Home » » PARADIGMA DEFINISI SOSIAL

PARADIGMA DEFINISI SOSIAL

Written By Arif Sobarudin on Selasa, 12 Juni 2012 | Selasa, Juni 12, 2012

Max Weber sebagai tokoh paradigma ini mengartikan sosiologi sebagai suatu studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Yang dimaksud tindakan sosial itu adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang lain. Sebaliknya tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati atau objek fisik semata tanpa dihubungkannya dengan tindakan orang lain bukan merupakan tindakan sosial. Tindakan seseorang melempar batu ke sungai bukan tindakan social. Tapi tindakan tersebut dapat berubah menjadi tindakan social kalau dengan melemparkan batu tersebut menimbulkan reaksi dari orang lain seperti mengganggu seseorang yang sedang memancing.


Secara definitif Weber merumuskan Sosiologi sebagai ilmu yang berusaha untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal. Dalam definisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep tindakan sosial, kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman.Konsep terakhir ini ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.

Konsep pertama tentang tindakan sosial yang dimaksud Weber dapat berupa tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa tidakan yang bersifat ‘membatin’ atau bersifat subyektif yang mungkin terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Atau merupakan tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi yang serupa. Atau berupa persetujuan pasif dalam situasi tertentu.

Bertolak dari  konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar hubungan sosial sosial itu Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran penelitian sosiologi yaitu :
1. Tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang subyektif. Ini
     meliputi berbagai tindakan nyata.
2.  Tindakan nyata dan yang bersifat, membatin sepenuhnya dan bersifat subyektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang sengaja
    diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
4.  Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
5.  Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada orang lain itu.

Untuk mempelajari tindakan sosial itu Weber menganjurkan melalui penafsiran dan pemahaman (interpretative understanding), atau menurut terminology Weber disebut dengan verstehen. Bila seseorang hanya berusaha meneliti perilaku (behavior) saja, dia tidak akan meyakini bahwa perbuatan itu mempunyai arti subyektif dan diarakan kepada orang lain. Maka yang perlu dipahami adalah motif dari tindakan tersebut.  Menurut Weber ada 2 cara memahami motif tindakan yaitu : 1) kesungguhan, 2) mengenangkan dan menyelami pengalaman si actor. Peneliti menempatkan dirinya dalam posisi si actor serta mencoba memahami sesuatu yang dipahami si actor.

Atas dasar rasionalitas tindakan sosial, Weber membedakannya dalam empat tipe, dimana semakin rasional tindakan sosial itu semakin mudah dipahami, empat tipe itu adalah :

a. Zwerk rational, yakni tindakan sosial murni,. Dalam tindakan ini aktor tidak hanya sekedar menilai cara yang terbaik untuk mencapai tujuannya tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri.

b. Werktrational action, dalam tindakan tipe ini aktor tidak dapat menilai apakah cara-cara yang dipilinya itu merupakan yang paling tepat untuk mencapai tujuan yang lain. Dalam tindakan ini memang antara tujuan dan cara-cara mencapainya cenderung menjadi sukar untuk dibedakan, namun tindakan ini rasional karena pilihan terhadap cara-cara sudah menentukan tujuan yang diinginkan.

c. Affectual action, adalah tindakan yang dibuat-buat, dipengaruhi oleh perasaan emosi dan kepura-puraan si aktor. Tindakan ini sukar dipahami kurang atau tidak rasional.
d.Traditional action, tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan dalam mengerjakan sesuatu di masa lalu saja.

Kedua tipe tindakan yang terakhir sering hanya merupakan tanggapan secara otomatis terhadap rangsangan dari luar. Karena itu tidak termasuk dalam jenis tindakan yang penuh arti yang menjadi sasaran penelitian sosiologi.

 Konsep kedua dari Weber adalah konsep tentang antar hubungan social (social relationship). Hubungan sosial didefinsikan sebagai tindakan yang beberapa orang aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu mengandung makna dan dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan orang lain. Tidak semua kehidupan kolektif memnuhi syarat sebagai antar hubungan sosial, dimana tidak ada saling penyesuaian (mutual orientation) antara orang yang satu dengan yang lain meskipun ada sekumpulan orang yang diketemukan bersamaan.

Ada tiga teori yang termasuk ke dalam paradigma definisi sosial ini, yakni : Teori aksi (action theory), teori interaksionisme simbolik (symbolic interactionism) dan teori fhenomenologi (fhenomenology). Ketiga teori ini mempunyai kesamaan ide dasarnya yang berpandangan bahwa manusia adalah aktor yang aktif dan  kreatif dari realitas sosialnya. Artinya tindakan manusia tidak sepenuhnya ditentukan norma-norma, kebiasaan-kebiasaan, nilai-nilai dan sebagainya yang kesemuanya itu tercakup dalam fakta sosial. Manusia mempunyai cukup banyak kebebasan untuk bertindak di luar batas kontrol dari fakta sosial.


Di sini pula terletak perbedaan yang sebenarnya antara paradigma definisi sosial dengan paradigma fakta sosial. Paradigma fakta sosial menganggap bahwa perilaku manusia dikontrol oleh berbagai norma, nilai-nilai serta sekian alat pengendalian sosial lainnya. Sedangkan paradigma perilaku sosial (social behavior) adalah bahwa yang terakhir ini melihat tingkahlaku manusia senantiasa dikendalikan oleh kemungkinan penggunaan kekuasaan atau kemungkinan penggunaaan kekuatan (re-enforcement).  

Penganut paradigma Definisi Sosial cenderung menggunakan metode observasi dalam penelitian mereka. Alasannya adalah untuk dapat memahami realitas intrasubjective dan intersubjective dari tindakan sosial dan interaksi sosial. Namun kelemahan teknik observasi adalah ketika kehadiran peneliti di tengah-tengah kelompok yang diselidiki akan mempengaruhi tingkah laku subyek yang diselidiki itu. Lagipula tidak semua tingkah laku dapat diamati, seperti tingkah laku seksual misalnya.




1. Teori Aksi (Action Theory)

Tokoh-tokoh Teori Aksi di antaranya Florian Znaniecki, The Method of Sociology (1934) dan Social Actions (1936), Robert Mac Iver, Sociology: Its Structure and Changes (1931), Talcot Parsons; The Structure of Social Action (1937).

Beberapa asumsi dasar fundamental dari Teori Aksi dikemukakan Hinkle dengan merujuk karya Mac Iver, Znaniecki dan Parson sebagai berikut ;
a.  Tidakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagai subyek dan dari situasi
     ekternal dalam posisinya sebagai obyek.
b. Sebagai subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai tujuan–tujuan
     tertentu, jadi tindakan manusia bukan tanpa tujuan.
c.  Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur, metode serta
     perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.
d.  Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tak dapat diubah
     dengan sendirinya.
e.  Manusia memilih, menilai dan mengevaluasi terhadap tindakan yang akan, sedang
     dan  yang telah dilakukannya.
f.   Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan timbul pada saat
      pengambilan keputusan.
g.   Studi mengenai antar hubungan social memerlukan pemakaian teknik penemuan
      yang bersifat subjektif seperti metode verstehen, imajinasi, sympathetic
      reconstruction atau  seakan-akan mengalami sendiri (vicarious experience).

Kesimpulan utama yang dapat diambil adalah bahwa tindakan sosial merupakan suatu proses dimana aktor terlibat dalam pengambilan keputusan-keputusan subyektif tentang sarana dan cara untuk mencapai tujuan tertentu yang telah dipilih, yang kesemua itu dibatasi kemungkinan-kemungkinannya oleh sistem kebudayaan dalam bentuk norma-norma, ide-de dan nilai-nilai sosial. Di dalam menghadapi yang yang bersifat kendala baginya itu, aktor mempunyai sesuatu di dalam dirinya berupa kemauan bebas.

2. Teori Interaksionisme Simbolik

Tokoh-tokoh teori Interaksionisme Simbolik adalah John Dewey, Charles Horton Cooley, G.H. Mead. Ide dasar teori ini bersifat menentang behaviorisme radikal yang dipelopori oelh JB Watson. Hal ini tercermin dari gagasan tokoh sentral teori ini yakni G.H. Mead yang bermaksud untuk membedakan teori interaksionisme simbolik dengan teori behavioralisme radikal.

Behaviorisme Radikal berpendirian bahwa perilaku individu adalah sesuatu yang dapat diamati. Mempelajari tinglahlaku (behavior) manusia secara obyektif dari luar. Penganut behaviorisme cenderung melihat perilaku manusia itu seperti perilaku binatang dalam arti hanya semata-mata merupakan hasil  rangsangan dari luar.

Mead dari Interaksionisme Simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan mempergunakan teknik intropeksi untuk dapat mengetahui sesuatu yang melatarbrlakangi tindakan sosial tu dari sudut aktor dengan pengggunaan bahasa serta kemampuan belajar yang tidak dimiliki oleh binatang.

Menurut teori Interaksionisme Simbolik , fakta sosial bukanlah sesuatu yang mengendalikan dan memaksa tindakan manusia. Fakta sosial ditempatkan dalam kerangka simbol-simbol interaksi manusia. Teori ini menolak pandangan paradigma  fakta sosial dan paradigma perilaku sosial ( social behavior) yang tidak mengakui arti penting kedudukan individu. Padahal kenyataannya manusia mampu menciptakan dunianya sendiri.

Bagi paradigma fakta sosial, individu dipandangnya sebagai orang yang terlalu mudah dikendalikan oleh kekuatan yang berasal dari luar dirinya sendiri seperti  kultur, norma, dan peranan-peranan sosial. Sehingga  pandangan ini cenderung mengingkari kenyataan bahwa manusia mempunyai kepribadian sendiri. Sedangkan paradigma perilaku sosial melihat tingkah laku.

Beberapa asumsi tori Interaksionisme Simbolik  menurut Arnold Rose :
1. Manusia hidup dalam suatu lingkungan simbol-simbol. Manusia memberikan
    tanggapan terhadap simbol-simbol melalui proses belajar dan bergaul dalam
    masyarakat. Kemampuan  manusia berkomunikasi, belajar, serta memahami simbol-
    simbol itu merupakan kemampuan yang membedakan manusia dengan binatang.
2. Melalui simbol-simbol manusia berkemampaun menstimulir orang lain dengan cara 
    yang mungkin berbeda dari stimuli yang diterimanya dari orang lain.
3. Melalui komunikasi simbol-simbol dapat dipelajari sejumlah besar arti dan nilai-nilai,
    dan karena itu dapat dipelajari cara-cara tindakan orang lain.
4. Terdapat satuan-satuan kelompok yang mempunyai simbol-smbol yang sama., atau
     akan ada simbol kelompok.
5. Berfikir merupakan proses pencarian kemungkinan yang bersifat simbolis dan untuk
    mempelajari tindakan-tindakan yang akan datang, menaksir keuntungan dan kerugian
    relative menurut individual, di mana satu diantaranya dipilih untuk dilakukan.

Kesimpulan utama dari teori Interksionisme Simbolik bahwa kehidupan bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antara individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang dipahaminya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses interkasi bukan semata-mata tanggapan yang bersifat langsung terhadap stimulus yang datang dari lingkungannya, tetapi melalui proses belajar.


3. Teori Fenomenologi (Phenomenological Sociology)

Ada empat unsur pokok dari teori Fenomenologi Yaitu :
1. Perhatian terhadap aktor dengan memahami  makna tindakan aktor yang ditujukan
     kepada dirinya sendiri.
2. Memusatkan perhatian kepada kenyataan yang penting atau pokok dan kepada sikap
    yang wajar atau alamiah (natural attitude). Teori ini jelas bukan bermaksud fakta
     sosial secara langsung. Tetapi proses terbentuknya fakta sosial itulah yang menjadi
     pusat perhatiannya. Artinya bagaimana individu ikut serta dalam proses
     pembentukan dan pemeliharaan fakta-fakta sosial yang memaksa mereka itu.
3. Memusatkan perhatian kepada masalah makro. Maksudnya mempelajari proses
    pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi tatap muka
    untuk  memahaminya dalam hubungannya dengan situasi tertentu.
4. Memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan. Berusaha memahami
    bagaimana keteraturan dalam masyarakat diciptakan dan dipelihara dalam pergaulan
    sehari-hari. Norma-norma dan aturan-aturan yang mengendalikan tindakan manusia
    dan yang memantapkan struktur sosial dinilai sebagai hasil interpretasi si aktor
    terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya.

Share this article :

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

Statistik Info

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner