Home » , » PROSTITUSI DI DAERAH YOGYAKARTA

PROSTITUSI DI DAERAH YOGYAKARTA

Written By Admin Bisosial on Rabu, 27 Maret 2013 | Rabu, Maret 27, 2013

jogja
Sebuah ironi, gaya hidup, atau memang tuntutan ekonomi yang kian hari kian terasa berat dan menyesakkan. Sebuah bisnis yang tak mengenal kata rugi, yang tak akan pernah hilang walaupun dengan fatwa-fatwa dari lembaga keagamaan atau cibiran yang tidak menyenangkan dan hukuman moral dari masyarakat yang bersih ataupun yang pura-pura bersih. Yogyakarta, sebuah provinsi yang sering dikenal sebagai kota budaya, kota pelajar, Indonesia mini dan sebagainya. Banyak hal dari Kota Jogja yang sangat menarik untuk ditelusuri, dibahas, diperdebatkan dan tentunya, dinikmati. Banyak yang berkata bahwa, sebuah kota metropolitan mempunyai berbagai macam sisi yang kelam, tetapi setau saya, Jogja bukan merupakan sebuah kota metropolitan. Setidaknya itu yang telah diketahui masyarakat banyak melalui media televisi dan sebagainya. Namun, jika ditilik lebih lanjut, ditelusuri dan dinikmati, Jogja juga mempunyai kehidupan yang hitam, yang kelam yang kejam. Berbicara tentang kenikmatan duniawi yang katanya haram, Kota Jogja memiliki banyak tempat yang dapat mewujudkan keinginan-keinginan nakal seperti itu. Bagi mahasiswa-mahasiswa yang kebetulan terlahir sebagai anak dari orang tua yang seperti tak pernah keabisan uang, tempat-tempat hiburan malam menjadi tempat untuk
melampiaskan segala macam penat. Atau mungkin hanya untuk mencari gengsi yang semakin dibutuhkan dewasa ini. Lalu apa yang dicari? Menurut pengalaman saya, mabok dan joged bukan merupakan tujuan utama, namun yang menjadi tujuan yang sebenarnya adalah sex! yup!! Dengan bermodal jutaan rupiah, dan ketika berada di dalam cafe, dengan memesan minuman luar negeri, atau ungkapan gaulnya yaitu open bot, maka niscaya cewek-cewek manis nan sexy bakal muncul dan merapat menuju table kita. Tak perduli bagaimanapun tampang dari si pemesan. Maaf, tapi memang kenyataannya, rata-rata cewek-cewek yang kebetulan mengecam pendidikan di Jogja mencari tipe cowok-cowok gaul yang berduit. Tidak semua, tapi jika ingin diprosentasekan, mungkin jumlahnya mencapai 80 %. Perawan? Anda bisa menebaknya sendiri. Tetapi bukan hal itu yang akan kita tekankan sekarang, melainkan bisnis esek-esek yang semakin menjamur di Kota Jogja. Sarkem, siapa yang tidak mengenal kompleks PSK terbesar dan yang paling terkenal di Kota Jogja. Entah legal atau ilegal, namun tempat ini telah bertahuin-tahun menjadi icon Kota Jogja selain Malioboro dan Tugu. Lokasi yang strategis yaitu dekat dengan stasiun Tugu dan Malioboro membuat tempat ini semakin ramai dikunjungi, terutama oleh mahasiswa-ahasiswa yang ingin melepaskan hasrat, atau suami-suami yang mungkin kurang terpuaskan oleh istrinya. Sarkem tidak lain adalah merupakan singkatan dari sebuah nama jalan. Jalan pasar kembang. Entah mengapa namanya seperti itu, setau saya, tidak ada satupun penjual kembang yang mangkal di sana. Kalau anda ingin mencari kembang berbagai jenis, carilah di Kota Baru. Tidak jauh memang. Harga yang ditawarkan dari pegawai (saya meyebut pegawai agar kelihatan lebih halus) Sarkem sangat bervariasi. Mulai dari 50 ribu hinggga 120 ribu. Mulai dari yang baru lulus SMA sampai yang maaf, sudah hampir bau tanah. Para pegawai ini biasanya nongkrong di dalam sebuah gang berlambangkan kupu-kupu. Dengan menyewa kamar-kamar yang memang sengaja di sewakan oleh pemilik rumah-rumah yang ada di dalam gang tersebut. Selain sarkem yang sangat terkenal, Kota Jogja juga masih banyak memiliki tempat-tempat prostitusi yang terselubung. Kali ini saya akan coba membahas tentang prostitusi yang berkedok salon kecantikan. Ada puluhan salon yang tersebar di daerah Jogja, Mulai dari sepanjang ringroad Utara Jogja (daerah Maguwoharjo) dari arah bandara menuju ke barat, Jalan kaliurang, Salon depan UPN Condong Catur, Jalan Monjali, Tentara Pelajar, Jalan Kabupaten, Wonosari, Jalan Solo dan mungkin masih banyak lagi yang belum tersentuh. Mereka menggunakan salon sebagai kedok menawarkan pelayanan sex yang menggiurkan. Salon-salon seperti ini sangat mudah untuk diketahui, biasanya mereka memajang spanduk bertuliskan, perawatan tubuh dan kecantikan. Ketika masuk, kita hanya perlu bilang ingin massage. Memang, di dalam bilik-bilik yang telah disediakan di dalam salon, kita akan di berikan pijatan-pijatan yang tidak biasa. "Mau pijit biasa atau yang plus-plus Mas?". Biasanya mereka akan bertanya seperti itu. Kita tinggal memilih saja. "Kalau karaoke 70 ribu-100 ribu Mas. Kalu maen 150 ribu-200 ribu sekali maen." Sekali lagi, semua tergantung pilihan kita sendiri. Kalau sarkem biasa memulai aktivitasnya sejak matahari terbenam, salon biasanya memulai aktivitas dari pagi hingga petang. Ada lagi yang menawarkan diri melalui iklan baris di koran. Coba saja Anda baca koran lokal kolom iklan. Coba Anda cari iklan-iklan pengobatan. "Anda ingin rilex, capek2, pegel2?segera hubungi winda 085227756***, dijamin anda akan puas dan tidak menyesal, bisa ditempat/dipanggil." Seperti itulah kiranya iklan yang terpampang di koran. Jika melihat seperti ini, siapakah yang hendak kita salahkan? Atau apakah ini memang salah? Apa tidak ada pekerjaan yang lainnya? Atau memang tidak ada lagi pekerjaan yang bisa dikerjakan oleh mereka? Tingkat pendidikan yang rendah, trauma masa lalu, gaya hidup atau tuntutan ekonomi?Haram? Halal? Sangat tipis perbedaan di antara semua itu.

CIBLEK. Itu sebutan untuk pelacur ABG di Yogyakarta. Singkatan dari cilikan betah melek.


Rinda, adalah salah satu ciblek yang hampir setiap hari mangkal di sebuah mal kawasan Malioboro. Ia putri seorang dosen sebuah perguruan tinggi terkenal di Yogyakarta.


Gadis manis satu ini minggat dari rumah orang tuanya karena merasa terlalu dikekang. "Di rumah terlalu banyak larangan. Tidak boleh ini, tidak boleh begitu. Rasanya seperti di penjara," katanya.


Karena itu ia memilih untuk tinggal di rumah kos. "Rasanya lebih bebas. Bisa melakukan apa saja. Pokoknya seenak sayalah," ujarnya sambil tertawa lepas.


Ia sangat menikmati kehidupannya sebagai ciblek "Naik mobil, tidur di hotel, makan di tempat yang mewah, dan sebagainya," katanya.


Kendati melek sampai larut malam, Rinda terbiasa bangun pagi-pagi untuk berangkat sekolah. Ia sangat pandai menyembunyikan 'profesinya'. Kalaupun kepergok teman sekolah atau tetangganya di mal tersebut, ia tidak terlalu khawatir. Karena di Yogyakarta terlalu banyak anak-anak remaja yang nongkrong di pusat-pusat keramaian seperti itu.


Lalu bagaimana cara Linda menggaet pria hidung belang? "Tidak terlalu susah. Saya tahu dari cara dia melirik. Lalu saya senyum sedikit, dia juga tersenyum. Biasanya kalau pria sudah tersenyum, langsung mendekatkan diri. Ya kemudian jalan," cerita Rinda.


Para ciblek di Yogyakarta memiliki beberapa tempat mangkal. Mereka bisa ditemukan di sebuah mal di kawasan Malioboro, di Jl Perwakilan atau di kawasan Senisono.


Para remaja yang biasa nongkrong di tempat tersebut, menurut Rinda, rata-rata ciblek. Antara pelajar dan mahasiswi, punya kelompok sendiri-sendiri, sehingga tidak saling mengusik.


Untuk mendekati mereka, sebenarnya tidak terlalu gampang, meski tidak sulit. Para ciblek ini biasanya lebih suka diajak berkenalan, makan-makan baru kemudian transaksi.


"Tapi kami bukan pelacur," katanya. Ia menyebut dirinya sebagai gadis remaja yang mencari kesenangan. "Kalau pelacur, kan mau dibawa ke mana saja dan oleh siapa saja yang penting diberi uang," ujarnya.


Tapi Rinda selalu memilih-milih teman kencannya. Dia lebih suka pria yang ganteng dan berpenampilan rapi. "Pria terlalu tua juga saya hindari. Kalau 40 tahun ke bawah okelah. Malu rasanya dengan bapak-bapak. Takut terbayang orang tua sendiri," katanya.


Khusus di kawasan mal, para ciblek bisa ditemukan di kedai makanan atau di dekat WC umum. Sedangkan di kedai kopi yang ada di kawasan itu ditemukan hombreng atau gay yang juga dari kalangan remaja.


Sedangkan di Senisono, kebanyakan adalah ciblek yang berbaur dengan anak-anak jalanan. Sementara di Alun-alun Utara lebih banyak kaum homo. Kawasan lainnya yang mulai marak dengan pelacuran anak-anak adalah Alun-alun Selatan.


Tri, 17 tahun, salah satu ciblek 'penghuni' Alun-alun Selatan. Pengalaman pertamanya melayani pria diperoleh tidak jauh dari tempat tinggalnya.


Ia tinggal di Yogya Selatan yang pernah menjadi lokalisasi. "Kakek saya memang punya kopel di SG. Ibu saya juga membantu," katanya. SG merupakan sebutan untuk Sanggrahan, kawasan resosialisasi para pelacur di Yogyakarta yang kini telah tergusur untuk pembangunan terminal bus.


Kendati masih sangat belia, Tri cukup pandai memainkan harga jika ada yang menawar. "Kalau mereka tanya ya saya jawab Rp 100.000 sekali main," katanya. Tapi tarif yang dipasang Tri bukanlah harga mati. Biasanya kalau sudah diajak makan atau nonton oleh calon teman kencannya, harga akan turun sampai Rp 25.000.


Soal harga, seorang pria yang sering menjadi perantara ABG di Alun-alun Selatan, mengatakan, harga bisa ditekan serendah mungkin. Bahkan bisa gratis.


Caranya? "Diakrabi dulu, ajak puter-puter, mabuk three in one baru jipan, paling mahal no ban go atau Rp 25.000, sudah bisa disebut" kata Zuma, pria muda yang sering menjembatani transaksi ABG itu.


Three in one adalah istilah untuk menyebut mabuk dengan pil, minuman keras, dan sekaligus ganja. Istilah ini sering pula diganti dengan tiga dimensi. Sedangkan ebut istilah untuk hubungan badan.


Setiap malamnya, Tri biasanya mengantongi Rp 15.000. Tapi kalau musim 'panen', penghasilannya bisa berlipat-lipat. Yang dimaksud musim 'panen', bila kegiatan besar di Yogyakarta, baik berskala nasional maupun internasional termasuk kegiatan olahraga, mereka akan mendapat banyak pesanan. "Kalau ada kegiatan seperti ini, kami bisa mendapat Rp 250.000 selama tiga hari," katanya.


Yang biasanya menggunakan 'jasa' mereka pada hari-hari biasa adalah para remaja yang rata-rata memiliki uang saku yang cukup.


Lain lagi cerita Tiyas, yang biasa mangkal di sebuah kafe di Jl Perwakilan jika yang mengajaknya itu orang yang tampak memiliki uang yang cukup banyak, mengggunakan mobil, dan bahkan melengkapi diri dengan handphone serta belum kenal, bisa mematok harga Rp 100.000 sekali main.


"Tapi kalau sudah kenal baik, harga bisa dikorting," katanya. Tapi Tiyas lebih suka berkencan dengan pria yang sudah dikenal alias telah berkali-kali berhubungan dengannya.


Menurut Tiyas yang masih sekolah di sebuah SLTA, berhubungan dengan pria yang belum dikenal terutama anak-anak sekolah atau mahasiswa, lebih banyak susah daripada enaknya.


Seperti yang pernah dialaminya, sejumlah pria remaja mengajaknya ke rumah kost, lalu diajak minum sampai mabuk. Setelah itu dikencani ramai-ramai.


"Sudah itu digabur atau dilepas begitu saja di suatu tempat yang cukup sepi," katanya.


Lokasi yang paling sering dijadikan tempat untuk nggabur adalah Ring Road Selatan, yang relatif sepi dan jauh dari pemukiman penduduk.


Setelah kejadian itu, Tiyas menceritakan kepada teman-temannya. Ternyata pengalaman serupa juga pernah dialami oleh temannya. "Jadi kalau pelajar atau mahasiswa yang datang, siap-siap saja untuk kecewa," katanya.


Bagaimana membedakan pelajar dan mahasiswa dengan pria yang sudah bekerja? "Kalau pelajar atau mahasiswa datangnya rombongan. Kalau yang sudah bekerja, biasanya sendirian," ujarnya.


Karena 'pintu' sudah tertutup untuk mahasiswa dan pelajar, menurut Tiyas, biasanya mereka mengencani pelacur liar yang biasa beroperasi di Alun-alun Utara.


'Ciblek Lanang' Melayani Wanita Kesepian


CIBLEK lanang. Sebutan untuk ABG pria yang menjual diri di Yogyakarta. Seperti juga gadis remaja, mereka juga anak sekolah dan punya tempat mangkal sendiri-sendiri.


Mereka bersedia melayani siapa saja, pria homo atau wanita kesepian. Ciblek lanang yang rata-rata pelajar SLTA dan mahasiswa, juga banyak mangkal di mal dan pusat-pusat keramaian lainnya.


"Banyak pelancong wanita yang kesepian. Ya, mereka mencari kami untuk menemaninya jalan-jalan dan tidur di hotel," kata Koko, ciblek yang sekolah di sebuah SMU di Yogyakarta itu menjelaskan. Pelancong wanita yang sering menggunakan 'jasa' mereka kebanyakan datang dari Jakarta.


Wanita 'pemburu' ciblek lanang rata-rata berusia muda. "Ada juga berumur 40 tahun. Dan sepertinya mereka sudah bersuami. Tapi soal itu kami tidak pernah tanyakan kepada mereka," kata Koko.


Selain melayani pelancong, Koko juga kerap menemani para mahasiswi di rumah-rumah kontrakan atau kamar kos. "Bila melayani mahasiswi, saya sering diminta memakai kondom," ujarnya.


"Tapi kalau dengan pelancong, jarang pakai kondom. Saya tidak tahu, mereka suka polos," ujarnya.


Tarifnya? Untuk mahasiswa rata-rata Rp 25.000 . Paling rendah Rp 15.000, "Tapi Rp 10.000 juga jadi kalau ceweknya cantik," kata Koko. Sedangkan untuk pelancong wanita, Koko memasang tarif Rp 50.000 sampai Rp 100.000.


Ciblek lanang tampil sebagai 'pemain AC DC'. Selain melayani wanita, juga melayani pria homo.


Bila 'menjaring' pria homo, mereka mencari mangsa di Alun-alun Utara dan di sebuah restoran di Jl Pasar Kembang. Mereka lebih luka dibawa pria bule.


"Orang bule itu tidak pelit,'' kata Koko. Ia menjelaskan, para bule kebanyakan 'mengencani' mereka relatif cukup lama. ''Kalau mereka di Indonesia seminggu, kami dipakai seminggu pula. Tidak jarang diajak ke mana-mana,'' ujarnya.


Koko, pria kelahiran Semarang itu, menjelaskan untuk aktivitas seksualnya dengan para homo selain sodomi juga oral seks. Bahkan tidak jarang '69'. Istilah ini untuk menyebut melakukan oral seks secara berbarengan.


Kendati lebih menyukai pria bule, mereka juga sering mendapat 'order' dari pria lokal. Dari para homo, biasanya mendapat uang saku antara Rp 50.000 - Rp 150.000 serta ditambah ajakan makan di restoran serta menikmati udara luar kota.


Para ciblek lanang ini pada dasarnya terbagi dua jenis. Koko menjelaskan, ada satu kelompok homo yang berperan dirinya sebagai wanita, namun ada yang berperan sebagai pria. Yang sebagai wanita, ujar Koko, tidak harus berdandan seperti wanita, tetapi kegenitannya memang seperti wanita, dan mencari pasangan yang gagah. Sedangkan yang berposisi sebagai pria tentu akan mencari yang genit-genit.


Kenapa Koko bisa menyukai pria sekaligus wanita? Sejak kecil dirinya memang sudah menyukai sesama jenis. ''Saat saya sekolah di Yogyakarta ini, rekan duduk sebangku saya kebetulan hombreng. Dia yang mengajak saya mengenal dunia yang lebih luas. Tapi sebagai laki-laki saya juga sangat tertarik kepada wanita,'' katanya.


Lain lagi cerita Dedy, pria yang sering mangkal di sebuah kafe di Jl Pasar Kembang. Putra seorang perwira menengah di Jakarta yang kini sedang menyelesaikan studinya di sebuah perguruan tinggi negeri di Yogyakarta mengaku melayani pria homo hanya kesenangan semata.


Dedy 'menjajakan' dijalani sejak berada di Yogyakarta. Meski demikian, Dedy mengaku kenal dengan kehidupan homoseksual sejak masih duduk di SLTP. Saat itu, katanya, ia sering diberi uang dan diajak ke tempat-tempat permainan anak-anak oleh tetangganya. ''Ini saat papah masih dinas di Surabaya,'' katanya. Oleh tetangganya inilah, Dedy mendapat kenikmatan homoseksual dan itu keterusan.


Lalu kenapa menjual diri? Dedy menjelaskan, semula memang tidak sengaja. Saat bersama-sama dengan rekan-rekan, ia sempat diajak 'main' oleh kenalan barunya. ''Bahkan saya jadi pacarnya selama beberapa bulan,'' katanya.


Setelah putus dengan 'pacarnya' itulah, Dedy merasa kecewa dan bersamaan pula dengan makin seretnya kiriman dari orangtua, terpaksa mencari tambahan biaya. "Biaya kuliah serta bahan-bahan praktek sekarang harganya sangat mahal," katanya.


Melayani pria homo, jelasnya memang bukan tujuan utama. Karenanya, katanya, tarif yang dipasang pun tidak selalu disodorkan. "Kalau saya mau melayani dan dia juga baik, kenapa harus pasang harga. Biasanya mereka tahu dan memberi tips setelah main," katanya.


Pendapatannya memang tidak tinggi, rata-rata per bulan sebesar Rp 750.000 sesudah dikurangi biaya obat-obatan yang diperlukan. Ia sendiri mengaku tidak terlalu suka dengan orang-orang bule. Alasannya? Para bule agak kasar.


Seperti halnya Koko, ciblek lanang lainnya, Andi yang mengaku berasal dari Cirebon melayani pria homo sudah sekitar tiga tahun. Katanya, melayani para bule lebih mengasyikkan. Apalagi, dua tahun lalu sempat diajak jalan-jalan ke Swiss oleh pasangan bulenya, sekadar untuk menikmati liburan.


Orang-orang bule, lanjutnya, biasanya mengajak main dengan sepenuh hati. Artinya, mereka menikmati dan menjalani kehidupan seksualnya 'sangat manusiawi'. "Pakai foreplay, cium-ciuman, sebelum main. Bahkan setelah main, mereka masih peduli. Beda dengan orang kita sendiri yang maunya langsung, habis itu pisah," katanya.


Bersama-sama orang bule ini, ucapnya, biasanya selama mereka berada di Yogya akan menjadi pasangan tetapnya. Bahkan tidak jarang harus menemani ke obyek-obyek wisata yang menarik.


"Memang tidak ada tarif yang ditawarkan, tetapi orang bule ini senang menghambur-hamburkan uang. Seminggu bersama mereka bisa meraih uang kontan US$100 atau bahkan lebih, belum termasuk hadiah khusus seperti pakaian, jam tangan dan sebagainya," katanya.


Berbeda lagi dengan Daniel. Pria keturunan kelahiran Medan ini dengan tegas mengungkapkan, jika mau meong harus bayar. Meong merupakan istilah di kalangan mereka untuk bermain seks. Baik itu anal maupun oral atau sekadar 'GGK' atau gesek-gesek kelamin.


Daniel yang masih duduk di sebuah SMU swasta di Kota Yogyakarta mengungkapkan, untuk sekali ajak yang biasanya dari malam sampai pagi, biasanya ia mendapatkan Rp 150.000.


http://wasisa.blogspot.com
http://jogjanews.com
Sumber foto: kecoabahagia.blogspot.com
Share this article :

Kunjungan

Update

LOWONGAN KERJA

 
Copyright © 2011 - 2013. BERBAGI ILMU SOSIAL - All Rights Reserved | Supported by : Creating Website | MENOREH.Net - Media Partner