Home » » PENGERTIAN LEMBAGA AGAMA

PENGERTIAN LEMBAGA AGAMA

Written By Arif Sobarudin on Rabu, 24 Oktober 2012 | Rabu, Oktober 24, 2012

A. Agama dan Masyarakat
Keyakinan pemerintah Singapura akan pengaruh pengajaran agama di sekolah, merupakan keyakinan yang juga dianut oleh banyak orang. Semua agama besar menekankan kebajikan seperti kejujuran dan cinta sesama. Kebajikan ini sangat penting bagi keteraturan perilaku masyarakat manusia, dan agama membantu manusia untuk memandang serius kebajikan seperti itu.
Agama berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya lebih dari perilaku moral. Agama menawarkan suatu pandangan dunia dan jawaban atas berbagai persoalan yang membingungkan manusia. Agama mendorong manusia untuk tidak melulu memikirkan kepentingan diri sendiri melainkan juga memikirkan kepentingan sesama. Sosiolog tidak berusaha untuk menghakimi kebenaran keyakinan suatu agama, namun sungguh-sungguh berupaya untuk menemukan pengaruh sosial dari berbagai macam keyakinan dan menemukan tendensi dari berbagai jenis keyakinan dan kebiasaan agama tertentu yang berkembang dalam kondisi sosial tertentu.
Mereka yang berusaha untuk memahami hakekat masyarakat nampak sangat terdorong untuk menjelaskan peran agama, baik mereka menyebut diri “religius” atau tidak. Sebagian orang menganggap agama sebagai pengaruh utama, sedang yang lainnya menganggap agama itu kuno atau bahkan membahayakan; namun lepas dari penilaian ini agama terlau penting untuk dilalaikan.
1. Agama Sebagai Suatu Tahap Evolusi
Auguste Comte, yang sering dipandang sebagai “bapak” sosiologi, menyodorkan pandangan sekuler bahwa agama merupakan suatu tahap evolusi. Singkatnya, gagasan ini berarti bahwa agama pernah dipandang penting, namun sudah menjadi usang lantaran perkembangan modern. Sistem keyakinan religius sudah digantikan dengan pengetahuan ilmiah. Comte menuliskan tiga tahap pemikiran manusia: teologis, metafisis dan ilmiah (positif). Bagi Comte hanya tahap terakhir yang sah, kalau agama masih tetap bertahan, itu pun hanya sebagai “agama humanitas” yang berdasarkan ilmu pengetahuan.
Tidak perlu diragukan bahwa pemikiran ilmiah sangat mempengaruhi sistem keyakinan agama tradisional dan bahwa banyak fungsi lembaga agama sudah berubah. Apakah ini berarti akhir dari agama ataukah hanya menunjujkkan adanya perubahan institusional?.
2. Agama Sebagai Kekuatan Pemersatu Masyarakat
Emile Durkheim, seorang sosiolog Perancis, bertahun-tahun menyelidiki praktek-praktek religius suku asli Australia. Dalam The Elementary Forms of Religiuous Life (1912) ia menyimpulkan bahwa tujuan utama agama dalam masyarakat primitif adalah untuk membantu orang melakukan kontak bukan dengan Tuhannya, tetapi dengan sesamanya. Ritual-ritual religius membantu orang untuk mengembangkan rasa sepaguyuban (sense of community) misalnya, mereka bersama-sama ambil bagian dalam peristiwa perkawinan, kelahiran dan kematian dan bersama-sama merayakan musim tanam dan panen serta masa titik balik matahari musim dingin. Hal itu mempersatukan kelompok; jadi tidak seorang pun menghadapi kehidupan ini sendirian.
Dalam suatu negara yang didalamnya terdapat beragam keyakinan dan denominasi agama tidak dengan mudah dapat mempersatukan seluruh masyarakat, namun dapat mempersatukan masing-masing kelompok religius dalam suatu sistem yang saling menopang.
3. Agama sebagai “candu rakyat”
Pandangan Karl Marx didasarkan pada premis dasarnya bahwa: kekuatan yang paling dominan dalam masyarakat adalah kekuatan ekonomi, sedangkan kekuatan yang lainnya adalah sekunder. Agama dilihat sebagai “kesadaran yang palsu”, karena hanya berkenaan dengan hal-hal yang sepele dan semu atau hal-hal yang tidak ada seperti sungguh-sungguh mencerminkan kepentingan kepentingan ekonomi kelas sosial yang berkuasa. Agama merupakan “candu rakyat” karena hanya menawarkan “cita-cita yang tidak terjangkau”, membelokkan rakyat dari perjuangan kelas dan memperpanjang dari eksploitasi mereka. Oleh karena itu, semua pemerintahan komunis adalah musuh agama.
4. Agama Sebagai Kekuatan Dinamis
Pandangan mengenai agama sebagai semacam lembaga bayangan yang melulu mencerminkan kekuasaan dan kepentingan kelas yang berkuasa ditentang oleh sosiologi Jerman Max Weber. Weber yang mengkaji kebangkitan kapitalisme berpendapat bahwa kapitalisme didukung oleh sikap yang ditekankan oleh Protestanisme asketik. Jadi bukan (kekuatan ekonomi) yang menentukan agama, tetapi agamalah yang menentukan arah perkembangan ekonomi.
B. Fungsi Manifes dan Laten Agama
1. Fungsi Manifes
Fungsi agama mencakup kurang lebih tiga jenis lingkup perhatian: pola keyakinan yang disebut doktrin, yang menentukan sifat hubungan antar manusia dengan sesamanya dan manusia dengan Tuhan. Ritual yang melambangkan doktrin dan yang mengingatkan manusia pada doktrin tersebut; seperangkat norma perilaku yang konsisten dengan doktrin tersebut. Tugas untuk menjelaskan dan membela doktrin, melaksanakan ritual dan memperkuat norma perilaku yang diinginkan suatu pola pemujaan, penyiaran agama, karya sosial dan sebagainya memerlukan investasi uang dan personil yang sangat besar.
2. Fungsi Laten
Sejumah orang akan menolak fungsi manifes agama, namun beberapa fungsi laten gereja membawa konsekuensi yang seringkali bahkan mengagetkan orang beriman. Pada saat yang sama, mereka mungkin merangsang persetujuan atau perlawanan dari semua orang yang tidak menganggap dirinya sendiri sangat religius.
Gereja adalah suatu lingkungan pergaulan dan juga lingkungan ibadat. Kelompok muda-mudi gereja memberikan kesempatan untuk mempelajari kepemimpinan dan mengatur pertunangan dan pemilihan jodoh. Gereja menghiasi komunitasnya dengan bangunan yang indah dan inspiratif, merangsang kesenian dan musik, menyelenggarakan konser dan festival. Gereja membantu pendatang baru agar di kenal. Fungsi laten gereja adalah membagi komunitas berdasarkan ras dan kelas. Walaupun mengkhotbahkan di hadapan Tuhan semua orang adalah sama, namun gereja memamerkan perbedaan kekayaan yang tampak pada para anggota yang berpakaian bagus dan yang sangat sederhana pada hari minggu.
C. Hubungan Timbal Balik dengan Lembaga Lain
1. Agama dan Ekonomi
Salah satu teori yang paling berpengaruh tentang hubungan timbal balik antara agama dan ekonomi dinyatakan oleh Weber dalam bukunya yang berjudul The Protestant Ethic and The Spirit of Capitalism (1904). Weber menyatakan bahwa revolusi industri dan pertumbuhan bisnis berskala besar jauh lebih cepat berkembang di daerah Protestan daripada di daerah Katolik, dan daerah-daerah yang berbau Protestan jauh lebih giat dalam pengembanan bisnis. Keadaan semacam itu dapat menjelaskan depresi ekonomi di Prancis yang menyusul pengusiran orang-orang Huguenot pada akhir abad ke tujuh belas. Ungkapan “kaya seperti orang Huguenot” menjadi stereotip yang populer, dan pengusiran terhadap orang-orang Protestan memperlambat laju industri Prancis tetapi mempercepat perkembangan bisnis di negara-negara tempat orang-orang Huguenot mencari suaka.
Etika protestan menanamkan keutamaan-keutamaan individualisme, hidup sederhana, hemat dan pemuliaan pekerjaan religius – praktek yang jelas membantu akumulasi kekayaan. Praktek ini biasanya dikatikan dengan penekanan Agama Protestan pada tanggung jawab individu dan bukan pada gereja, pada interpretasi sukses duniawi sebagai tanda rahmat Tuhan, dan pada reaksi terhadap simbol-simbol kekayaan yang telah ditumpuk oleh gereja tradisional.
2. Agama dan Pemerintahan
Agama dan pemerintahan saling berhubungan dalam banyak cara. Misalnya, dukungan partai politik di A.S dikatikan dengan preferensi agama. Misalnya, dukungan partai politik di A.S dikaitkan dengan preferensi agama. Dalam pemilihan Kongres 1982, calon Demokrat didukung oleh 47% dari pemilih Protestan, 60% dari Katolik dan 75 % dari orang Yahudi. Tidak ada satu calon presidenpun yang ateis maupun agnostik, dan ketiga calon presiden mengklaim diri sebagai orang Kristen yang “lahir kembali”.
Para pemimpin agama seringkali tampak mempunyai sedikit kekuasaan bila dibandingkan dengan para pemimpin pemerintah. Sikap itu diungkapkan dengan cara yang kasar oleh diktator Uni Sovyet Josef Stalin. Ketika diberitahu bahwa Paus mengkritik beberapa kebijakannya, ia menjawab: “berapa banyak divisi militer yang ia miliki?”. Namun pernah juga terjadi bahwa pemimpin agama sangat merendahkan raja. Peristiwa tersebut pernah terjadi keetika Raja Henry II dari Inggris bertelanjang kaki menuju makan Thomas a Becket untuk tunduk kepada peraturan para pastor Katedral Canterbury
D. Kecenderungan kontemporer dalam agama
1. Persaingan Agama
Walaupun agama menjunjung tinggi sikap damai, tetapi tidak jarang juga membagi manusia ke dalam kubu-kubu yang saling berperang. Kadang-kadang kelompok mengidentifikasikan diri dengan agama, misalnya orang-orang Katolik dan Protestan di Irlandia Utara, atau orang-orang Islam dan Kristen di Libanon yang menimbulkan perang yang kejam. Peperangan itu sendiri biasanya tidak secara langsung berhubungan dengan doktrin agama, tetapi hanya suatu perebutan kekuasaan di antara kelompok yang membawa label-label keagamaan.
Di lain pihak, adanya perbedaan iman dan ritus tidak jarang. Juga menjadi alasan persaingan, perdebatan, konflik politis, perselisihan keluarga dan bahkan kekerasan fisik. Setidak-tidaknya, orang belajar bahwa gerejanya sendiri membawa kebenaran sedangkan gereja lain dicemari kebohongan, suatu keyakinan yang menciptakan kelompok sendiri (in group) dan kelompok luar (out group) yang menyulitkan tercapainya saling pengertian.
Persaingan agama semacam itu tampak sangat menyolok di Amerika Serikat, yang tidak mempunyai gereja resmi yang memiliki lebih dari 200 sekte yang mengusahakan kesetiaan para anggota yang sering pindah agama.
2. Daya Tarik Aliran Kepercayaan
Aliran kepercayaan terdapat pada semua agama dan biasanya berusia pendek. Di Amerika Serikat terdapat beberapa kelompok, misalnya kelompok Sinanon atau Saintologi. Kelompok aliran kepercayaan dapat saja menyatakan kecemasan total terhadap nilai-nilai yang berlaku, dan para anggotanya seringkali setia secara fanatik, meskipun beberapa tahun kemudian mereka acapkali pindah ke kelompok aliran kepercayaan lain.
Aliran kepercayaan diduga lahir dalam masyarakat yang goyah pada masa terjadinya perubahan sosial yang cepat. Dan pertumbuhannya yang menjamur tampak jelas terutama di Kalifornia. Tampaknya kelompok-kelompok itu berkembang baik di daerah-daerah yang gereja-gereja besarnya lemah. Kelompok aliran kepercayaan menekankan kepatuhan terhadap pemimpin yang magnetis dan karismatik. Intensitas kesetiaan terhadap pemimpin kelompok itu, ditunjukkan secara mengerikan ketika lebih dari 900 anggota kelompok aliran kepercayaan Peoples Temple melakukan bunuh diri (atau ikut dalam bunuh diri masal) demi mengikuti pesan pemimpin mereka, Jim Jones. Walaupun tidak satupun kelompok aliran kepercayaan melakukan apa yang dilakukan oleh kelompok Peoples Temple, namun para anggota aliran kepercayaan lainya seringkali memiliki kadar kesetiaan yang setara, sehingga kegiatan para penganut aliran itu dapat disamakan dengan upaya melepaskan diri dari alam sadar, sebagaimana yang terjadi dalam alam halusinasi para pecandu obat bius.
Kelompok-kelompok aliran kepercayaan memiliki tradisi dan ajaran yang berbeda-beda namun semua itu berfungsi sama. Mereka menawarkan instropeksi dan penemuan diri yang disertai dengan kehangatan kelompok yang menunjang. Mereka menekankan kesucian jiwa, bukannya penalaran ilmiah dan logika, bahkan bukan pola cara pemikiran yang tradisional. Dalam dunia yang membingungkan, mereka menawarkan kepastian; dalam masyarakat yang impersonal, mereka memberikan keakraban; dalam dunia yang materialistis, mereka menganjurkan kepada orang agar mau mengacuhkan pemilikan harta pribadi.
Aliran kepercayaan sesekali mencoba untuk mengubah lembaga-lembaga sosial, tetapi aliran terebut lebih sering mendorong orang untuk menarik diri dari masyarakat. Para orang tua acapkali merasa kecewa bilamana melihat anak-anak mereka kehilangan segenap gairah hidup atau kesetiaan terhadap keluarga, karena mengikuti pemimpin kelompok aliran kepercayaan tertentu. Keadaan ini tampaknya mirip cerita purba tentang kisah peniup alat musik piper dari Hamlin, yang irama pipernya memancing anak-anak untuk meninggalkan rumah. Para orang tua berupaya menjauhkan para rema dari aliran kepercayaan agar orang luar yang kritis dapat membina kembali para remaja itu, serta dapat pula menunjukkan kepada para remaja tetang kesalahan dari cara-cara pemujaan aliran kepercayaan.
Kelompok-kelompok aliran kepercayaan tumbul dan tenggelam. Oleh karena itu, jumlah penganutnya sulit diperkirakan. Mungkin jumlahnya satu setengah juta orang di Amerika Serikat. Biasanya kegiatan dalam kelompok aliran kepercayaan bersifat sementara, karena ternyata para anggotanya hanya bertahan beberapa bulan atau tahun, kemudian pindah ke kegiatan lain. Terlepas dari hal itu keseluruhan kegiatan dan anggota-anggota aliran kepercayaan tampaknya semakin meningkat di Amerika Serikat.
Share this article :

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

Statistik Info

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner