Home » » Contoh Perencanaan Anggaran Modal

Contoh Perencanaan Anggaran Modal

Written By Arif Sobarudin on Selasa, 27 November 2012 | Selasa, November 27, 2012

Analisis perencanaan belanja modal membantu pelaku usaha dalam keputusan tentang investasi jangka panjang. Jangka panjang dalam pengertian ini biasanya lebih dari ima tahun, atau antara 15 sampai dengan 20 tahun. Sebagai contoh investasi jangka panjang, pelaku usaha merencanakan perluasan pabrik, agar mampu memenuhi perminaan pasar yang semakin luas. Contoh-contoh lainnya, yang dapat dikategorikan dalam investasi jangka panjang adalah:
-          Mengembangkan produk yang telah ada dengan peningkatan fitur yang lebih luas,
-          Meremajakan armada kendaraan transportasi pada usaha transportasi (truck, bus, kapal) yang sudah mulai menurun kinerjanya,
-          Memperluas daerah pemasaran untuk produk lama atau untuk produk baru,
-          Membangun gedung baru berikut  instalasinya.
Seringkali pelaku usaha terutama terutama usaha kecil atau menengah melakukan investasi tanpa meniapkan perencanaan anggaran belanja modal. Bagaimanapun menyiapkan perencanaan belanja modal untuk tujuan-tujuan sebagaimana di contohkan diatas sangat penting. Perencanaan yang tepat, mampu meningkatkan nilai tambah perusahaan, sebaliknya perencanaan yang tidak tepat kemungkinan bisa menyulitkan perusahaan bahkan bisa membuat perusahaan menjadi bangkrut.
a.      Pengertian Analisis Investasi Jangka Panjang
Analisis perencanaan investasi jangka panjang adalah sebuah kajian tentang pendanaan untuk pengadaan sarana dan prasarana yang ditujukan guna meningkatkan kinerja perusahaan. Pendanaa bisa berasal dari dalam perusahaan termasuk dari para pemengang saham, maupun dari luar perusahaan yang dalam hal ini dari lembaga pembiayaan. Sarana dan prasarana direncanakan untuk diadakan bisa berwujud fisik dan non fisik.
b.      Teknik Penyususnan Anggaran Permodalan
Dalam praktek banyak pelaku usaha telah menjalankan investasi jangka panjang dengan pola sederhana. Dengan pola yang sederhana tersebut ternyata banyak yang berhasil, namun juga banyak yang mengalami kegagalan. Guna mencegah kegagalan yang mungkin terjadi berikut dibahas beberapa teknik yang biasa digunakan dalam melaksanakan investasi jangka panjang. Beberapa teknik tersebut dikenal dengan metoda Accounting Rate of Return, metoda Pay-Back Periode dan metoda Discounted Cash Flow.
Selanjutnya terdapat tiga kriteria sederhana yang biasa digunakan dalam mempertimbangkan untung rugi dalam menetapkan salah satu metoda dalam investasi, yakni :
-          Dana yang cukup, para pelau usaha lebih tertarik kepada tersedianya dana yang cukup dibanding yang pas-pasan,
-          Nilai tunai yang lebih cepat, para pelaku usaha lebih tertarik untuk menarik nilai tunai lebih cepat dari yang lebih lambat,
-          Risiko yang rendah, pelaku usaha lebih tertarik kepada tingkat risiko yang rendah dibanding tingkat risiko yang tinggi.
1.      Metoda Accounting Return on Invesment
Lazimnya perusahaan kecil berinvestasi karena keinginan untuk memperoleh laba. Mekanisme teknik akunting return in investment, membandingkan antara rata-rata laba usaha yang diharapkan setelah dipotong pajak dengan hasil yang diperoleh apabila dana yang sama diinvestasikan dalam bentuk yang lain. Maka dengan demikian menjadi,
Accounting =  
Besarnya rata-rata laba dapat dihitung dengan caa menjumlahkan laba setelah pajak sellama periode tahun proyek investasi dibagi dengan jumlah periode tahun proyek invesasi. Rata-rata nilai buku investasi sama dengan rata-rata nilai proyek investasi dan estimasi nilai harga proyek diakhir periode. Guna mendapatkan gmbaran yang lebih konkrie tentang mekanisme accounting ROI, misalkan kita membeli seperangkat peralatan senilai Rp 500.000.000,00 dan akan disusutkan selama empat tahun dengan nilai buku menjadi sebesar Rp 0,00 dengan demikian maka diakhir periode proyek tidak ada nilai sama sekali. Selanjutnya diasumsikan kita ingin mendapatkan laba setelah pajak seperti berikut ini,
Tahun ke
Laba Setelah pajak
1
2
3
4
Rp 50.000.000
Rp 100.000.000
Rp 125.000.000
Rp 150.000.000
Maka dengan demikian accounting ROI atas proyek investasi yang diusulkan dihitung sebagai berikut,
Accounting ROI =
     =
     = 0,425
     = 42,5%
Bagi kebanyakan pelaku usaha mendapatkan laba sebesar 42,5% merupakan kinerja yang luar biasa. Karena itu apabila hasil perhitungan accounting ROI sebesar 42,5% ini berada jauh diatas hasil bunga deposito yang diperoleh maka proyek bisa diteruskan. Namun apabila kurang, sebaiknya proyek ditolak atau investasi dibatalkan. Teknik ini relatif mudah menghitungnya, namun dianggap masih memiliki kekurangan. Pertama, teknik ini lebih mengandalkan kepada laba yang diarapkan dari pada laba senyatanya yang diterima. Sebagai seorang investor dalam berinvestasi seyogyanya dimasa depan lebih berharap kepada laba yang nyata dari pada hanya kepada sekedar laba yang dilaporkan. Kedua, hasil bunga deposito sebagai pembanding mengabaikan pengaruh faktor waktu terhadap nilai uang. Dengan demikian meskipun teknik ini dianggap sangat dikenal, namun tidak memenuhi tiga kriteria dalam berinvestasi sebagaimana telah diutarakan di atas, yakni dianggap menghasilkan uang lebih banyak, lebih cepat dan risiko lebih kecil.
2.      Metoda Pay-Back Periode
Secara harafiah arti pay-back periode adalah jumlah waktu yang diperlukan untuk memperoleh kembali nilai investasi yang telah ditanamkan. Pengertian ini memenag sesuai dengan namanya. Sebagai contoh seorang pelaku usaha yang bergerak dibidang angkutan kota mfelakukan investasi untuk meremajakan armadanya yang berupa bus-bus kota. Ia menginginkan dana yang diinvestasikan dalam bentuk sebuah bus kota dapat kembali dalam waktu tidak lebih dari lima tahun. Sebuah bus baru dibeli dengan harga on-the-raod sebesar Rp 750.000.000,00 bus tersebut direncanakan penyusutan secara straight line basis dalam waktu sepuluh tahun, dengan demikian maka setiap tahun biaya penyusutan sebesar Rp 75.000.000,00.
Dengan bus baru tersebut, diperkirakan akan diperoleh laba setelah pajak sebagai berikut,
Tahun
Laba Setelah Pajak Dalam Setahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rp  50.000.000,-
Rp  50.000.000,-
Rp 100.000.000,-
Rp 100.000.000,-
Rp 100.000.000,-
Rp 100.000.000,-
Rp 125.000.000,-
Rp 125.000.000,-
Rp 125.000.000,-
Rp 125.000.000,-
Rp1.000.000.000,-
Untuk mendapatkan pemasukan dari dana yang telah diinvestasikan, sepertinya pelaku usaha harus memperoleh jumlah laba setelah pajak ditambah biaya penyusutan sebesar Rp 75.000.000,00 setahun sesuai dengan angka diatas, maka hasilnya akan diperoleh sebagai berikut,
Tahun
Pemasukan Setelah Pajak Dalam Setahun
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
Rp 125.000.000,-
Rp 125.000.000,-
Rp 175.000.000,-
Rp 175.000.000,-
Rp 175.000.000,-
Rp 175.000.000,-
Rp 200.000.000,-
Rp 200.000.000,-
Rp 200.000.000,-
Rp 200.000.000,-
Rp1.750.000.000,-
Ternyata pada akhir tahun ke empat jumlah investasi yang telah ditanam telah kembali ssebesar Rp 600.000.000,00 sehingga untuk mencapai Rp 750.000.000,00 masih diperlukan pemasukan sebesar Rp 150.000.000,00. Jumlah ini bisa diperoleh pada tahun ke lima bila pelaku usaha tersebut memperoleh pemasukan sebesar Rp 150.000.000,00 yang dapat diperoleh dari Rp 175.000.000,00 yang diharapkan pada tahun ke lima. Bila demikian maka dana yang diinvestasi akan kembali pada tahun
Ke 4 ditambah =  
Kesimpulannya apabila jangka waktu kembalinya dana yang diinvestasi maksimum adalah 4.86 tahun, maka kita akan menerima rencana investasi ini. Teknik pay back periode ini sangat dikenal dikalangan pellaku usaha sehingga sering digunakan para pelaku usaha dalam analisis pertimbangan investasi. Disamping itu cara perhitungannya juga relatif sederhana. Namun sebagai suatu teknik analisis ada saja kelemahan didalamnya. Pertama, besaran untuk angka laba setelah pajak, tidak memperhitungkan tingkat inflasi dan tingkat suku bunga. Pelaku masih menggunakan paradigma ceteris paribus, dimana lingkungan investasi dianggap tidak mengalami perubahan.
3.      Metoda Discounted Cash Flow
Apabila pelaku usaha merasa bahwa teknik pay back periode masih memiliki beberapa kelemahan maka bisa mecoba teknik yang lain, yakni analissis arus kas, yang disebut dengan discounted cash flow techniques. Teknik ini berpendapat bahwa berdasarkan fakta sejumlah uang yang diterima pada hari ini lebih bernilai dibanding apabila diterima pada waktu kemudian. Dengan sejumlah uang yang diterima pada hari ini, orang bisa menikmati hasil atau bunga bila disimpan dalam deposito. Dengan juga apabila uang dapat dimiliki pada hari ini dapat digunakan untuk melakukan sejumlah transaksi. Mekanisme teknik ini adalah membandingkan antara nilai saat ini atas dana yang ditanam pada akhir periode investasi dengan jumlah dana yang diinvest pada saat sekarang. Dengan demikian maka teknik discounted cash flow adalah membandingkan nilai saat ini (present value) dari dana yang diinvestasikan diakhir periode atau (future cash flow) dengan nilai dana yang diinvest sekarang. Analisis dapat dilakukan melalui dua metode yakni metoda Net Present Value dan metoda Internal Rate of Return.
a)      Metoda Net Present Value
Bagaimana cara menilai nilai saat ini deari dana yang telah diinvest sekian tahun yang lalu dapat digunakan rumus:
Apabila net present value dari investasi adalah positif, maka investasi dapat dilanjutkan, namu apabila sebaliknya atau negatif  maka sebaiknya investasi dibatalkan.
Perhitungan untuk mendapatkan angka net present valure, adalah sebagai berikut
Dimana :
NPV    = net present value
PSP     = penerimaan setelah pajak pada tahun ke-t
n          = periode investasi dalam satuan tahun
D         = tarif diskon
JI         = jumlah investasi yang ditanam
Guna menggambarkan bagaimana menghitung net present value, diasumsikan bahwa kita akan menginvest dana sebesar Rp 600.000.000,00 yang digunakan untuk membeli sebuah truk pengangkut pasir. Kita juga mengasumsikan bahwa nilai truk tersebut pada akhir tahun kelima sebesar Rp 100.000.000,00 dari investasi ini diharapkan terjadi peningkatan penjualan, dengan pedapatan setelah dipotong pajak adalah sebagai berikut,
Tahun ke
Pemasukan Setelah Pajak Dalam Setahun
1
2
3
4
5
Rp  75.000.000,-
Rp 125.000.000,-
Rp 200.000.000,-
Rp 200.000.000,-
Rp 150.000.000,-
Angka-angka pemasuka setelah dipotong pajak diatas, sesudah ditambah nilai truk pada akhir tahun kelima sebesar Rp 100.000.000,00 kemudian dikurangi jumlah investasi yang ditanam pada awal tahun harus sama dengan angka net present value.
Dengan menggunakan faktor nilai suku bunga
Rp 250 juta
 
Rp 200 juta
 
Rp 200 juta
 
Th.2
 
Th.1
 
Rp 600 juta
 
Th.5
 
Th.4
 
Th.3
 
Rp 125 juta
 
Rp 75 juta
 

sekarang untuk diskon suku bunga k dan tahun n, setelah dihitung didapat hasil = minus Rp 54.950.000,00 secara rinci perhitungan sebagai berikut:
= Rp 545.050 juta – Rp600 juta
= - Rp 54.950 juta
Karena net present value yang diusulkan hasilnya negatif artinya the present value secara tunai lebih kecil dari nilai dana yang diinvestasikan, maka disarankan kita tidak melakukan investasi. Nilai net present value yang negatif menunjukkan bahwa investasi tidak memuaskan perusahaan pada tingkat bunga yang diinginkan sebesar 14%. Apabila net peresent value menunjukkan angka diatas Rp 600.000.000,00 maka perusahaan akan mendapat tingkat suku bunga melebihi yang diharapkan.
b)     Metoda Internal Rate of Return (IRR)
Mekanisme metode ini adalah menghitung besarnya return yang diharapkan oleh perusahaan dari dana yang diinvestasikan. Untuk menghitung besarnya internal rate of return, harus ditemukan angka discount rate, yang menghasilkan net present value pada angka 0. Pada besaran angka rate tersebut bersaran nilai yang akan datang dari nilai  pada saat ini sama dengan besaran nilai investasi yang ditanamkan dengan menggunakan angka pada contoh yang telah digunakan sebelum ini, masih perlu dihitung besaran discount rate yang menghasilkan besaran nilai akan datang sama dengan jumlah investasi sebesar Rp 600.000.000,00
Dengan kata lain kita perlu menemukan angka discount rate atau IRR dengan rumus berikut,
 
Mengingatkan kembali bahwa,
PSPt    = penerimaan setelah pajak pada tahun ke t
n          = periode investasi dalam satuan tahun
JI         = jumlah investasi yang ditanam
Maka perhitungan akan menjadi seperti berikut:
       = Rp 0
         = Rp 0
Dalam menghitung besaran IRR, kita tidak bisa melakukan hanya sekali, akan tetapi perlu mencoba beberapa kali, artinya perlu dicoba beberapa angka IRR agar supaya hasilnya sama dengan 0 atau positif.
Dalam contoh diatas, telah kita lihat bahwa dengan menggunakan suku bunga 14% diperoleh hasil net present value untuk modal yang ditanam pada akhir investasi menunjukkan angka yang lebih kecil dari nilai modal yang ditanam pada saat ini. Oleh karena itu kita menginginkan suku bunga yang lebih rendah dari 14% maka kita coba suku bunga 12% dan perhitungan akan menjadi sebagai berikut:
= Rp 0
Dengan menggunakan faktor  nilai suku bunga, sesuai tabel maka ssesuai dengan tingkat suku bunga sebesar 12% diperoleh nilai Net Present Value sebesar minus Rp 22.050.000,00 secara rinci perhitungan sebagai berikut:
= Rp 579,95 juta – Rp 600 juta = -Rp 22,05 juta
Oleh karena dengan menggunakan tingkat suku bunga sebesar 12% hasilnya masih negatif maka kita coba dengan angka tingkat suku bunga yang lebih rendah lagi, misalnya 10% . dengan menggunkan cara perhitungan yang  sama, maka akan diperoleh angka sebagai berikut:
= Rp 0
 = Rp 613,50 juta – Rp 600 juta = Rp 13.5 juta
Dengan suku bunga 10% maka diperoleh angka net present value lebih besar dari nilai modal yang ditanam, maka dengan demikain investasi dapat diteruskan dengan IRR antara 10-12%. Sebagai catatan, bahwa apabila net present value negatif, perusahaan akan mendapatkan  IRR lebih kecil dari suku bunga yang diharpkan, sebaliknya apabila net present value positif maka perusahaan akan mendapatkan IRR yang lebih besar dari suku bunga yang diharapkan.
c.       Menghitung besarnya cost of money Perusahaan
The cost of capital adalah tingkat pendapatan yang harus diperoleh dan yang harus diusahakan untuk ssetiap dana yang ditanam agar supaya memuaskan pemberi pinjaman atau pemilik. Bila tingkat pendapatan pada modal yang ditanam lebih rendah dari tingkat suku bunga pinjaman, akan mengurangi nilai perusahaan. Sebaliknya bila tingkat pendapatan yang ditanamkan lebih tinggi dari tingkat suku bunga maka akan meningkatkan nilai perusahaan. Kendati hal ini merupakan pertimbangan yang sangat penting dalam mengelola masalah keuangan, namun tidak banyak dipahami oleh pelaku usaha, terutama para pelaku usaha kecil.
Dasar pemikiran biaya permodalan adalah konsep opportunity cost. Opportunity cost adalah hasil paling tinggi yang mungkin diperoleh atas dana yang ditanam dalam berbagai pilihan dengan tingkat resiko yang relatif sama, sebagai contoh:
Bila seorang pelaku usaha merenung ingin melakukan ekspansi yang dengan demikian berarti ingin menanamkan dananya , ingin mengetahui untuk resiko yang relatif sama, dengan cara mana dana tersebut akan di investasikan . investasi dilakukan, akan mendapatkan hasil sebesar 15%, maka investasi untuk ekspansi tidak akan dilakukan kecuali mendapatkan hasil paling sedikit 15%. Angka 15% ini lah yang disebut dengan opportunity cost of money, dan oleh karena harus digunakan sebagai biaya modal bagi pelaku usaha yang akan menanamkan dananya.
Masalah cost of money seyogyanya dipahami oleh seluruh pelaku yang terkait sumber pendanaan, baik lembaga pemberi pinjaman maupun para pemilik uang. Oleh karena itu, perlu juga dipahami tentang masalah weighted cost of capital. Berikut diberikan contoh penggunaan sebagai berikut .
Seorang pelaku usaha ingin melakukan investasi untuk masa depan usahanya. Ia memutuskan mendanai investasi tersebut dengan cara 40% berasal dari pemberi pinjaman dan 60% berasal dari dana sendiri. Katakanlah bahwa opportunity cost atas dana yang berasal dari lembaga pembiayaan ( dan ini merupakan tingkat bunga pinjaman ) adalah 10%. Selanjutnya untuk cost of money bagi pemilik dana adalah sebesar 18% dan setelah di kurangi pajak pendapatan sebesar 25%, sisannya menjadi 13,5%, dari contoh ini, maka dapat diperoleh gambaran,
 
Sumber dana
Presentase Tertimbang
Tingkat Bunga
Tingkat Bunga Tertimbang
Pinjaman
Sendiri
40%
60%
10%
13,5%
4%
8,1%
100%
12,2%
d.      Anggaran Permodalan dan Maslah Kebutuhan Likuiditas
Pada umumnya setiap pelaku usaha sepanjang perjalanan kegiatan operasionalnya selalu memerlukan tersedianya dana likid atau dana cair yang setiap saat siap digunakan. Namun disamping memerlukan ketersediaan dana cair guna kelancaran kegiatan usaha, pelaku juga pada saat tertentu perlu untuk melaksanakan kegiatan investasi, misalnya untuk pengadaan mesin-mesin baru sebagai pengganti mesin lama kinerjanya telah dianggap mulai menurun. Kegiatan investasi juga diperlukan untuk pengadaan seperangkat peralatan promosi yang membutuhkan ketersediaan dana yang cukup besar. Dengan demikian terjadinya tarik menarik antara kebutuhan ketersediaan dana untuk investasi dan kebutuhan dana untuk ketersediaan investasi.
Pembahasan berikut ini mencoba memberikan alternatif jawaban ideal bagi para pelaku usaha dalam membuat pertimbangan sebelum mengambil satu keputusan. Alternatif dimaksudkan adalah periode pembayaran kembali untuk suatu jumlah yang telah diberikan suatu potongan. Alternative ini diterjemahkan dari kalimat discounted pay bask period. Untuk selanjutnya akan digunakan istilah dalam bahasa aslinya. Konsep pemikiran discounted pay back period, sebenarnya sangat sederhana, yakni menghitung nilai sekarang untuk jumlah pembayaran kembali atas dana yang telah ditanam dalam investasi, untuk penggandaan sebuah mesin border pada usaha garmen, dengan membebankan suku bunga yang berlaku agar uang atau suku bunga bank.
Untuk lebih jelasnya, dimisalkan sebuah usaha garmen akan melakukan investasi dalam bentuk penggandaan sebuah mesin border besra seharga Rp 2,5 Milyar. Rencananya jumlah investasi tersebut direncanakan telah kembali selama lima tahun. Suku bunga dipasar yang berlaku rata-rata sebesar 15%. Setelah dilakukan berbagai pertimbangan, maka diperoleh perhitungan pengembalian dana investasi sesuai dengan dana berikut ini,
Tahun Ke
Dana Masuk Yang Diharapkan
Nilai Sekarang Atas Dana Masuk Yang Diharapkan
1
Rp 600.000.000
Rp 521.750.000
2
Rp 700.000.000
Rp 529.300.000
3
Rp 850.000.000
Rp 558.900.000
4
Rp 1.000.000.000
Rp 571.750.000
5
Rp 1.000.000.000
Rp 492.200.000
Jumlah Nilai Sekarang
Rp 2.678.900.000
Dengan menggunakan angka-angka diatas, maka dana masuk yang diharapkan akan diperoleh kembali selama 3.35 tahun. Angka tiga tahun berasal dari perolehan dana masuk yang diharapkan pada tahun 1, tahun 2, dan tahun 3, yakni ( Rp 600.000.000 + Rp 700.000.000 + Rp 850.000.000) = Rp 2.150.000.000. sedangkan angka 0,35 tahun, berasal sisa sebesar Rp 350.000.000 dari dana masuk yang diharapkan sebesar Rp 1.000.000.000 yakni ( Rp 350.000.000) dibagi Rp 1.000.000.000 yakni 0.35 tahun
Namun kita mengetahui bahwa pwewlaku usaha menginginkan agar dana masuk yang diharapkan apabila dinilai pada saat sekarang dengan tingkat suku bunga 15%, maka akan diperoleh jumlah Rp 2.678.900.000. bila demikian halnya, maka pelaku usaha akan memperoleh pembayaran kembali selam 4.64 tahun. Angka ini berasal dari perolehan nilai sekarang atas dana masuk yang diharapkan pada tahun 1, tahun 2, tahun 3, dan tahun 4, masing-masing sebesra( Rp 521.750.000 + Rp 529.300.000 + Rp 558.900.000 + Rp 571.750.000 ) = Rp 2.181.700.000 , sedangkan angka 0.64 tahun berasal dari sisa sebesar Rp 318.300.000 untuk dana yang diharapkan diperoleh pada nilai sekarang sebesar Rp 479.200.000 yakni ( Rp 318.300.000) dibagi (Rp 479.200.000) = 0.64 tahun. Tujuan analisis ini dikaitkan dengan ketersediaan dana likid yang selalu diperlukan oleh pelaku usaha dalam hubunganya apabila akan atau sedang menjalankan keputusan investasi.
Selanjutnya keputusan mana yang akan diambil oleh pelaku usaha masih sangat tergantung pada beberapa faktor lainya, seperti kondisi perusahaan, tingkat suku bunga dipasar dan faktor lainya yang baru dapat diketahui pada saat rencana investasi akan diadakan.
e.       Perencanaan Anggaran Pemodalan Dalam Praktek
Bagi sebagian besar pelaku usaha menjalankan usaha merupakan dan menjadi bagian dari kehidupan pribadi. Apa yang sedang terjadi pada perusahaan akan berdampak kepada kehidupan. Sebaliknya apa yang sedang terjadi pada kehidupan pribadi juga berpengaruh terhadap jalanya usaha. Kepada pribadi hampir tidak mungkin dipisahkan dari kehidupan usaha. Contoh nyata pada keputusan-keputusan yang akan dibuat, sangat dipengaruhi oleh kehidupan pribadi. Keinginan untuk dipandang terhormat dikalangan masyarakat juga tercermin pada keputusan yang menyangkut perusahaan.
a)      Sebagian besar pelaku usaha sering mengalami kesulitan likuiditas dan modal kerja. Dengan demikian maka kesulitan jangka pendek harus menjadi prioritas untuk diatasi. Jika hal ini selalu terjadi, maka perencanaan anggaran untuk investasi jangka panjang menjadi terabaikan.
b)      Ketidak pastian cash flow dalam usaha sering kali menjadi kendala dan membuat pelaku usaha merasa ragu-ragu untuk mengambik keputusan investasi jangka panjang. Investasi jangka panjang sering kali dipandang sebagai usaha yang sangat sulit untuk dilakukan.
c)      Ketertutupan sebagai perusahaan kecil menjadikan perusahaan kurang dikenal. Berbeda halnya dengan perusahaan yang telah Go Public.
d)     Proprosal proyek untuk perusahaan yang bersekala kecil sering dianggap kurang significan. Sementara bagi pelaku usaha kecil biaya untuk proyek proposal untuk usaha kecil dan usaha besar sama saja.
e)      Bakat kepemimpinan usaha kecil sangat langka. Demikian juga orientasi perusahaan kecil terhadap pelatihan dalam bidang teknik pengelolaan dan cara-cara mengatasi kendala kurang mendapat perhatian.
f.       Pertimbangan Lain Dalam Melakukan Ekspansi
Meskipun pelaku usaha memiliki peluang untuk melakukan investasi, yang akan digunakan untuk, mengembangkan produk baru, meremajakan armada kendaraan (truck,bus,kapal) atau mesin-mesin untuk usaha garment, memperluas daerah pemasaran untuk produk lama atau produk baru, membangun gedung baru dan lain (a) sebagiannya, kiranya perlu memperhatikan. (b) filosofi pertumbuhan perusahaan, (c) kendala-kendala dalam melakukan investasi, dan (d) kesempatan dalam mengumpulkan informasi. Penjelasan dalam diuraikan seperti berikut.
a)      Filosofi pertumbuhan perusahaan, merupakan harus menjadi dasar dalam melakukan investasi. Sebagian besar pelaku usaha cepat merasa puas dengan apa yang telah dicapainya. Mereka juga lebih menyukai usaha dengan skala kecil saja, karena itu dari waktu kewaktu tidak mengalami perubahan apalagi pertumbuhan. Namun sebagian lagi menginginkan perubahan dalam arti perusahaan meningkat menjadi besar. Pertimbangan untuk tetap pada skala kecil atau ingin tumbuh menjadi besar merupakan falsafah seorang pelaku usaha. Dalam Longenecer, Moore, Petty (1994), Carl Karcher, pendiri rumah Hamburger Calofornia pada tahun 1941, mengatakan ‘apabila perusahaan anda memutuskan untuk tidak ingin berkembang, maka hal itu merupakan tanda-tanda perusahaan anda akan berakhir. Bagi para pelaku usaha contoh diatas, seyogyanya menjadi bahan pelajaran dalam menerapkan falsafah ber-Wira-Usaha.
b)      Kendala dalam melakukan investasi, yang dihadapi oleh para pelaku usaha seyogyanya dihadapi sebagai hal biasa. Karena organisasi apapun akan selalu berhadapan denhan faktor lingkungan. Dalam dunia usaha faktor lingkungan memiliki dua muka yang saling bersebelahan. Muka yang pertama, membuka peluang bagi yang mampu melihatnya, sedangkan muka kedua memberikan kendala bagi yang ingin maju dan berkembang. Pengalaman menunjukkan bahwa peluang dan kendala atau hambatan akan selalu datang silih berganti. Biasanya kendala yang dihadapi pelaku usaha ketika akan melakukan investasi dalam rangka ekspansi adalah permodalan. Apa lagi apabila investasi tersebut ditujukan untuk membangun gedung, mesin-mesin, peralatan dan sebagainya. Namun harap juga tidak lupa, apabila masalah pendanaan dalam investasi telah terjawab, kendala lain biasanya muncul. Diantaranya, oleh karena gedung, mesin dan peralatan telah terpenuhi timbul kendala sumber daya manusia yang memiliki kompetensi lebih tinggi dari yang telah ada sebelumnya. Maka salah satu kunci dalam menghadapi hambatan atau kendala, mungkin pertimbangan ketiga berikut ini.
c)      Keinginan mengumpulkan informasi. Semua peluang harus dicari dan harus ditelusuri seteliti mungkin. Berapa lama suatu perusahaan harus tetap berjalan ditempat apabila tidak ingin berkembang. Kondisi yang demikian akan berdampak kepada reputasi perusahaan, karena terkesan tidak berkembang. Pelaku usaha harus berusaha keluar dari kegiatan rutin untuk mencari terobosan guna mendapatkan peluang. Pelaku usaha harus berusaha mencari informasi tentang semua hal yang relevan dengan visi dan misi perusahaan. Kolaborasi dan komunikasi dengan berbagai organisasi diluar perusahaan memberikan kemungkinan bagi pelaku usaha untuk memperoleh masukan yang sangat diperlukan dalam pengembangan usaha. Sering kita lihat beberapa pelaku usaha melakukan perjalanan ketempat-tempat yand dianggap mampu memberikan inspirasi dan informasi. Pengalaman selama perjalanan dan melihat bagaimana orang lain lebih berkembang akam memperluas cakrawala wawasan dan ini sangat berguna dalam menyiapkan impian baru dalam rangka pengembangan perusahaan. Sekali lagi informasi memang merupakan sumber daya yang harus senantiasa diperbaharui agar memperkaya pelaku usaha dalam melihat peluang maupaun mengatasi hambatan.
http://fortunerolalala.blogspot.com
Share this article :

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner