Home » » Pengelolaan Modal Kerja

Pengelolaan Modal Kerja

Written By Arif Sobarudin on Selasa, 27 November 2012 | Selasa, November 27, 2012

Pengelolaan modal kerja melibatkan kas, piutang usaha, hutang usaha, persediaan dan pinjaman jangka pendek. Guna memberikan pemahaan kepada para pelaku usaha yang ingin memperdalam pengetahuan tentang pengelolaan modal kerja, pada pembahasan selanjutnya lebih dititik beratkan pada usaha manufaktur. Yang dimaksud dengan usaha yang sifatnya manufaktur disini adalah usaha yang didalam proses kegiatan operasionalnya terjadi transformasi sejumlah sumber daya seperti bahan baku, bahan pembantu, tenaga kerja, informasi dan unsur lainnya menjadi barang jadi. Sebagai contoh, untuk membuat sebuah baju lakik-laki dewasa pada usaha garment, terjadi transformasi proses pemotongan, ide tentang model penggunaan sejumlah bahan baku seperti kain, kancing, benang, tenaga yang mengerjakan, penggunaan mesin, listrik, waktu dan unsur lainnya. Untuk jenis usaha yang memproduksi produk jasa, perlu dilakukan penyesuaian dan pemahaman seperlunya namun secara prinsip sama.
Pengertian modal kerja adalah jumlah kekayaan atau aktiva lancar, seperti kas atau uang tunai di peti kas dan di bank, piutang usaha dan persediaan bahan baku, bahan pembantu, dan barang jadi, ditambah kewajiban atau pasiva lancar, seperti hutang usaha dan pinjaman jangka pendek. Dengan demikia maka manajemen modal kerja merupakan semua kegiatan dalam rangka pengelolaan aktiva lancar dan pasiva lancar.
Perputaran modal kerja adalah rangkaian kegiatan aliran sumber dana yang berupa akun-akun modal kerja. Seperi  telah disebutkan diatas, bahwa akun-akun modal kerja terditi dari kas, piutang usaha, persediaan hutang usaha dan pinjaman jangka pendek.

a.      Pengelolaan Arus Kas
Intisari tugas manajemen dalam pengelolaan arus kas adalah melakukan monitoring terhadap arus kas. Dalam bisnis yang sehat arus kas masuk dan kas keluar harus berjalan lancar. Sebaliknya apabila terjadi ketidak lancaran dalam arus kasm pengelola usaha harus menjadikan kondisi ini sebagai indikasi bahwa telah terjadi kekurang sehatan usaha. Sebagai contoh, arus kas masuk terjadi ketika produsen menjal barang atau jasa kepada konsumen, dan arus kas keluar terjadi ketika perusahaan melakukan kegiatan operasional. Kegiatan operasional disini termasuk didalamnya kegiatan melakukan investasi. Investasi inipun memiliki pengertian yang luas, antara lain, seperti penyertaan, pembangunan infrastruktur guna memperoleh ambahan pendapatan bagi kegiatan usaha. Apabila hal ini dijalankan, maka kegiata arus kas akan menjadi seperti berikut,
Rounded Rectangle: Kegiatan Investasi LainnyaRounded Rectangle: Kegiatan OperasionalRounded Rectangle: Lembaga PembiayaanRounded Rectangle: Penggunaan Dana PerusahaanRounded Rectangle: PEMEGANG SAHAMRounded Rectangle: Hasil Usaha Opr & Inv.
Dalam rangka menjaga keseimbangan antara arus kas masuk dan arus kas keluar, maka perlu diatur dan dipahami oleh seluruh unit kerja yang terkait. Dalam kegiatan usaha baik arus kas masuk maupun arus kas keluar terjadi melalui berbagai transaksi dan mutasi.
b.      Pengelolaan Piutang Usaha
Piutang usaha merupakan kekayaan perusahaan yang berupa tagihan kepada pelanggan atau rekananlainnya. Dengan demikian kekayaan di perusahaan belum berupa kas tunai melainkan masih berupa dokumen-dokumen penagihan, yang berupa nota, faktur, kuitansi, dan sejenisnya. Oleh karena itu perlakuan yang baik, dalam arti diadministrasikan secara teratur dan terjaga keamanannya. Mutasi dan pembukuan yang terjadi setiap saat yang harus dicatat dengan cermat dan konsisten.
Pengaruh piutang usaha terhadap kas sangat besar, karena apabila piutang dapat ditagih atau dibayar oleh pelanggan, maka jumlah kas meningkat. Sebaliknya apabila tagihan tidak berhasil ditagih maka posisi kas meningkat. Pengalaman dalam praktek, menunjukkan bahwa semakin tua usia piutang semakin sulit ditagih. Oleh karena itu setiap pelaku usaha harus berusaha untuk memperpendek usia piutang. Usaha menagih piutang usaha harus secepat mungkin yang apabila perlu kepada tertagih berikan insentip agar bersedia membayar lebih cepat. Dalam kondisi sulit dan kondisi terdesak pelaku usaha dapat menggadaikan piutang kepada lembaga pembiayaan untuk mendapatkan sejumlah tunai.
c.       Pengelolaan Hutang Usaha
Hutang usaha merupakan kebalikan dari piutang usaha. Usaha merupakan kewajiban perusahaan kepada pemasok dan rekanan lainnya, yang berupa membayarkaan sejumlah kas sesuai dengan syarat-syarat pembelian. Biasanya dalam syarat pembelian jangka waktu pembayaran telah ditentukan. Apabila perusahaan membayarkan kewajibannya maka posisi kas perusahaan berkurang. Sebaliknya selama hutang belum dibayar, maka posisi kas perusahaan tidak mengalami perubahan. Hutang menjadi masalah apabila kewajiban bayar telah jatuh tempo, tidak tersedia dana untuk menyelesaikan kewajiban membayar. Guna mengatasi masalah tersebut, pelaku usaha dapat melakukan negosiasi dengan pemasok. Negosiasi dalam dilakukan dengan mencoba memperingatkan kewajiban membayar, mulai penangguhan waktu bayar, mengajukan potongan, sampai dengan re-negosiasi ulang mengenai syarat-syarat pembayaran. Biasanya para pemasok bersikap kooperaif menghadapi pelanggannya yang mengalami kesulitan. Hal ini disebabkan pemasok juga menginginkan pelanggannya mampu mengatasi masalahnya.
d.      Pengelolaan Persediaan
Persediaan adalah sejumlah material yang meliputi bahan baku, bahan pembantu dan barang jadi yang belum sempat dideliveri kepada pelanggan. Ketersediaan persediaan sangat menentukan terhadap kelangsungan proses produksi. Keterlambatan atas persediaan akan mengganggu proses produksi dan apabila tidak segera diatasi akan berpengaruh terhadap pemasaran perusahaan. Jumlah persediaan yang terlalu besar tidak selalu menguntungkan, bahkan bisa sangat merugikan. Jumlah persediaan yang terlalu besar, berarti uang yang tertanam juga besar namun tidak produksi. Disamping itu persediaan yang terlalu besar mengandung resiko, seperti kerusakan, kebanjiran, kebakaran dan atau dicuri  orang. Oleh karena persediaan harus dikelola dengan tepat.
Dalam praktek sering terjadi pelaku usaha menimbun persediaan terlalu besar, dengan alasan karena khawatir pesanan meningkat sementara persediaan telah menipis. Alasan lain karena hubunganyang baik dengan pemasok, mendorong pelaku usaha untuk membeli lebih banyak. Alasan lainnya, seringkali pemasok juga membuat perusahaan meerasa khawatir terhadap kenaikan harga dengan mengatakan beli sekarang, karena harga akan naik. http://fortunerolalala.blogspot.com
Share this article :
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

Pasang Iklan

Kunjungan

TERBARU

Informasi Populer

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner