Home » » Hubungan Pasar Barang Dan Kurva IS

Hubungan Pasar Barang Dan Kurva IS

Written By Arif Sobarudin on Jumat, 23 November 2012 | Jumat, November 23, 2012

Pasar barang adalah pasar dimana semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara dan dalam jangka waktu tertentu. Permintaan dalam pasar barang merupakan agregasi dari semua permintaan akan barang dan jasa di dalam negeri, sementara yang menjadi penawarannya adalah semua barang dan jasa yang diproduksi dalam negeri.
Dalam ekonomi konvensional, kesimbangan umum dapat terjadi apabila pasar barang dan pasar uang ada di dalam keseimbangan. Dalam keadaan keseimbangan umum ini besarnya pendapatan nasional (Y) dan tingkat bunga (i) yang terjadi akan mencerminkan pendapatan nasional (Y) dan tingkat bunga (i) yang seimbang baik di pasar barang maupun di pasar uang. Namun, dalam ekonomi Islam, system bunga dihapuskan.
Kurva IS menyatakan hubungan antara tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang muncul di pasar barang dan jasa. Kurva IS juga menyatakan “investasi” dan “tabungan”.
Dengan asumsi perekonomian tertutup, dimana ekspor adalah nol, maka pengeluaran yang direncanakan sebagai:
o    jumlah konsumsi C,
o    investasi yang direncanakan I,
o    pembelian pemerintah G.
E = C + I + G
Dimana : C = C(Y – T)
Persamaan ini menunjukkan bahwa konsumsi tergantung pada pendapatan disposibel (Y – T), yang merupakan pendapatan total Y dikurangi pajak T. Diasumsikan investasi yang direncanakan adalah tetap I, dan kebijakan fiskal-tingkat pembelian dan pajak pemerintah- adalah tetap G dan T. Sehingga dikombinasikan menjadi :
E = C(Y – T) + I + G
Selanjtunya perekonomian berada dalam keseimbangan (equilibrium) ketika pengeluaran aktual sama dengan pengeluaran yang direncanakan. Asumsi ini didasarkan pada gagasan bahwa ketika rencana orang-orang telah direalisasikan, mereka tidak mempunyai alasan untuk mengubah apa yang mereka lakukan. Mengingat Y sebagai GDP aktual tidak hanya pendapatan total tetapi juga pengeluaran total atas barang dan jasa, sehingga dapat ditulis kondisi keseimbangan sebagai :
Pengeluaran Aktual = Pengeluaran Yang Direncanakan
   Y      =         E
Dapat disimpulkan, kurva IS menunjukkan kombinasi dari tingkat bunga dan tingkat pendapatan yang konsisten dengan keseimbangan dalam pasar untuk barang dan jasa. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kanan. Perubahan-perubahan dalam kebijakan fiskal yang mengurangi permintaan terhadap barang dan jasa menggeser kurva IS ke kiri.
a)    Keseimbangan di Pasar Barang
    Penciptaan atau pengadaan barang diawali oleh  proses proses pengadaan yang di biayai oleh investasi. Besar kecilnya investasi nasional berdasarkan teori keynes sedikit banyak tergantung dari besar kecilnya tingkat tabungan nasional yang pola perilakunya bergantung pada tingkat suku bunga, sedangkan besar kecilnya tabungan bergantung pada besar kecilnya tingkat pendapatan nasional, sehingga dalam pasar barang yang sangat berperan adalah besar kecilnya tabungan dan investasi.
    Tabungan merupakan sisa dari pendapatan yang tidak di konsumsi (S = Y – C ), yang dalam jangka pendek fungsi tabungan itu adalah  S = -Co + s Y, di mana S adalah MPS sedangkan investasi adalah pengeluaran secara sengaja dalam rangka memperbesar kapasitas produksi untuk mendapatkan keuntungan ekonomi. Dengan demikian, investasi yang di bahas di sini adalah investasi induced ( bergantung pada tingkat suku bunga ) yang persamaan fungsinya dalam jangka pendek adalah          I = Io – er
                         di mana e adalah ∆I/∆r = marginal propensity of interest.


    Dalam hal tertentu memang tabungan bergantung pada tingkat pendapatan, tetapi apabila persamaan tabungan kita ubah maka bila S = -Co + s Y  akan menjadi Y = S/MPS + Co/MPS, artinya besar kecil tingkat pendapatan sedemikian hingga juga bergantung pada besar kecilnya tingkat tabungan yang ada. Demikian juga dengan investasi, bila dalam kenyataan tingkat investasi bergantung pada tingkat bunga, maka berikut ini tingkat bunga justru bergantung dari besarnya tingkat investasi dengan persamaan fungsi adalah  r = Io/e – I/e.
    Itu sebabnya dalam mekanisme pasar, hunungan antara tingkat tabungan dengan pendapatan dan hubungan antara tingkat investasi dengan suku bunga saling timbal balik, dan karenanya perlu dicari keseimbangan nilai suku bunga dan pendapatan nasional agar kondisi pasar barang relatif stabil. Untuk menyeimbangkan pasar barang tersebut, maka:
Bila S = -Co + Sy dan I = Io – er, keseimbangan terjadi bila I = S, sehingga : -Co + Sy = Io –er, Sy = Io + Co – er       er = Io + Co – Sy
Dengan demikian:
1.    Pendapatan nasional keseimbangan untuk pasar baramg adalah:

2.    Suku bunga keseimbangan untuk pasar barang adalah:



b)    Contoh soal untuk keseimbangan IS
Bila misalkan dalam suatu perekonomian indonesia tahun 1998 fungsi konsumsinya adalah C = 30 + 0,75 Y, dan fungsi investasinya adalah I = 10 – 10,5r maka keseimbangan pasar barang pada perekonomian tersebut akan terjadi bila pendapatan nasional adalah sebagai berikut:
Bial C = 30 + 0,75Y, maka S = -30 + 0,25Y
    Persamaan keseimbangan dalam pasar barang Y= 160 -42r artinya bial suku bunga naik sebesar 1%, maka pendapatan nasional akan berkurang sebesar Rp. 42, sebaliknya, bila suku bunga turun sebesar 1%, maka pendapatan nasional akan meningkat/bertambah sebesar Rp. 42, selanjutnya, dari persamaan di atas dapat diubah menjadi persamaan suku bunga keseimbangan, yaitu r=3,81- 0,042Y. dari persamaan ini dapat dijelaskan bahwa bila pendapatan nasional naik sebesar Rp. 1, maka suku bunga akan turun sebesar 0,042%, sebaliknya bila pendapatan nasional turun sebesar Rp.1, maka suku bunga akan naik/bertambah sebesar 0,042.
    Bila persamaan keseimbangan pasar barang tersebut digambarkan dalam suatu grafik terlihat seperti berikut (catatan: sebenarnya kurva IS tidaklah lurus sebagaimana gambar di bawah ini)


Perhatikan gambar di atas, tampak bahwa kurva IS berslope negatif, artinya terdapat hubungan terbalik antara pendapatan dan suku bunga, yaitu manakala suku bunga turun maka pendapatan nasional naik, sebaliknya, manakala suku bunga naik, maka pendaatan nasional turun.
    Berdasarkan persamaan diatas, maka dalam perkonomian indonesia tahun 1998 tersebut keseimbangan pasar barang hanya akan terjadi pada batas suku bunga tertinggi pada tingkat 3,81% dan tingkat pendapatan tertinggi berada pada Rp. 160. Dengan demikian, bila terdapat suatu kekuatan baru yang mampu membawa tingkat suku bunga berada di bawah 3,81% dengan pendapatan nasional yang besarnya berada di atas 160, maka perekonomian akan mengalami ketidakseimbangan sementara (berdasarkan fungsi konsumsi dan investasi semula). Dengan demikian akan ditentukan keseimbangan berikutnya.
    Untuk pembuktian, jika suku bunga sebesar 2% , maka Y= 160-42(1)= 118, BILA r =2% maka Y = 76, bila r = 2,5% maka Y = 55, bila r = 5% maka Y = -50 dan seterusnya, bila angka ini dimasukkan dalam persamaan investasi dan tabungan maka:
1.    Untuk r = 1% maka Y= 118 S = -30 + 0,25 (118) = I = 10 – 10,5 (1) = -0,5
2.    Untuk r = 2% maka Y= 76 S = -30 + 0,25 (76) = I = 10 – 10,5 (2) = -11
3.    Untuk r = 2,5% maka Y= 55 S = -30 + 0,25 (55)
= I = 10 – 10,5 (2,5) = -16,25
4.    Untuk r = 5% maka Y= -50 S = -30 + 0,25 (-50) = I = 10 – 10,5 (5) = 42,5
5.    Bila Y = 170 maka r = -0,24 (hanya contoh angka) S = -30 + 0,25(170) = I = 12
Perhatikan bahwa manakala suku bunga dan tingkat pendapatan nasional seperti yang terdapat pada nomor 1 dan 2, maka I = S. artinya terjadi keseimbangan di pasar barang. Akan tetapi, manakala suku bunga berada di atas 3,82 %, seperti yang tertera pada nomor 4 dan 5, meskipun I = S, tetapi keseimbangan berada di luar batas garis kesepadanan IS berdasarkan fungsi awalnya sebagaimana diperlihatkan dalam gambar berikut.

Sebagaimana yang dapat di lihat pada gambar di atas. Tampak bahwa keseimbangan yang disebabkan r > 3.81 dan Y> 160 berada pada garis kesepadanan IS di luar kuadran I ( koordinat negatif ), yang dapat di artikan sebagai suatu yang maya. Dengan demikian keseimbangan terbaik di pasar barang untuk kasus C = 30 + 0,7Y dan I = 10 – 10,5r adalah bila suku bunga di antara 0 –3,81 dan pendapatan nasional antara 0 – 160 karena masih berada dalam garis kesepadanan IS dalam kuadran I.
Menurut Mankiw, sebenarnya tidak dapat dijelaskan adanya hubungan lansung antara suku bunga dan pendapatan nasional sepanjang kurva IS tersebut. jadi, kurva IS hanya menunjukan fungsi anatara
Kurva IS dapat juga di bentuk dengan cara menurunkan kurva yang berkaitan. Kuadran I adalah kurva fungsi investasi yang berslope negatif, karena hubungan berbanding terbalik antara suku bunga dan investasi. Sedangkan kuadran II adalah kurva kesepadanan (45o) yang menunjukan bahwa antara investasi dan tabungan mengalami keseimbangan.
Kuadran III adalah kurva tingkat tabungan yang berasal dari pendapatan. Kurva ini berslope positif, artinya manakala pendapatan meningkat, maka tabungan akan juga meningkat. Begitu juga sebaliknya. Kuadran IV adalah kurva IS yang berslope negatif, yaitu keseimbangan pendapatan nasional dan suku bunga di pasar barang.    
http://danang-leo-handoko.blogspot.com
Share this article :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Informasi Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner