Home » » GAYA KEPEMIMPINAN KLASIK

GAYA KEPEMIMPINAN KLASIK

Written By Arif Sobarudin on Rabu, 21 November 2012 | Rabu, November 21, 2012



Gaya kepemimpinan klasik, adalah gaya yang paling umum yang digunakan untuk mengkatagorikan gaya kepemimpinan. Menurut White dan Lippit (Moeftie&Soebagio, 1986:70-71), yang mengadakan penelitian  menghasilkan ciri-ciri gaya kepemimpinan dimaksud sebagai berikut:
a.       gaya otoriter, dalam kelompok ini bawahan agresif dan apatis, suasana saling mengkambing hitamkan, anggota kelompok sangat bergantung pada pemimpin dan harus diperintah tidak ada inisiatip dan hasil kerja menurun. Ciri-ciri perilaku kepemimpinan otoriter serta reaksi bawahannya, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1).      Semua kebijakan ditentukan oleh pemimpin;
2).      Langkah kegiatan teknis ditentukan oleh pemimpin pada saat-saat tertentu, sehingga biasanya langkah-langkah berikutnya tidak ada kepastian;
3).      Pemimpin menginstrkuksikan tugas-tugas khusus dan anggota adalah pelaksananya;
4).      Pemimpin cenderung untuk mencela atau memuji secara personal dan tetap menjauhkan diri dari kegiatan kelompok.
b.       gaya demokrasi, suasana dalam kelompok lebih akrab dan saling menghormati. Hubungan dengan pemimpin lebih bersahabat dan berlandaskan hubungan tugas kedinasan. Bawahan bekerja terus sekalipun pemimpin tidak ada, produktivitas  meskipun tidak mencapai puncak, tetapi para bawahan menikmati kegembiraan kerja dan memanfaatkan pengalamannya. Hubungan kerja pola lebih baik dan positif, adapun cirri-cirinya adalah sebagai berikut:
1).      Semua kebijakan dibahas dan ditentukan bersama oleh kelompok dengan dorongan dan bantuan pimpinan;
2).      Gambaran kegiatan diperoleh selama masa pembahasan. Langkah-langkah umum kebijakan kelompok digariskan lebih dahulu dan jika dperlukan dapat meminta nasehat teknis. Pemimpin memberikan saran beberapa alternative prosedur yang dapat dipilih diantaranya;
3).      Para bawahan bebas bekerjasama dengan siapa saja yang mereka senangi. Pembagian tugas pekerjaan diserahkan kepada kelompok untuk ditentukan bersama;
4).      Pemimpin berpikir berdasarkan fakta dalam memberikan pujian atau kritikan. Serta berusaha memberi semangat tanpa banyak mencampuri urusan pekerjaan.
c.       gaya laissez faire, hasil kerja kelompok yang dipimpin oleh pemimpin pada gaya ini lebih memprihatinkan. Pegawai bawahan keadaannya frustasi dan bekerja ogah-ogahan. Main-main kurang kecintaan pada pekerjaannya, kelompok kerja ini menunjukkan rasa kurang puas. Dengan cirri-ciri sebagai berikut:.
1).      Kebebasan sepenuhnya diberikan pada bawahan untuk mengambil keputusan baik kepada kelompok maupun pada bawahan tanpa campur tangan pimpinan;
2).      Bermacam-macam bahan/data diberikan, pemimpin hanya memberikan bahan bila diminta saja, pemimpin tidak aktif dalam pembahasan bersama kelompok;
3).      Sama sekali tanpa partisipasi pimpinan;
4).      Pemimpin jarang memberikan komentar secara spontan atas kegiatan bawahannya, kecuali bila ditanya. Tidak ada usaha-usaha untuk menilai atau mengatur jalannya organisasi.
Gaya kepemimpinan diatas dalam pengembanganya kemudian oleh Gatto (Salusu, 1996:194-195) dikembangkan menjadi empat yaitu gaya direktif, gaya konsultatif, gaya partisipatif, dan gaya delegasi. Dengan ciri masing-masing gaya sebagai berikut:
1).      Gaya directive, pemimpin direktif pada umumnya membuat keputusan-keputusan penting dan banyak terlibat dalam pelaksanaannya. Semua kegiatan terpusat pada pemimpin, dan sedikit saja kebebasan orang lain untuk berkreasi dan bertindak yang diizinkan. Pada dasarnya gaya ini adalah gaya otoriter.
2).      Gaya consultative, gaya ini dibangun atas gaya direktif, kurang otoriter dan lebih banyak melakukan interaksi dengan para staf dan anggota arganisasi. Fungsi pemimpin lebih banyak berkonsultasi, memberikan bimbingan, motivasi, member nasehat dalam rangka mencapai tujuan.
3).      Gaya participative, gaya ini bertolak dari gaya konsultatif yang bisa berkembang kearah saling percaya antara pemimpin dan bawahan. Pemimpin cenderung member kepercayaan pada kemampuan staf untuk menyelesaikan pekerjaan sebagai tanggung jawab mereka. Sementara itu kontak konsultatif tetap berjalan terus. Dalam gaya ini pemimpin lebih banyak mendengar, menerima, bekerja sama dan mendirikan dorongan dalam proses pengambilan keputusan. Perhatian diberikan kepada kelompok.
4).      Gaya free-rein, gaya ini juga disebut gaya delegasi, yaitu gaya yang mendorong kemampuan staf untuk mengambil inisiatif. Kurang interaksi dan control yang dilakukan oleh pemimpin shingga gaya ini hanya bisa berjalan apabila staf memperhatikan tingkat kopetensi dan keyakinan akan mengejar tujuan dan sasaran organisasi.
http://dhenykurniawansstp.blogspot.com
Share this article :

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Entri Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner