Home » » MUNCULNYA SEBUAH TEORI

MUNCULNYA SEBUAH TEORI

Written By Arif Sobarudin on Selasa, 12 Juni 2012 | Selasa, Juni 12, 2012


Sadar atau tidak, semua orang sebetulnya berteori. Orang yang paling erat hubungannya dengan kegiatan praktek sekalipun, seperti seorang pengacara yang membela perkara dan memperingati hakim supaya tetap berpegang pada fakta, harus menginterpretasikan fakta sehingga relevan baginya. Ini namanya proses berteori.

Berteori dengan jalan memberikan interpretasi itu sangatlah penting, karena perlu untuk menjelaskan peristiwa. Betapapun lingkungan suasana yang kita hadapi itu baik atau buruk, kita harus jelaskan kepada diri kita sendiri dan kepada orang lain, mengapa demikian. Caranya adalah dengan jalan menghubungkan situasi sekarang dengan pengalaman atau keputusan keputusan yang sudah kita berikan dimasa lampau, pengaruh-pengaruh sosial atau tekanan-tekanan dari orang lain, krisis-krisis yang umumnya dihadapi pada waktu itu, atau hambatan-hambatan serta kesempatan-kesempatan yang tersedia dalam lingkungan itu.

Orang tua berusaha menjelaskan mengapa anak-anaknya menanggung suatu akibat tertentu, mahasiswa berusaha menjelaskan kepada dirinya sendiri mengapa mereka tidak lulus walaupun mereka merasa bahwa tidak harus terjadi demikian, guru, polisi, para pemimpin politik menjelaskan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain, mengapa dan apa yang mereka buat.

Merencanakan atau meramalkan masa depan menuntut kita untuk melihat apa yang ada dibelakang fakta, dan berarti itu kita berteori. Tak seorangpun dapat meramalkan masa depan dengan mutlak. Apa yang kita buat adalah membuat dugaan-dugaan dan menyesuaikan perilaku kita sekarang ini dalam hubungannya dengan harapan-harapan. Orang muda yang memilih karir, orang tua yang menyesuaikan diri dengan perilaku anak-anaknya, para langganan yang merencanakan pembelanjaannya yang penting, penjual yang mengembangkan taktik-taktik penjualan, pemimpin politik yang yang berdebat mengenai dilema kebijaksanaan luar negeri, dan mahasiswa yang berspekulasi mengenai kira-kira apa yang diberikan oleh profesor dalam ujian yang akan datang, semua ini menunjukkan kepada kita akan adanya kebutuhan untuk bisa melihat apa yang ada dibalik fakta yang ada sekarang, dan kita berteori.

Ada sikap yang umumnya dikemukakan orang dalam bentuk pertanyaan “apa guna teori” dan mana faktanya. Kalau tidak ada fakta yang kuat, ide seringkali menjadi tidak karuan karena apa artinya teori tanpa fakta. Mahasiswa yang mempelajari sosiologi juga mempersoalkan perlunya mempelajari ide-ide abstrak yang kelihatannya mempunyai hubungan erat dengan dunia nyata. Asumsi bahwa kalau semua fakta diketahui maka orang akan berbicara tentang fakta saja dan teori tidak diperlukan lagi.

Tetapi tidak semua fakta yang kita butuhkan tersedia. Kalaupun faktanya sudah ada, masih harus diinterpretasikan supaya fakta itu mempunyai arti yang sesuai dengan kebutuhan dan rencana kita. Karena arti fakta itu tidak selalu jelas dengan sendirinya, maka teorilah yang dapat membantu kita untuk menginterpretasikan dan menilainya.

Suatu teori yang baik dapat membantu kita untuk memahami fakta, menjelaskan, dan memberikan ramalan yang valid, hal ini sangat perlu dalam suatu perencanaan untuk masa yang akan datang, baik yang berhubungan dengan kehidupan pribadi kita sendiri maupun yang berhubungan dengan perencanaan kebujaksanaan umum.

Para ahli ilmu sosial dan akademisi lainnya kadang-kadang dituduh terlalu menjauhkan diri dari dunia nyata dan hidup dalam menara gading. Teori-teori yang mereka berikan sering tidak praktis dan relevan. Kenyataan kehidupan sehari-hari nampaknya menjadi kabur karena mereka menjelaskannya dengan istilah-istilah tertentu yang hanya dimengerti oleh kelompok-kelompok tertentu saja (jargon).

Meskipun penggunaan istilah khusus yang sangat abstrak itu dapat merugikan, namun para spesialis dalam semua bidang ilmu pengetahuan, mulai dari ahli fisika dan hakim sampai dengan pekerja-pekerja dibengkel mobil dan konstruksi, memiliki perbendaharaan istilah sendiri. Hal ini sangat membantu mereka untuk dapat berkomunikasi secara tepat, memungkinkan mereka untuk dapat mengambil bagian dan mempertegas ide-ide yang bersifat teknis, serta memungkinkan mereka untuk dapat bekerja sama dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. Lebih berguna lagi kiranya, bahwa dengan istilah-istilah itu, batas-batas suatu profesi dapat ditarik, dan meningkatkan status para anggota profesi, serta membedakannya dari mereka yang tidak termasuk dalam profesi itu.

Teori yang dipergunakan orang dalam kehidupan sehari-hari biasanya bersifat implisit, tidak eksplisit. Sering teori-teori dapat kita lihat dalam tradisi dan dalam kebijaksanaan rakyat yang dapat diterima dengan akal sehat. Asumsi-asumsi teoritis yang mendasar itu dapat kita lihat dalam simbol-simbol kepercayaan yang sudah sangat berkambang mengenai kodrat manusia atau masyarakat, seperti misalnya kepercayaan agama yang mengatakan bahwa manusia memiliki satu keistimewaan tertentu yang diperolehnya dari Allah, dan yang membedakan manusia dari binatang-binatang lainnya, atau adannya kepercayaan bahwa dalam jangka waktu yang panjang, orang yang berperilaku baik akan dihargai dan yang berperilaku jahat atau buruk akan disiksa.

Teori-teori implisit itu mewarnai sikap kita pada umumnya terhadap orang lain dan terhadap masyarakat. Kita semua tahu bahwa ada orang yang sinis yang percaya bahwa manusia itu hanya tertarik pada kesejahteraannya sendiri saja, dan ada manusia yang optimis yang terus menerus menerus mencari sifat-sifat yang baik atau yang positif pada orang lain dan sering melihatnya demikian, sedangkan orang lain tidak. Karena banyak dari asumsi-asumsi ini bersifat implisit, maka orang lalu tidak menjadi sadar kalau mereka tidak konsisten.

Bagi kebanyakan orang,  teori-teorinya itu mungkin tetap bersifat implisit, tetapi karena pelbagai alasan, orang lain menjadi lebih sadar dimana segi-segi tertentu dari teori-teori mereka yang implisit itu menjadi eksplisit dan tunduk pada analisa objektif atau analisa kritis. Proses ini tidak harus berarti bahwa teori-teori implisit itu akan ditolak, sebaliknya teori-teori itu mungkin mendapat dukungan. Bagaimanapun individu menjadi sadar akan beberapaa dari asumsi-asumsi teoritis yang mendasarm dan rela mengujinya secara objektif, palaing kurang dalam tingkatan tertentu.

Umumnya kekuatan sesuatu teori terletak pada kemampuannya untuk membawa banyak pemikiran dan informasi mengenai suatu problem khusus. Teori demikian bisa menghasilkan dan mengandung ide-ide yang siap dipakai pada suatu ketika. Sebuah teori mencoba memecahkan sebuah problem teoritis ke dalam empat kategori yaitu :
1. Teori memungkinkan adanya ide-ide tambahan untuk pemecahan beberapa

    problem teoritis yang ada.
2. Teori memungkinkan adanya model-model dari buah pikiran dan dengan
    demikian menghasilkan suatu deskripsi skematis. Deskripsi itu dapat dibayangkan
    sebagai  suatu pola dan di dalam pola itu ide-ide tersebut tersusun rapi dan serasi.
3.  Model-model memungkinkan adanya teori-teori.
4.  Teori memungkinkan adanya hipotesa-hipotesa.

1. Teori Memungkinkan adanya Ide-Ide

Sebuah pendekatan teoritis terhadap suatu ide secara alamiah  menyebabkan penciptaan ide-ide lain yang membantu untuk menjelaskan yang satu dan mendefinisikan hubungannya dengan yang lain.Contohnya: kelas sosial bisa dirasakan atau dialami tapi tidak ada arti teoritis dalam batasan itu sendiri. Teori itu baru muncul kalau ide kelas sosial tersebut diletakkan bersama-sama dengan ide-ide tambahan  yang ikut menerangkan hal-hal lainnya. Misalnya memahami kelas sosial harus juga memahami arti struktur sosial, hak-hak istimewa, hubungan sosial, kewajiban, otoritas, dan ide-ide lainnya. Jadi, pada prinsipnya sebuah ide bisa dihasilkan dengan menguji sesuatu secara empiris, dan menjabarkan ide ini ke dalam peta ide-ide yang disebut dengan teori.

2. Teori Memungkinkan adanya Model-Model

Teori dan model berbeda, kalau teori menerangkan sesuatu secara langsung, sedangkan model menerangkan sesuatu dengan analogi. Suatu model dari sesuatu hal bukanlah hal itu sendiri tapi suatu yang punya sebuah persamaan dengan hal tersebut. Contohnya pesawat model dan Boeing 747 tidaklah sama, tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu terbangnya pesawat model karena dilemparkan, namun bergeraknya sayap-sayapnya di udara,  bentuk dan struktur sayap-sayap dan hubungan dengan struktur lainnya adalah analog dengan terbangnya Boeing 747.



3.  Model-Model Memungkinkan adanya Teori-teori

Sebuah teori bisa memprediksikan  bahwa ada suatu hubungan tertentu antara dua ide tetapi kurang membicarakan hubungan antara ide-ide ini dengan ide-ide lainnya. Dengan menemukan suatu model yang nampaknya mendekati hubungan antara ide-ide yang pertama, bisa dengan analogi bahwa ada ide-ide lain yang memungkinkan terjadinya hubungan itu oleh karena model itu memungkinkan tambahan-tambahan untuk teori tersebut.

4.  Teori-Teori Memungkinkan adanya Hipotesa-Hipotesa

Sebuah hipotesa adalah suatu pernyataan mengenai hubungan antara dua atau lebih ide-ide atau kelas-kelas dari suatu hal. Dalam hubungan yang paling kuat antar teori dan hipotesa adalah terjadi secara deduktif, yaitu hipotesa-hipotesa itu mengikuti secara langsung dari generalisasi dan konsep-konsep yang telah  ditetapkan dalam sebuah teori. Sebuah teori dapat menghasilkan hipotesa-hipotesa bila teori itu ditetapkan dalam problem teoritis atau empiris tertentu. Contohnya teori solidaritas sosial dan praktek-praktek keagamaan seperti yang dilakukan Emile Durkheim dalam bukunya Suicide, kita bisa membuat hipotesa-hipotesa atau pernyataan-pernyataan mengenai hubungan yang mungkin terjadi antara praktek-praktek agama dan sosial tertentu seperti bunuh diri misalnya.

Salah satu cara untuk mengklasifikasikan teori adalah mengikat diri dengan teori-teori itu menurut wilayah-wilayah di mana teori-teori itu mula-mula diajukan atau digunakan untuk berbagai macam keperluan. Cara lain ialah mengelompokkan teori-teori menurut wilayah di mana teori-teori itu dilahirkan dan digunakan secara paling luas.

Ada satu lagi cara untuk mengklasifikasikan teori yang banyak dianjurkan orang akhir-akhir ini, yaitu yang menekankan bahwa untuk mendapatkan teori mengenai sesuatu , sesuatu itu harus pertama-tama didefinisikan secara tepat dan kemudian sesuatu hal itu dapat diperhitungkan.
Share this article :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Informasi Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner