Home » » Sosialisasi dan Kepribadian

Sosialisasi dan Kepribadian

Written By Admin Bisosial on Selasa, 16 Oktober 2012 | Selasa, Oktober 16, 2012

SOSIALISASI DAN KEPRIBADIAN

A. Sosialisasi
1. Definisi Sosialisasi
Terdapat beberapa definisi sosialisasi menurut Kamus besar bahasa Indonesia dan para ahli sosiologi seperti berikut ini.
a. Kamus Besar Bahasa Indonesia
Sosialisasi berarti suatu proses belajar seorang anggota masyarakat untuk mengenal dan menghayati kebudayaan masyarakat di lingkungannya.
b. Peter L. Berger
Sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.
c. Paul B Horton
Sosialisasi adalah suatu proses di mana seseorang menghayati serta memahami norma-norma dalam masyarakat tempat tinggalnya sehingga akan membentuk kepribadiannya.
d. Vander Zande
Sosialisasi adalah proses interaksi sosial dimana kita mengenal cara-cara berpikir, berperasaan dan berperilaku sehingga dapat berperan serta secara efektif dalam masyarakat
e. David A Goslin
Sosialisasi adalah proses belajar yang dialami seseorang untuk memperoleh pengetahuan, keterampilan, nilai-nilai dan norma-norma agar ia dapat berpartisipasi sebagai anggota dalam kelompok masyarakatnya.
Dapat disimpulkan bahwa melalui proses sosialisasi individu diharapkan dapat berperan sesuai dengan nilai yang berlaku dalam masyarakat dimana ia berada. Individu yang baru dilahirkan bagaikan seonggok daging, hanya sebagai makhluk biologis yang memerlukan kebutuhan biologis seperti minum bila haus, makan bila lapar dan bereaksi terhadap rangsangan tertentu seperti panas, dingin dan lain sebagainya. Setelah berinteraksi dengan individu lain yang berada di sekitarnya, atau dengan perkataan lain setelah mengalami proses sosialisasi barulah individu tadi dapat berkembang menjadi makhluk sosial.
Adapun tujuan sosialisasi adalah sebagai berikut:
• Memberi keterampilan dan pengetahuan yang dibutuhkan seseorang.
• Menambah kemampuan berkomunikasi secara efektif dan efisien.
• Membantu pengendalian fungsi-fungsi organik yang dipelajari.
• Membiasakan individu dengan nilai-nilai yang ada pada masyarakat.
2. Agen Sosialisasi
Sosialisasi dialami oleh individu sebagai makhluk sosial sepanjang kehidupannya sejak ia dilahirkan sampai meninggal dunia. Karena interaksi merupakan kunci berlangsungnya proses sosialisasi maka diperlukan agen sosialisasi, yakni orang-orang disekitar individu tersebut yang mentransmisikan nilai-nilai atau norma-norma tertentu, baik secara langsung maupun tidak langsung.
Agen sosialisasi dapat diartikan sebagai pihak-pihak yang membantu seorang individu menerima nilai-nilai atau tempat individu tersebut belajar dari segala sesuatu yang menjadikannya dewasa. Secara rinci agen sosialisasi yang utama adalah keluarga, kelompok bermain, sekolah, lingkungan dan media massa.
a. Keluarga
Anak yang baru lahir, mengalami proses sosialisasi pertama kali adalah di dalam keluarga. Dari sinilah pertama kali anak mengenal lingkungan sosial dan budayanya. Anak mulai mengenal seluruh anggota keluarganya, yakni ayah, ibu, dan saudaranya sampai anak mengenal dirinya sendiri serta menaati norma-norma yang berlaku dalam keluarga. Dengan demikian, diharapkan akan terbentuk keluarga yang harmonis.
Keluarga merupakan institusi yang paling penting pengaruhnya terhadap proses sosialisasi manusia. Hal ini dimungkinkan karena keluarga memiliki berbagai kondisi sebagai berikut.
1) Keluarga merupakan kelompok primer yang selalu bertatap muka di antara anggotanya. Di antara anggotanya dapat selalu mengikuti perkembangan anggota-anggota yang lain.
2) Orang tua mempunyai kondisi yang tinggi untuk mendidik anak-anaknya sehingga menimbulkan hubungan emosional yang sangat diperlukan dalam proses sosialisasi.
3) Adanya hubungan sosial yang tetap maka dengan sendirinya orang tua mempunyai peranan yang penting terhadap proses sosialisasi anak.
Corak hubungan orang tua dengan anak yang akan menentukan proses sosialisasi serta perkembangan kepribadiannya dapat dibedakan menjadi tiga pola, yaitu pola menerima-menolak, memakai-melepaskan, dan demokrasi-otokrasi.
1) Pola menerima-menolak
Pola ini didasarkan atas taraf kemesraan orang tua terhadap anak. Seorang anak yang dibesarkan dalam pola menolak akan cenderung bersikap menantang kekuasaan dan selalu curiga terhadap orang lain. Anak sudah tidak takut lagi terhadap hukuman karena sudah terlalu sering mendapat hukuman dari orang tuanya.
2) Pola memiliki-melepaskan
Pola ini didasarkan atas besarnya sikap protektif orang tua terhadap anak. Pola ini bergerak dari sikap orang tua yang over protektif sampai mengabaikan anaknya sama sekali. Seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut pola memiliki-melepaskan, cenderung berwatak tidak patuh, tidak dapat menahan emosi, dan menuntut orang lain secara berlebihan, pemalu, cemas, dan ragu-ragu.
3) Pola demokrasi-otokrasi
Pola ini didasarkan atas tingkat partisipasi anak dalam menentukan kegiatan-kegiatan dalam keluarga. Pada pola otokrasi, orang tua bertindak sebagai diktator terhadap anak. Dalam pola demokrasi-otokrasi anak dapat berpartisipasi dalam keputusan-keputusan keluarga sampai batas-batas tertentu.
Dalam keluarga yang demokratis, anak akan berkembang lebih luwes dan dapat menerima kekuasaan secara rasional. Sebaliknya, dalam keluarga otokrasi, anak memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang harus diikuti sehingga anak akan tunduk secara membabi buta atau bahkan bersikap menantang.
b. Kelompok Bermain (peer group)
Kelompok bermain merupakan agen sosialisasi yang pengaruhnya besar dalam membentuk pola perilaku seseorang. Di dalam keluarga, interaksi yang dipelajari di rumah melibatkan hubungan yang tidak sederajat (hubungan dengan orang tua, kakek atau nenek, kakak, adik, paman atau bibi). Sementara itu, dalam kelompok bermain, seorang anak belajar berinteraksi dengan orang-orang sederajat atau sebaya.
Di dalam kelompok bermain, individu mempelajari norma, nilai, kultur, peran, dan semua persyaratan lainnya yang dibutuhkan individu untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif di dalam kelompok bermainnya. Dalam kelompok bermain pulalah seorang anak mulai belajar tentang nilai-nilai keadilan.
c. Sekolah
Agen sosialisasi berikutnya adalah sekolah. Sekolah merupakan agen sosialisasi di dalam sistem pendidikan formal. Di sekolah seseorang mempelajari hal-hal baru yang belum dipelajarinya dalam keluarga ataupun kelompok bermain. Pendidikan formal di sekolah mempersiapkan anak didik agar dapat menguasi peranan-peranan baru yang dapat diterapkan apabila ia tidak lagi tergantung pada orang tua.
d. Lingkungan Kerja
Kelompok lingkungan kerja sangat beraneka ragam, misalnya kelompok pekerja pabrik, kelompok pegawai kantor, kelompok petani, dan kelompok pedagang. Setiap kelompok memiliki aturan-aturan sendiri. Seseorang yang melanggar aturan dapat dikenai sanksi. Melalui peraturan, seseorang mempelajari berbagai nilai dan norma yang harus dipatuhi untuk mencapai tujuan, misalnya meningkatkan disiplin diri dan meningkatkan kerja sama dengan teman. Dalam hubungan sosial di lingkungan kerja, setiap orang harus menjalankan peranan sesuai dengan kedudukannya.
e. Media Massa
Media massa juga merupakan agen sosialisasi yang cukup berpengaruh terhadap perilaku masyarakat. Kehadiran media massa mempengaruhi sikap dan tidakan anggota masyarakat. Nilai dan norma yang disampaikan dan disajikan oleh media massa akan tertanam dalam diri seseorang melalui penghilatan ataupun pendengaran.
Informasi melalui media massa dapat bersifat positif atau negatif. Apabila informasi tersebut bersifat positif maka akan terbentuk kepribadian yang positif. Sebaliknya, jika informasi tersebut bersifat negatif maka akan terbentuk kepribadian yang negatif. Media massa sering digunakan untuk mengukur, membentuk dan mempengaruhi pendapat umum.
3. Pola-Pola Sosialisasi
Dalam lingkungan keluarga terdapat dua macam pola sosialisasi, yaitu sosialisasi represif dan sosialisasi partisipatif.
a. Sosialisasi represif (repressive socialization)
Sosialisasi represif mengutamakan adanya ketaatan anak pada orang tua. Sosialisasi dengan pola ini menekankan penggunaan hukuman terhadap kesalahan yang dilakukan anak. Sosialisasi semacam ini menunjukkan adanya komunikasi yang sifatnya satu arah, yaitu terletak pada keinginan orang tua saja.
Ciri-ciri sosialisasi represif antara lain sebagai berikut:
1) Menghukum perilaku yang keliru.
2) Keluarga didominasi orang tua.
3) Hukuman dan imbalan material.
4) Anak memperhatikan keinginan orang tua.
5) Kepatuhan anak.
6) Sosialisasi berpusat pada orang tua.
7) Komunikasi nonverbal.
8) Komunikasi sebagai perintah.
b. Sosialisasi partisipatif/partisipatoris (participatory socialization)
Sosialisasi partisipatif mengutamakan adanya partisipasi dari anak memberikan apa yang diminta anak apabila anak berperilaku baik. Penekanannya pada interaksi anak yang menjadi pusat sosialisasi dan kebutuhannya. Komunikasi yang terjalin adalah komunikasi dua arah, sehingga terjalin pengertian antara orang tua dan anak.
Ciri sosialisasi partisipatif antara lain sebagai berikut;
1) Memberikan imbalan bagi perilaku yang baik.
2) Orang tua memperhatikan keinginan anak.
3) Keluarga merupakan generalize other (kerja sama ke arah tujuan).
4) Otonomi anak.
5) Sosialisasi berpusat pada anak.
6) Komunikasi sebagai interaksi
7) Komunikasi verbal.
8) Hukuman dan imbalan simbolis.
4. Tahap-Tahap Sosialisasi
Menurut tahapannya sosialisasi dibedakan menjadi dua tahap, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi sekunder.
a. Sosialisasi primer
Merupakan sosialisasi yang pertama dijalani oleh individu semasa kecil, dimana ia menjadi anggota masyarakat; dalam tahap ini proses sosialisasi primer membentuk kepribadian anak dan keluargalah yang berperan sebagai agen sosialisasi.
b. Sosialisasi sekunder
Didefinisikan sebagai proses berikutnya yang memperkenalkan individu yang telah disosialisasi ke dalam sektor baru dari dunia objektif masyarakatnya; dalam tahap ini proses sosialisasi mengarah pada terwujudnya sikap profesionalisme; dan dalam hal ini yang menjadi agen sosialisasi adalah lembaga pendidikan, peer group, lembaga pekerjaan dan lingkungan yang lebih luas dari keluarga.
Sosialisasi bisa berlangsung secara tatap muka, tapi bisa juga dilakukan dalam jarak tertentu melalui sarana media, atau surat menyurat, bisa berlangsung secara formal maupun informal, baik sengaja maupun tidak sengaja. Sosialisasi dapat dilakukan demi kepentingan orang yang disosialisasikan ataupun orang yang melakukan sosialisasi, sehingga kedua kepentingan tersebut bisa sepadan ataupun bertentangan.
Dalam masyarakat yang homogen, proses sosialisasi bisa berjalan dengan serasi menurut pola yang sama, karena nilai-nilai yang ditransmisikan dalam proses sosialisasi sama. Namun dalam masyarakat yang heterogen di mana terdapat banyak kelompok dengan nilai-nilai yang tidak sepadan dalam mempengaruhi individu, maka proses sosialisasi tidak berlangsung seperti dalam masyarakat yang homogen. Sama seperti dalam kelompok primer, agen sosialisasi hanya terbatas pada anggota keluarga, sedang pada sosialisasi sekunder terdapat banyak agen sosialisasi diluar keluarga yang menanamkan nilai-nilai yang berbeda dengan nilai yang ada dalam keluarga, bahkan kadang-kadang bertetangan. Dalam situasi demikian, seseorang dapat mengalami proses yang disebut desosialisasi, yaitu proses “pencabutan” diri yang dimiliki seseorang, yang kemudian disusul dengan resosialisasi, dimana seseorang diberikan suatu diri yang baru yang tidak saja berbeda tetapi juga tidak sepadan.
Bentuk sosialisasi sekunder lainnya adalah anticipatory socialization merupakan persiapan seseorang untuk peranan yang baru. Sosialisasi antisipatoris ini mendahului perubahan status dari suatu kelompok ke kelompok lain, atau dari suatu jenjang pendidikan/pekerjaan ke jenjang yang lebih tinggi. Sosialisasi antisipatoris ini juga dialami ketika seseorang yang baru lulus sarjana akan memasuki dunia kerja dan sebagainya.
5. Sosialisasi Sebagai Suatu Proses
Untuk menjadi masyarakat yang “normal” atau diterima di dalam masyarakat, diperlukan kemampuan untuk menilai secara objektif perilaku kita sendiri dari sudut pandang orang lain. Kalau sudah memperoleh kemampuan tersebut berarti seseorang memiliki apa yang dinamakan “self” (diri). “Self” terbentuk dan berkembang melalui proses sosialisasi, dengan cara berinteraksi dengan orang lain. Ciri orang yang sudah mempunyai “self” adalah orang yang sudah mampu merefleksikan atau memberlakukan dirinya sebagai objek dan subjek sekaligus. Bagaimana mungkin hal ini terjadi?
Dalam penjelasannya, Charles Horton Cooley memperkenalkan konsep “looking glass self”, dimana senantiasa dalam benak individu terjadi suatu proses yang ditandai oleh 3 tahap terpisah, yaitu:
1) Persepsi, dalam tahap ini kita membayangkan bagaimana orang melihat kita;
2) Interpretasi dan definisi, disini kita membayangkan bagaimana orang lain menilai penampilan kita;
3) Respons, berdasarkan persepsi dan interpretasi individu tersebut menyusun respons
Berbeda dengan Cooley, George Herbert Mead berpendapat bahwa orang yang sudah memiliki “self” dijumpai pada penguasaan bahasanya, yakni pada anak-anak yang sudah berusia lima tahun. Kemampuan untuk menganggap diri sebagai objek dan subjek secara sekaligus ini diperoleh dalam tiga tahap berikut:
1) Preparatory Stage
Tahap ini merupakan tahap persiapan seorang anak untuk memperoleh pemahaman tentang dirinya. Seorang anak akan melakukan kegiatan meniru secara tidak sempurna. Orang-orang di lingkungan keluarga si anak sangat berperan dalam proses peniruan yang belum sempurna.
2) Play stage (Tahap Meniru)
Dalam tahap ini anak mengembangkan kemampuannya untuk melihat diri sendiri. Kegiatannya tidak konsisten, tidak terorganisasir, peranan berganti-ganti, karena belum ada konsepsi yang terpadu mengenai dirinya.
Pada tahap meniru, seorang anak mulai belajar mengambil peranan orang-orang yang berada di sekitarnya. Ia mulai menirukan peranan yang dijalankan oleh orang tuanya atau orang dewasa lain yang sering berinteraksi dengannya. Misalnya, anak mulai dapat bermain masak-masakan bersama beberapa orang teman atau dengan bonekanya.
3) Game stage (Tahap Siap Bertindak)
Berbeda dengan play stage, di sini ada himpunan yang terorganisir. Anak harus sudah mengetahui posisinya dalam konteks yang lebih luas dan memberikan tanggapan terhadap harapan-harapan orang lain; individu sudah mampu menghubungkan dirinya dengan komunitas di mana ia menjadi anggotanya.
Pada tahap ini seorang anak tidak hanya mengetahui peranan yang harus dijalankannya. Akan tetapi, ia telah mengetahui peranan yang harus dijalankan oleh orang lain. Dalam kondisi ini, kemampuan menempatkan diri pada posisi orang lain pun meningkat.
4) Generalized other (Tahap Penerimaan Norma Kolektif)
Yaitu kemampuan anak untuk mengabstraksikan peran-peran dan sikap-sikap dari significant othernya serta menggeneralisasikannya untuk semua orang, termasuk dirinya. Tahap ini menunjukkan bahwa seorang anak telah mampu mengambil peran semua pihak yang terlibat dalam proses sosialisasi. Ia telah mampu berinteraksi dengan orang lain dalam masyarakat karena telah memahami perannya sendiri serta peran orang lain dalam suatu interaksi.
Mead mengemukakan gagasan bahwa “self” (diri) mempunyai dua komponen, yaitu:
1. I, adalah faktor-faktor yang khas yang memasuki komunikasi kita dengan orang lain;
2. Me, segi yang memberikan tanggapan pada konvensi-konvensi sosial.
Jadi proses terbentuknya Self pada anak diawali dari: Orang tua mengekspresikan dirinya, kemudian diidentifikasi dan diinternalisasi menjadi peran dan sikap oleh anak, akhirnya terbentuklah Self si anak.
B. Kepribadian

1. Pengertian Kepribadian
Terdapat beberapa sosiolog yang mengemukakan definisi kepribadian seperti Roucek dan Warren, Theodere R Newcomb, Yinger dan Cuber.
a. Roucek dan Warren
Kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis, psikologis, dan sosiologis yang mendasari perilaku seoang individu.
b. Theodore R Newcomb
Kepribadian adalah organisasi sikap-sikap yang dimiliki seseorang sebagai latar belakang terhadap perilaku.
c. Yinger
Kepribadian adalah keseluruhan perilaku dari seorang individu dengan sistem kecendrungan tertentu yang berinteraksi dengan serangkaian situasi.
d. Cuber
Kepribadian adalah gabungan keseluruhan dari sifat-sifat yang tampak dan dapat dilihat oleh seseorang.
2. Susunan kepribadian
a. Pengetahuan
Terisi dengan fantasi, pemahaman dan konsep yang lahir dari pengamatan dan pengalaman menganai bermacam-macam hal.
b. Perasaan
Suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang menghasilkan penilaian positif atau negatif terhadap sesuatu dan bersifat subjektif.
c. Dorongan naluri
Merupakan kemauan yang sudah meruapakan naluri pada setiap manusia. Diantaranya:
• Dorongan untuk mempertahankan hidup
• Dorongan seksual
• Dorongan untuk mencari makan
• Dorongan untuk bergaul dan berinteraksi
• Dorongan untuk meniru tingkah laku sesama
• Dorongan untuk berbakti
• Dorongan akan keindahan bentuk, warna, suara dan gerak
3. Faktor-faktor Pembentuk Kepribadian
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan kepribadian diantaranya adalah sebagai berikut:
a. Warisan biologis
Semua manusia yang normal dan sehat mempunyai persamaan biologis tertentu, seperti mempunyai dua tangan, panca indera, kelenjar seksual dan otak yang rumit. Setiap warisan biologis seseorang juga bersifat unik, yang berarti bahwa tidak seorangpun (kecuali anak kembar) yang mempunyai karakteristik fisik yang sama.
Untuk beberapa ciri, warisan biologis lebih penting dari pada yang lainnya. Misalnya beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa IQ anak angkat lebih mirip dengan IQ orang tua kandungnya daripada dengan orang tua angkatnya; dan dalam keluarga tertentu anak kendung lebih mengikuti IQ orang tuanya dari pada anak angkat.
b. Lingkungan fisik
Lingkungan fisik merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepribadian. Bangsa Athabascans memiliki kepribadian yang dominan yang menyebabkan mereka dapat bertahan hidup dalam iklim yang lebih dingin daripada daerah Arctic. Orang pedalaman Australia harus berjuang dengan gigih untuk tetap hidup, padahal bangsa Samoa hanya memerlukan sedikit waktu setiap harinya untuk mendapakan lebih banyak makanan daripada yang bisa mereka makan. Suku Ik (dibaca “eek”) dari Uganda sedang mengalami kelaparan secara perlahan, karena hilangnya tanah tempat perburuan tradisional dan mereka menjadi sekelompok orang yang paling tamak, paling rakus di dunia; sama sekali tidak memiliki keramahan tidak suka menolong atau tidak mepunyai rasa kasihan, malah merebut makanan dari mulut anak mereka dalam perjuangan mempertahankan hidup. Suku Quolla dari Peru digambarkan oleh Trotter (1973) sebagai sekelompok orang yang paling keras di dunia dan ia menghubungkan hal ini dengan hipoglikemia yang timbul karena kekurangan makanan.
c. Kebudayaan
Sejak saat kelahiran, seorang anak diperlakukan dalam cara-cara yang membentuk kepribadian. Setiap kebudayaan menyediakan seperangkat pengaruh umum, yang sangat berbeda dari masyarakat ke masyarakat. Sebagaimana diungkapkan Linton: “dalam beberapa (masyarakat) bayi-bayi hanya disusui bila mereka menangis. Dalam masyarakat lain mereka diberi minum menurut jadwal yang teratur. Dalam beberapa masyarakat mereka dirawat oleh setiap wanita yang kebetulan siap, dalam masyarakat lain mereka dirawat hanya oleh ibunya sendiri. Dalam beberapa masyarakat, proses perawatan bayi merupakan kegiatan santai yang disertai oleh elusan-elusan dan kenikmatan indrawi yang penuh untuk ibu dan anak. Dalam masyarakat lain perawatan bayi bukan merupakan kegiatan yang memerlukan waktu khusus dan santai, Ibu memandang kegiatan ini sebagai interupsi kegiatan teraturnya dan mendesak anaknya untuk menyelesaikannya secepat mungkin”.
Masyarakat bisa merawat anak itu sejak sejak dari masa bayi dan melatihnya dengan bebas untuk masa dewasanya, atau masyarakat bisa membiarkan anak itu liar sampai usai pubertas. Ia mungkin mendapat hukuman badani untuk kesalahan kecil sekalipun. Ia bisa dipaksa bekerja dan diperlakukan sebagai seorang anggota kelompok keluarga yang harus ikut bertanggung jawab hampir sejak ia mampu berjalan dan kepadanya selalu ditekankan bahwa hidup adalah nyata dan sungguh-sungguh. Oleh karena itu dalam beberapa suku Madagaskar, anak-anak tidak saja mulai bekerja pada usia yang sangat muda, tetapi juga menikmati hak-hak memiliki yang penuh. Dipihak lain anak-anak di kampung Marqueas tidak bekerja dan tidak menerima tanggung jawab. Mereka membentuk kesatuan sosial yang sagat terpadu dan berbeda dan hampir tidak berhubungan dengan orang dewasa. Anak laki-laki dan perempuan di bawah usia puber selalu bersama-sama dan sering tidak pulang bahkan untuk makan atau tidur. Mereka bepergian seharian tanpa izin orang tua, menangkap ikan dan mencari tanaman untuk makan dan bermalam dalam rumah siapa saja yang kebetulan dekat ketika malam tiba. (Ralp Linton, The Sutdy of Man, 1936).
d. Pengalaman kelompok
Sepanjang hidup seseorang kelompok-kelompok tertentu adalah penting sebagai model untuk gagasan atau norma-norma perilaku seseorang. Kelompok semacam itu disebut kelompok referens (reference group). Mula-mula kelompok keluarga adalah kelompok yang terpenting, karena kelompok ini merupakan kelompok satu-satunya yang dimiliki bayi selama masa-masa yang paling peka. Kepribadian dasar dari individu dibentuk pada tahun-tahun pertama dalam lingkungan keluarga.
Beberapa tahun kemudian kelompok sebaya (peer group) menjadi penting sebagai suatu kelompok referens. Kegagalan seorang anak untuk mendapatkan pengakuan sosial dalam kelompok sebaya sering diikuti oleh penolakan sosial dan kegagalan sosial seumur hidup. Banyak studi telah menunjukkan bahwa pada usia 15 tahunan kelompok sebaya telah menjadi kelompok referens yang sangat penting dan barangkali merupakan pengaruh yang paling penting terhadap sikap, tujuan serta norma perilaku.
e. Pengalaman unik
Mengapa anak-anak yang dibesarkan dalam lingkungan keluarga yang sama sedemikian berbeda satu dengan yang lainnya, sekalipun mereka pernah mendapatkan pengalaman yang sama? Masalahnya adalah karena mereka tidak mendapatkan pengalaman yang sama; mereka pernah mendapatkan pengalaman yang serupa dalam beberapa hal dan berbeda dalam beberapa hal lainnya. Setiap anak memasuki suatu unit keluarga yang berbeda. Anak yang dilahirkan pertama, yang merupakan anak satu-satunya sampai kelahiran anak yang kedua, kemudian akan mempunyai adik laki-laki atau perempuan dengan siap ia dapat bertengkar. Orang tua berubah dan tidak memperlakukan sama semua anaknya. Anak-anak memasuki kelompok sebaya yang berbeda, mungkin mempunyai guru yang berbeda dan berhasil melampaui peristiwa yang berbeda pula. Sepasang anak kembar mempunyai warisan yang identik dan lebih cenderung memperoleh pengalaman yang sama. Mereka berada dalam suatu keluarga bersama-sama, seringkali mempunyai kelompok sebaya yang sama dan diperlakukan kurang lebih sama oleh orang lain, akan tetapi bahkan anak kembar pun tidak mengalami bersama seluruh peristiwa dan pengalaman. Pengalaman setiap orang adalah unik dan tidak ada pengalam siapapun yang secara sempurna dapat menyamainya. Suatu inventarisasi dari pengalaman sehari-hari berbagai anak-anak dalam suatu keluarga yang sama akan mengungkapkan banyaknya perbedaan.
Menurut F.G Robbins, ada lima faktor yang menjadi dasar kepribadian, yaitu sifat dasar, lingkungan prenatal, perbedaan individual, lingkungan dan motivasi.
a. Sifat dasar
Sifat dasar merupakan keseluruhan potensi yang diwarisi seseorang dari ayah dan ibunya. Faktor keturunan adalah faktor-faktor yang dibawa sejak lahir (ascribed) dan merupakan transmisi unsur-unsur dari orang tuanya melalui proses genetika; jadi sudah ada sejak awal kehidupan. Misalnya jenis kelamin, suku bangsa, warna kulit. Delgado menganalogikan faktor keturunan ini dengan istilah “blue print” (cetak biru) sebuah bangunan
b. Lingkungan prenatal
Lingkungan prenatal adalah lingkungan dalam kandungan ibu. Pada periode prenatal ini individu mendapatkan pengaruh-pengaruh tidak langsung dari ibu.
c. Perbedaan individu
Sejak dilahirkan oleh ibunya, anak akan tumbuh dan berkembang sebagai individu yang unik, serta berbeda dengan individu lainnya. Perbedaan individu tersebut meliputi perbedaan ciri-ciri fisik seperti warna kulit, warna mata, rambut, bentuk badan, personal dan sosial.
d. Lingkungan
Situasi lingkungan yang mempengaruhi proses sosialisasi dapat dibedakan atas lingkungan alam, lingkungan kebudayaan, serta lingkungan sosial.
1) Lingkungan alam meliputi keadaan iklim, tanah, flora, fauna, dan sumber daya di sekitar individu.
2) Lingkungan kebudayaan meliputi cara hidup masyarakat tempat individu itu hidup.
3) Lingkungan sosial adalah pengaruh manusia lain dan masyarakat disekitarnya dan dapat membatasi proses sosialisasi serta memberi stimulasi terhadap perkembangannya.
e. Motivasi
Motivasi adalah kekuatan-kekuatan dari dalam individu yang menggerakkannya untuk berbuat sesuatu. Motivasi dibedakan menjadi dua, yakni dorongan dan kebutuhan.
1) Dorongan adalah keadaan tidak seimbang dalam diri individu karena pengaruh dari dalam dan luar dirinya.
2) Kebutuhan adalah dorongan yang telah ditentukan secara personal, sosial dan kultural
Share this article :

Kunjungan

Update

LOWONGAN KERJA

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner