Home » » LEMBAGA sosial KELUARGA

LEMBAGA sosial KELUARGA

Written By Arif Sobarudin on Rabu, 24 Oktober 2012 | Rabu, Oktober 24, 2012

A. Struktur keluarga
Seperti semua lembaga, keluarga adalah suatu sistem norma dan tata cara yang diterima untuk menyelesaikan sejumlah tugas penting. Suatu keluarga mungkin merupakan:
1) Suatu kelompok yang mempunyai nenek moyang yang sama
2) Suatu kelompok kekerabatan yang disatukan oleh darah atau perkawinan
3) Pasangan perkawinan dengan atau tanpa anak
4) Satu orang dengan beberapa anak
Biro sensus Amerika Serikat mendefinisikan sebuah keluarga sebagai “dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah, perkawinan, atau adopsi dan tinggal bersama dalam suatu rumah tangga”. Definisi keluarga yang lain adalah suatu kelompok kekerabatan yang menyelenggarakan pemeliharaan anak dan kebutuhan manusiawi tertentu lainnya. Bila suatu masyarakat ingin tetap bertahan hidup, orang harus menemukan cara-cara yang dapat dilaksanakan dan dapat diandalkan untuk mendapatkan pasangan, melahirkan dan membesarkan anak, memenuhi kebutuhan ekonomi, memelihara orang sakit dan jompo dan melaksanakan fungsi-fungsi lain. Dari masyarakat yang satu ke masyarakat lain, fungsi-fungsi keluarga ini sangat berbeda. Namun yang paling berbeda lagi adalah bentuk keluarga.
1. Komposisi kelompok keluarga
Ada beberapa komposisi keluarga yaitu sebagai berikut:
1) Conjugal family atau nuclear family (keluarga batih), yaitu keluarga yang terdiri dari suami, istri, anak-anak dan kadang seorang sanak saudara lain yang didasarkan pada pertalian perkawinan atau kehidupan suami istri
2) Consanguine family (keluarga hubungan kerabat sedarah), tidak didasarkan pada pertalian hubungan suami istri, melainkan pada pertalian darah dari sejumlah orang kerabat. Keluarga hubungan sedarah adalah suatu klan luas dari saudara-saudara sedarah dengan pasangan dan anak-anak meraka.
3) Extended family (keluarga luas) seringkali digunakan untuk mengacu pada kelarga batih berikut kerabat lain kerabat lain dengan siapa hubungan baik dipelihara dan dipertahankan.
Cerita rakyat Amerika menasehatkan menjauhi saudara-saudara ipar dan mendesak pasangan suami-istri membangun rumah tangganya sendiri. Hal ini disebut sebagai perkawinan neolokal (neolocal marriage), yang dibedakan dari perkawinan patrilokal (patrilocal marriage), dimana pasangan nikah tinggal bersama keluarga suami dan dari perkawinan matrilokal (matrilocal marriage) dimana pasangan suami istri tinggal bersama keluarga istri.
Undang-undang Amerika menuntut seorang suami memelihara istri di suatu rumah terpisah dari keluarga lain kalau si istri memintanya. Undang-undang Amerika juga menuntut orang tua membesarkan anaknya sendiri, namun hanya membebankan sedikit kewajiban untuk mengurus orang tua mereka, dan sama sekali tidak diwajibkan untuk menanggung kakak, adik, saudara sepupu, paman, bibi dan kemenakan atau sanak saudara lainnya.
Keluarga hubungan sedarah mempunyai suasana yang berbeda. Bila keluarga kehidupan suami istri pada intinya memiliki pasangan suami istri, yang dikelilingi oleh saudara-saudara sedarah, maka keluarga hubungan sedarah mempunyai kelompok kakak dan adik yang dikelilingi oleh lingkungan keluarga suami dan istri. Dalam sebagian besar keluarga hubungan sedarah, seorang yang menikah tetap terikat kuat dengan keluarga orang tua dan hanya “secara semu berada” dalam keluarga suami atau istrinya sendiri. Hal itu mempunyai beberapa konsekuensi penting. Tanggung jawab seseorang terutama ditujukan kepada keluarga yang melahirkannya, bukan kepada keluarga pasangannya. Jadi seorang istri mungkin tidak tergantung pada suaminya, tetapi pada saudara-saudara lelakinya sendiri dalam melindungi dan membesaran anak-anaknya. Namun, ini tidak berarti bahwa suaminya dapat melarikan diri dari tanggung jawab melindungi dan membesarkan anak, karena ia harus bertanggung jawab terhadap anak-anak saudara perempuannya. Contoh keluarga hubungan sedarah adalah masyarakat Tanakala di Madagaskar.
2. Perkawinan
Perkawinan adalah suatu pola sosial yang disetujui, dengan cara mana dua orang atau lebih membentuk keluarga. Perkawinan tidak hanya mencakup hak untuk melahirkan dan membesarkan anak, tetapi juga seperangkat kewajiban dan hak istimewa yang mempengaruhi banyak orang. Arti sesungguhnya dari perkawinan adalah penerimaan status baru, dengan hak dan kewajiban yang baru serta pengakuan akan status baru oleh orang lain.
Kita menganggap bahwa perkawinan bagaikan petualangan romantis dengan seorang yang kita cintai. Gadis-gadis Cina klasik dengan senang hati akan menyambut perkawinannya dengan orang yang belum dikenal, karena perkawinan merupakan status yang diinginkan dan sebagai pemenuhan peratuan dengan laki-laki yang dipilih dengan bijaksana oleh orang tuanya. Sedangkan di Amerika, kehebohan bisa terjadi bila orang tua mengatur dan memaksakan perkawinan dua orang yang tidak pernah saling mengenal.
3. Endogami dan Eksogami
Setiap masyarakat membatasi pilihan dalam perkawinan dengan menuntut agar seseorang memilih jodoh dari luar kelompoknya sendiri. Inilah yang disebut eksogami. Dalam sebagian besar masyarakat, larangan perkawinan hanya diterapkan pada keluarga sedarah yang sangat dekat, orang tidak boleh mengawini saudara kandung, saudara sepupu dalam tingkat pertama atau keluarga sedarah lainnya yang masih sangat dekat. Banyak masyarakat memperluas lingkaran larangan perkawinan dengan melarang perkawinan dalam klan, bahkan kadang-kadang dalam suku.
Banyak juga masyarakat yang menuntut agar jodoh dipilih di dalam kelompoknya sendiri. Inilah yang disebut dengan endogami. Endogami kampung dan suku adalah sangat umum dalam masyarakat primitif. Di beberapa negara bagian Amerika Serikat endogami rasial diharuskan oleh undang-undang sampai Mahkamah Agung menghapuskan semua peraturan seperti itu pada tahun 1967, tetapi kebiasaan dan tekanan sosial terus masih mendorong endogami rasial dalam seluruh masyarakat Amerika.
4. Monogami dan Poligami
Bagi masyarakat Amerika, hanya ada satu bentuk perkawinan yang pantas dan beradab, yakni monogami satu pria dengan satu wanita. Namun, banyak masyarakat di dunia mempraktekkan poligami yang memperbolehkan seorang pria kawin dengan lebih dari satu. Secara teoritis ada tiga bentuk poligami, yaitu:
1) Perkawinan kelompok (group marriage)
Yakni perkawinan beberapa pria degan beberapa wanita. Walaupun bentuk ini merupakan kemungkinan teoritis yang menarik perhatian, namun tidak ada contoh otentik tentang masyarakat yang benar-benar melembagakan perkawinan seperti itu, kecuali orang Marquesans, pada suatu waktu tertentu.
2) Poliandri
Dimana satu istri memiliki beberapa suami. Salah satu dari beberapa contoh yang ada adalah Suku Toda di India bagian selatan. Dalam masyarakat ini, poliandri adalah bersifat fraternal (terbatas pada saudara-saudara kandung), artinya bila seorang wanita kawin dengan seorang pria, maka secara otomatis si wanita menjadi istri dari semua saudara suaminya. Mereka semua hidup bersama-sama tanpa rasa cemburu dan percekcokan. Poliandri suku Toda dapat dipahami bila kita mempelajari bahwa mereka hidup dalam lingkungan yang sangat keras, dimana makanan sangat langka dan pembunuhan bayi perempuan sering terjadi untuk membatasi jumlah penduduk. Hanya kekurangan wanita yang diciptakan oleh situasilah yang dapat memungkinkan terjadinya poliandri.
3) Poligini
Yaitu perkawinan seorang pria dengan dua wanita atau lebih dan biasanya bukan dengan wanita yang bersaudara kandung dilakukan serentak. Berbicara tentang poligini pasti memancing tanggapan etnosentris dari kebanyakan orang. Mereka akan menuduh merendahkan martabat wanita, menyebutnya sebagai perbudakan yang mematikan serta mengutuknya sebagai perilaku kebinatangan yang mengerikan. Kenyataannya adalah sebaliknya. Sulit untuk membuktikan bahwa wanita dalam masyarakat yang monogam mendapatkan status yang lebih memuaskan daripada wanita dalam masyarakat yang poligam. Bahkan dalam masyarakat poligini, sebagian besar perkawinan adalah monogam. Biasanya hanya pria yang lebih berhasil dan lebih berkuasalah yang mampu mengambil istri lebih dari satu. Dewasa ini praktek poligini sudah jarang dalam kebanyakan negara maju, tetapi masih umum dalam daerah suku-suku terpencil.
5. Pemilihan Jodoh
Proses pengaturan perkawinan menunjukkan lingkup kemungkinan yang menarik. Sebagaimana ditunjukkan di atas, beberapa masyarakat mengikuti suatu peraturan tertentu dimana dua anak dari keluarga yang berbeda telah ditentukan oleh kaum kerabatnya menjadi pasangan suami istri, sehingga pilihan pribadi menjadi tidak perlu lagi. Bila pilihan aktual diperlukan, maka pilihan ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Pasangan dapat menentukan pilihan mereka sendiri, kadang-kadang dengan persetujuan atau veto orang tua. Orang tua berhak mengatur perkawinan, dengan atau tanpa mempertimbangkan keinginan pasangan. Calon istri bisa jadi dibeli, atau dengan memberikan mas kawin yang aturannya sangat rumit. Merebut istri bukan hal yang asing. Pola-pola di atas adalah cara pengaturan perkawinan yang baku dalam beberapa masyarakat dunia.
Merebut istri sangat lazim, yang mempraktekkan eksogami desa dan tidak begitu memperhatikan kecantikan atau keistimewaan si wanita. Pertunangan seorang anak perempuan yang berumur tiga tahun dengan seorang anak lelaki belasan tahun yang dilakukan atas prakarsa orang tua sungguh lazim dan dianggap baik oleh suku Shirishana di Brazil.
6. Variasi dalam Struktur Keluarga
Terdapat daftar pola-pola keluarga yang “aneh”. Beberapa masyarakat mendorong persahabatan informal antara saudara laki-laki dan saudara perempuan; diantara masyarakat lain, seperti Nama Hottentots di Afrika saudara laki-laki dan perempuan diharapkan saling memperlakukan dengan penuh hormat dan resmi, tidak boleh menyapa secara langsung atau bahkan berduaan. Penghindaran semacam itu ditemukan dalam sejumlah masyarakat. Menghindari ibu mertua adalah hal yang paling umum; menantu mungkin tidak boleh memandang atau berbicara langsung kepada ibu mertua, atau bahkan menyebut namanya. Dalam sejumlah masyarakat tabu-tabu penghindaran menuntut sikap hormat yang ekstrim terhadap saudarau-saudara tertentu, sedangkan hubungan istimewa mengizinkan keakraban dengan saudara-saudara tertentu. Dalam masyarakat Nama Hottentots, incest saudara kandung adalah kejahatan yang paling jahat dari segala kejahatan, tetapi saudara (antar sepupu) boleh melakukan “hubungan iseng”, termasuk bicara bebas, kelakar-kelakar porno dan bahkan keintiman seksual. Semuanya ini hanyalah menunjukkan bahwa keluarga melipui sejumlah anggota yang berbeda-beda yang hubungannya satu sama lainnya sangat bervariasi dalam berbagai masyarakat.
B. Fungsi keluarga
1. Fungsi pengaturan seksual
Keluarga adalah lembaga pokok, yang merupakan wahana bagi masyarakat untuk mengatur dan mengorganisasikan kepuasan keinginan seksual. Sebagian besar masyarakat menyediakan berbagai macam cara untuk menyalurkan nafsu seksual. Dengan tingkat toleransi yang berbeda-beda, dalam setiap masyarakat terdapat beberapa penyimpangan kebudayaan nyata dari kebudayaan yang dicita-citakan dalam perilaku seksual. Sebagian besar masyarakat mempunyai sejumlah norma penghindaran yang menetapkan bagaimana menyadarkan kegiatan seks yang tidak disetujui secara bijaksana (misalnya, “tempat hiburan”). Namun, semua masyarakat mengharapkan bahwa sebagian besar hubungan seksual akan terjadi antara orang-orang yang oleh norma-norma mereka ditentukan sebagai boleh berhubungan satu sama lain secara sah. Tidak ada masyarakat yang sama sekali mengizinkan persetubuhan dengan siapa saja. Setiap masyarakat mempunyai tata kelakuan yang melarang orang-orang tertentu berhubungan dengan seorang tertentu pula.
2 Fungsi reproduksi
Untuk urusan “memproduksi” anak setiap masyarakat terutama tergantung pada keluarga. Tidak ada masyarakat yang menetapkan seperangkat norma untuk memperoleh anak kecuali sebagai bagian dari keluarga.
3. Fungsi sosialisasi
Semua masyarakat tergantung terutama pada keluarga bagi sosialisasi anak-anak alam dewasa yang dapat berfungsi dengan baik dalam masyarakat itu. Keluarga merupakan kelompok primer yang pertama dari seseorang anak dan dari situlah perkembangan kepribadian bermula. Ketika anak sudah cukup umur untuk memasuki kelompok primer lain di luar keluarga, pondasi dasar kepribadiannya sudah ditanamkan secara kuat. Jenis kepribadiannya sudah diarahkan dan terbentuk. Contohnya, Mantell (1974) yang membandingkan latar belakang keluarga awal dari sebuah sampel Green Berets (kesatuan elite dalam perang Vietnam yang terkenal kejam) dengan sampel tandingan dari para penentang perang, menemukan banyak perbedaan yang penting. Green Berets berasal dari orang tua yang umumnya otoriter, beragama secara konvensional, tidak perasa, tidak mengumbar afeksi lebih bersikap sebagai pengawas dari pada sebagai kawan terhadap anak dan menuntut kepatuhan mutlak. Sedangkan sifat orang tua para penentang perang bertolak belakang dengan sifat yang disebutkan di atas
Salah satu dari sekian banyak cara keluarga untuk mensosialisasikan anak adalah melalui pemberian model bagi anak. Anak belajar menjadi laki-laki, suami dan ayah terutama melalui tinggal dan hidup bersama dengan keluarga yang dipimpin oleh seorang laki-laki, suami dan ayah. Sosialisasi akan menemui kesulitan bila model semacam itu tidak ada dan bila anak harus mengandalkan diri pada model yang disaksikan dalam keluarga lain. Tidak ada pengganti ibu atau ayah yang sungguh memuaskan yang dapat berfungsi dengan baik dalam proses sosialisasi.
Sosialisasi dalam keluarga yang serba susah
“Keluarga yang serba susah” adalah keluarga yang menghadapi berbagai macam masalah dan kemiskinan yang mencekik. Masalah ini biasanya meliputi tekanan kemiskinan dan percekcokan, kehilangan salah seorang orang tua atau tertimpa masalah lain seperti pengangguran dan pekerjaan yang tidak tetap, kecanduan minuman keras dan obat bius, pelanggaran hukum, ketergantungan, kenakalan serta penyakit fisik atau mental. Keluarga seperti itu gagal memenuhi suatu fungsi keluarga secara memadai dan karena itu mereka mensosialisasikan anak-anak mereka untuk meneruskan pola ketidakmampuan dan ketergantungan. Kekurangan gizi secara permanen merusak fisik dan petumbuhan intelektual serta menyebabkan kegagalan sekolah mereka. Setiap daerah kumuh, pedesaan atau perkotaan, orang kulit putih atau kulit hitam penuh dengan “gelandangan”, yakni anak-anak keluarga kelas bawah yang tidak terurus, yang kehilangan cinta dan afeksi, terasing dari masyarakat.
4. Fungsi afeksi
Salah satu kebutuhan dasar manusia adalah kebutuhan akan kasih sayang atau rasa dicintai. Pandangan psikiatri berpendapat bahwa penyebab utama gangguan emosional, masalah perilaku dan bahkan kesehatan fisik terbesar adalah ketiadaan cinta, yakni tidak adanya kehangatan, hubungan kasih sayang dalam suatu lingkungan assosiasi yang intim. Setumpuk data menunjukkan bahwa kenakalan yang serius adalah salah satu ciri khas dari anak yang sama sekali tidak mendapat perhatian atau merasakan kasih sayang. Seorang bayi yang mendapat perawatan fisik yang sangat baik, namun tidak ditimang-timang dan tidak mendapat kasih sayang kemungkinan sekali akan berkembang kesuatu kondisi yang secara medis dikenal sebagai marasmus (dari kata Yunani yang berarti “merana”). Dia akan kehilangan berat badan, merengek dan lesu dan tidak jarang mati. Studi klasik menunjukkan bagaimana anak yang ditempatkan dalam ruang steril di rumah sakit atau di panti asuhan akan mengalami perkembangan emosional dan seringkali menunjukkan tingkat penderitaan dan kematian yang sangat tinggi. Ketiadaan afeksi sungguh menggerogoti kemampuan seorang bayi untuk bertahan hidup.
Cukup banyak bukti yang menunjukkan bahwa kebutuhan akan persahabatan dan keintiman, tanggapan manusiawi yang penuh kasih sayang penting bagi kita. Barangkali cinta adalah salah satu kebutuhan sosial kita yang paling penting, jauh lebih penting dari pada misalnya seks. Orang yang tidak pernah dicintai jarang bahagia, sehat dan berguna.
5. Fungsi penentuan status
Dalam memasuki sebuah keluarga, seseorang mewarisi suatu rangkaian status. Seseorang menerima beberapa status dalam keluarga, berdasarkan umur, jenis kelamin, urutan kelahiran dan lain-lain. Keluarga juga berfungsi sebagai dasar untuk memberi beberapa status sosial, seperti, seorang kulit putih, orang Islam kelas menengah. Dalam masyarakat yang berdasarkan sistem kelas, status kelas keluarga seorang anak sangat menentukan peluang dan hadiah yang terbuka untuk itu dan harapan yang dapat digunakan orang lain untuk mendorong atau merintangi. Status kelas dapat diubah melalui beberapa kombinasi dari usaha pribadi dan keberuntungan.
Namun, setiap anak mulai dengan status kelas keluarganya dan ini sangat mempengaruhi prestasi dan imbalan yang akan diterimanya. Penetapan kelas mungkin tampak sangat tidak adil, namun tidak dapat dihindari. Keluarga tidak dapat menolak mempersiapkan anak bagi suatu status kelas yang mirip dengan status yang dimilikinya sendiri, karena setiap proses kehidupan dan pertumbuhan dalam keluarga tersebut adalah persiapan bagi status kelasnya. Biasanya anak menyerap dari keluarganya sederetan minat, nilai dan kebiasaan yang memudahkannya untuk melanjutkan status kelas keluarganya, sulit untuk mencapai yang lebih tinngi dan menyakitkan untuk menerima status kelas yang lebih rendah.
6. Fungsi perlindungan
Dalam setiap masyarakat, keluarga memberikan perlindungan fisik, ekonomis dan psikologis bagi seluruh anggotanya. Beberapa masyarakat memandang serangan terhadap seorang anggota berarti serangan terhadap seluruh keluarga orang itu, dan seluruh anggota keluarga wajib untuk membela anggota keluarga atau membalaskan semua penghinaan. Kesalahan dan malu dipikul bersama oleh seluruh anggota keluarga. Dalam masyarakat yang paling primitif, keluarga adalah unit pemilik dan pembagi makanan yang bersama-sama kenyang atau lapar; selama saudara-saudara masih mempunyai makanan, maka tidak perlu takut kelaparan.
7. Fungsi ekonomis
Seperti dikatakan di atas keluarga merupakan unit ekonomi dasar dalam sebagian besar masyarakat primtif. Para anggota keluarga bekerja sama sebagai tim untuk menghasilkan sesuatu. Klan dalam banyak masyarakat merupakan unit dasar kerja sama dan sepenanggungan, namun yang paling umum adalah keluarga.
C. Perubahan Struktur Keluarga (Keluarga Di Amerika)
1. Jumlah Anggota Keluarga Sudah Menurun
Bukan rahasia lagi bahwa keluarga dengan dua belas anak pada abad lalu sekarang ini sudah jarang terdapat. Tingkat kelahiran di Barat mulai merosot sejak abad yang lalu. Gerakan kebebasan wanita (women’s liberation movement) mendorong kaum wanita untuk memandang pemeliharaan anak sebagai suatu pilihan bukan sebagai suatu kewajiban. Proporsi pasangan yang memilih untuk tetap tanpa anak meningkat, dan semakin banyak wanita yang menunda menjadi ibu, dengan kira-kira sepertiga dari mereka baru mempunyai anak pertama pada usia 25 tahun atau lebih.
Pergeseran dari masyarakat tani, buta huruf ke masyarakat melek huruf, terspesialisasi dan terindustrialisasi telah mengubah anak dari modal ekonomi menjadi beban yang mahal. Pergeseran dalam pola rekreasi, dalam aspirasi pendidikan dan mobilitas sosial, serta perubahan konsep hak-hak individu bersatupadu untuk mengekang penambahan jumlah anak secara menyeluruh.
2. Keluarga Tanpa Ayah Atau Ibu (Singgle Parent) Meningkat
Sepanjang sebagian besar sejarah Barat, jumlah anak yang ikut dan dibesarkan oleh ayah dalam keluarga yang pecah oleh perceraian adalah jauh lebih kecil daripada jumlah anak yang ikut ayah akibat kematian ibu. Pada abad yang lalu, pandangan bahwa anak dari orang tua yang cerai “ikut” dengan ibu yang berpenghasilan jarang dipersoalkan. Dewasa ini asumsi tersebut dipersoalkan oleh tidak kurang dari 65.000 bapak yang membesarkan anak-anak mereka sendiri. Sejumlah studi nampaknya menunjukkan bahwa para suami juga dapat berhasil membesarkan anak mereka sendiri, walaupun banyak mendatangkan masalah khusus.
3. Rumah tangga bujangan meningkat
Secara historis sulit bagi seseorang untuk hidup nyaman sendirian. Hanya dengan bergabung dengan keluarga atau dengan membangun suatu keluarga yang lengkap seseorang dapat hidup nyaman. Sekarang ini akomodasi fisik lebih menguntungkan, apartemen dengan perabotan dan pelayanannya, pakaian “cuci dan pakai”, mesin cuci, pelayanan catering dan berbagai macam pelayanan mempermudah si bujang.
Walaupun terdapat berbagai pendapat yang berbeda tentang “kesenangan” hidup membujang, namun peningkatan jumlah rumah tangga bujangan adalah perubahan yang sangat penting dalam pola keluarga Amerika. Misalnya orang yang sendirian lebih mudah tertimpa kemalangan seperti penyakit dan dicurigai lebih mudah melakukan penyimpangan daripada orang yang hidup berkeluarga.
Share this article :

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner