Home » » PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

PARADIGMA PERILAKU SOSIAL

Written By Arif Sobarudin on Selasa, 12 Juni 2012 | Selasa, Juni 12, 2012


Tokoh pendekatan behaviorisme ini adalah B.F. Skinner yang memegang peranan penting dalam pengembangan sosiologi behavior. Skinner mengkritik obyek studi paradigma fakta sosial dan definisi sosial bersifat mistis tidak konkrit relistis. Obyek studi sosiologi yang konkrit realistis adalah perilaku manusia yang nampak serta kemungkinan perulangannya (behavior of man and contingencies of reinforcement).

Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiaannya kepada hubungan antara individu dengan lingkungannya, dimana lingkungan itu terdiri atas : a) bermacam-macam obyek social dan b) bermacam-macam obyek non sosial.  Prinsip yang menguasai antar hubungan individu dengan obyek sosial adalah  sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu dengan obyek non sosial.  Pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini adalah tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan faktor-faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan dalam faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap tingkahlaku.

Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan. Tanggapan yang diberikan ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang dari luar dirinya. Jadi tingkah laku manusia lebih bersifat mekanik. Beda dengan paradigma definisi sosial yang menganggap aktor adalah dinamis dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam proses interaksinya. Ada dua teori yang termasuk ke dalam paradigma Perilaku Sosial, yakni  Teori Behavioral Sociology dan Teori Exchange.

Paradigma ini lebih banyak menggunakan metode eksprimen dalam penelitiannya. Keutamaan metode eksprimen ini adalah memberikan kemungkinan terhadap penelitian untuk mengontrol dengan ketat obyek dan kondisi di sekitarnya. Metode ini memungkinkan pula untuk membuat penilaian dan pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi terhadap efek dari perubahan-perubahan tingkahlaku aktor yang ditimbulkan dengan sengaja di dalam eksprimen. Walaupun eksprimen merupakan suatu metode penelitian langsung yang agak baik terhadap tingkahlaku aktor, namun peneliti masih dituntut untuk mengamati perilaku lanjut aktor yang sedang diteliti.


1. Teori Behavioral Sociology

 Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku aktor. Akibat tingkah laku diperlakukan sebagai variabel independen. Ini berarti teori ini berusaha menerangkan tingkah laku yang terjadi melalui akibat-akibat yang meengikutinya. Konsep dasar teori ini yang menjadi pemahamannya adalah “reinforcement” yang dapat diartikan sebagai ganjaran (reward). Tak ada sesuatu yang melekat dalam objek yang dapat menimbulkan ganjaran. Sesuatu ganjaran yang tak membawa pengaruh terhadap aktor  tidak akan diulang. Contohnya tentang makanan sebagai ganjaran yang umum dalam masyarakat. Tetapi bila sedang tidak lapar maka  makan tidak akan diulang. Bila si aktor telah kehabisan makanan, maka ia akan lapar dan makanan akan berfungsi sebagai pemaksa.


2. Teori  Exchange

Tokoh utama teori ini adalah George Homan, teori ini dibangun dengan maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, yang menyerang ide  Durkheim secara langsung dari tiga jurusan, yakni :
a)  pandangan tentang emergence. Selama berlangsung interaksi timbul fenomena baru 
     yang tidak perlu proposisi baru pula untuk menerangkan sifat fenomena baru yang
     timbul tersebut.
b)  pandangan tentang psikologi. Sosiologi dewasa ini sudah berdiri sendiri lepas dari     
     pengaruh psikologi.
c.  Metode penjelasan Durkheim. Fakta  sosial tertentu selalu menjadi penyebab
     fakta sosial yang lain yang perlu dijelaskan melalui pendekatan perilaku 
     (behavioral), yang   bersifat psikologi.

Keseluruhan materi Teori Exchange secara garis besarnya dapat dikembalikan pada 5 proposisi George Homan yaitu :
1.  Jika tingkahlaku tingkahlaku atau kejadian yang sudah lewat dalam konteks stimulus
     dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan tingkahlaku atau
     kejadian yang mempunyai hubungan dan stimulus dan situasi yang sama akan terjadi
     atau dilakukan.
2. Menyangkut frekuensi ganjaran yang diterima. Makin sering dalam peristiwa tertentu
    tingkahlaku seseorang memberikan ganjaran terhadap tingkahlaku orang lain, makin
    sering pula orang lain itu mengulang tingkahlakunya itu.
3. Memberikan arti atau nilai pada tingkahlaku yang di arahkan oleh orang lain terhadap
    aktor. Makin bernilai bagi seseorang sesuatu tingkahlaku orang lain yang ditujukan
    kepadanya makin besar kemungkinan  atau makin sering ia akan mengulangi
    tingkahlakunya itu.
4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain, makin
    berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya.
5. Makin dirugikan  seseorang dalam dalam hubungannya dengan orang lain, makin
    besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi.
Share this article :

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner