gidden, Anthony, 1985. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, UI Press. Jakarta.

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Gramedia. Jakarta.

Laeyendecker, 1994. Tata Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar Sejarah Sosiologi. Gramedia.  Jakarta.

M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah dan Teori Sosiologi. Erlangga. Jakarta.

Ritzer, George. 1991. Sosiologi Ilmu Paradigma Ganda, Rajawali. Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 1985. Emile Durkheim. Aturan-Aturan Metode Sosiologis. Seri Pengenalan Sosiologi 2. Rajawali. Jakarta.

Veeger, K.J., 1986. Realitas Sosial. Gramedia. Jakarta.

Share this article :

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner